Khalwat Kita

Di kolong tenda kaki lima minim kata-kata, serpihan letih terjaring.

Lensa matamu memantulkan oranye sari wortel dalam gelas. Cerahnya bercerita padaku tentang tanah yang subur dan aroma pupuk kandang serta pasar.

Sementara itu, matamu berkhotbah padaku. Makin teruk hangat di dadaku oleh tatapan bak daging asap dan susu. Aku lupa bahwa daging itu pernah melenguh. Hasratku pada kehangatan itu sekelas cintamu pada sapi-sapi yang kau perbaiki kandangnya dan kaki gembalanya kau basuh.

Kau menyisihkan kejumu untuk ditaruh di atas pastaku. Rasanya aku lebih baik pergi. Sementara kau lebih baik bersiul di kota di atas lembah. Melagukan khotbah di antara burung-burung. Hingga menggelepar bahagialah mereka.

Aku belum jadi abu sampai kudengar dua telapak kaki bergesekkan di bawah meja. Aku jadi ingat alasnya. Kasutmu sudah ditukar dengan roti gandum bagi para pengemis dengan luka menganga. Kelak, mereka berdoa dalam peribadatan panjang meminta kasut, tongkat, dan jubah yang abadi untukmu.

Di bawah tenda kaki lima berbau serbuk bambu, lukaku hampir kering.

Nestapaku ketika kau dikepung asap bakaran ikan wangi tajam mentega. “Harusnya kau damai di gua-gua. Bersama alam tak bernoda.” Aku malu. “Tempatku di mana saja; di antara makhluk yang berdoa.” Ayat-ayatmu membuat Tuhan memasang kabut di mataku.

Ingin aku duduk di gunung karang yang karam di belikatmu, tempat ibumu pernah istirah. Namun aku mesti hengkang. Bersegera meniti buih, menghindari rebah berkepanjangan karena di situ, para pengikut berjaga.

Akhir ziarahmu, bentara raja agung, berakhir bersama lembayung. Sesaat kemudian kau datang lagi membawa bibit herba supaya kesembuhan mengada bersama borok-borokku.

Berkali-kali kau mati dan bangkit. Tiap sua, kau berujar “Salam jumpa, saudari yang baik!” Kekasihku, aku masih saja terbenam dalam dosa.

Okt-Nov 2016

Featured image Bali, 2008

Sampai Jadi Debu*


 Sebelum kau bersegera malam tadi

wangi asap menguar

dari lubang pengeras suara

yang banyak, dempet, menjijikkan

Ketika kau pamit untuk tidur

senafas hela antara mabuk dan kantuk

nafasmu memburu

menggebuki hingga pecah layar monitor

Bahkan ketika pagi menggusur

tembok-tembok spasial

yang serampangan menghadang,

asap masih berbayang di dekat bulu mata.

“Salahkah kumenuntut mesra?”

menderu badai, kemudian

merontokkan bulu halus dalam kuping.

“Sampai kita tua, sampai jadi debu”

takkan kucabut penyuara kuping

menunggu kemesraan yang selalu sebatas dituntut.

November, 2016


“Sampai Jadi Debu” adalah salah satu judul lagu Banda Neira.