Tentang Aura

IMG_20171020_130604

Aura (Alifa) Asmaradana kelahiran Serang, Banten 1993. Jatuh cinta pada puisi “Dingin Tak Tercatat”-Sapardi dan menghapalnya di luar kepala pada usia lima. Menulis catatan harian sejak bisa menulis, menulis cerita pendek dan esai sejak sekolah menengah pertama. Ketika duduk di sekolah menengah atas menulis novel pendek pertama berjudul “1994” tak lain karena  tugas kenaikan kelas dari Ms. Tetty, sang guru bahasa dan sastra Indonesia.

Pernah magang di Kompas Muda tahun 2010. Menjadi juara dua lomba esai di Universitas Widyatama di tahun yang sama dengan judul esai “Kampus Idaman dan Pendidikan Indonesia”. Karya-karya yang pernah dimuat di media massa di antaranya:

Cerpen “Nomor Satu” dimuat di harian Tribun Jabar Minggu 21 Agustus 2011

Esai “Pemuda Peduli Iklim: Bersatu, Peduli, dan Beraksi!” dimuat di suplemen Kompas Kampus Selasa, 15 November 2011

Esai “Keberanian Aung San Suu Kyi” dimuat di Rubrik Podium harian Tribun Jabar Selasa, 29 Mei 2012

Esai “Kemanusiaan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan” dimuat di Rubrik Podium harian Tribun Jabar Senin, 12 November 2012

Cerpen “Lumut” dimuat di harian Pikiran Rakyat Minggu, 21 September 2014

Cerpen “Di Bawah Bayang Palma” dimuat di harian Pikiran Rakyat Minggu, 16 November 2014

Beberapa esai terbaru Aura dapat dibaca di Qureta. Klik [DI SINI] untuk membaca. Turut menulis pula di media online: voxpop.id dan geotimes.com.

Kumpulan cerita pendek pertama berjudul “Solo Eksibisi” diterbitkan dengan bantuan Nulisbuku.com.

Aura tertarik dengan isu-isu sosial, politik, dan budaya. Selain menulis, Aura mencintai membaca, bermain teater, memasak, mendaki gunung, dan tentu saja, bermain dengan dua malaikat kecilnya, Apriori dan Agathon.

Sekarang Aura sedang belajar menulis puisi. Beberapa puisi ada di blog ini dan di notes kecil kesayangan. Beberapa puisi dapat dibaca di SINI dan di SINI.

Aura sedang menggarap novel perdananya dibantu oleh beberapa kawan. Aura bisa dihubungi melalui alamat surat elektronik aurasmaradana@yahoo.com atau akun Twitter @aurasmaradana. Nomor Whatsapp? Ask.

Advertisements

32 thoughts on “Tentang Aura

  1. komen dikit ya…
    soal Tuhan sudah mati???
    Oh ya ada film berjudul “when Nietzsche wept” sudah nonton?
    selamat bereksplorasi dengan kata-kata dan jangan bosan-bosan ya

    makasih

  2. salam kenal… baru buka web anda dan tertarik dengan tulisan2 filsafat, terutama permenungan dari rm driyarkara. berharap masih tetap bisa membaca dari blog anda ini. beribu terima kasih

  3. Salam kenal aura, terimaksih ya tulisan tentang “Filsafat Hukum Kontemporer: Berpetualang dalam Perdebatan Formalisme dan Realisme Legal”, luar biasa, sy susah sekali memahami keranga berfikir HLA. Hart tapi kamu dengan gamblang mengurai..

    1. Hai, Fadel, salam kenal. “Blog paling sastrawi” itu pujian atau gimana ya? Hahaha. Terima kasih. Saya menikmati tulisan-tulisanmu lho.

      1. Aih, pujian itu mbak. Jarang2 bisa ketemu blog rasa sastra sekental ini. Bisa jadi tempat belajar belantara kalimat dan kata (y)

        Senang ada yang menikmati 🙂

      1. Tanpa syiar sajaksajak
        Manusia yang menghayati pertemuannya dengan realitas
        Sudah jadi penyair

        Apalagi yang menulis syair
        “Mata salah melihat apa yang tangan perbuat”

        Harus kusebut apa?

        Ehehe 😉

      2. Pertanyaan retoris “Harus kusebut apa?” membuatku terpekur dalam renung mahadalam. Terima kasih seribu sang novelis, cerpenis, dan esais terbeken dengan tulisannya yang kece.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s