Balada: Mimpi Seorang Perempuan

Satu hari masih dini, seorang perempuan bermimpi. Tentang hari pertama usia dua empat yang ceria. Dewasanya dirayakan di bak terbuka sebuah mobil. Kedua mata ditutup selendang hitam. Teman serta kekasih memintanya begitu. Ke mana mobil hendak membawa, itu rahasia.

Sebelum tenggelam dalam penasaran, perempuan mengintip. Jalanan tanpa hambatan berarti, tapi tak lengang jua. Tetiba perempuan itu sadar: seorang anak sekira usia lima berlari mengikuti mobil. Rambut keriting warna tanah membentuk lingkaran-lingkaran. Hidung bangir. Mata cerlang. Napas nyaris habis namun tak niat berhenti.

Perempuan melompat dari mobil, meraihnya. Alhasil si anak tenang dalam dekap. Orang-orang terkasih perempuan mengejar, memekik tak putus, mungkin takut kehilangan. Perempuan tak peduli, malah berlumur sesal: jika tak penasaran dan mengintip, hidup anak itu niscaya lelah payah mengejarnya.

Di depan sebuah gerbang—di tengah riuh upacara besar—perempuan itu melihat lelaki yang dikenalnya. “Tolong, saya dikejar. Saya tak diperkenankan menyelamatkan anak ini.” “Pergilah. Urusanmu bukan urusanku.” “Apa yang akan terjadi pada dia, coba? Ha!” Laki-laki itu—yang tak pernah menanggalkan jubah wibawa—bersabda minim penuh selubung. Maksud hati supaya perempuan berbalik saja.

Perempuan berjibaku pikir tentang binar afirmasi di mata lelaki—meski mulutnya selalu menidak. Lelaki berpaling begitu saja sembari benahi tesmak. Seringan dandelion kering.

Di dalam diri perempuan, renjana koyak sebelum tumbuh. Hatinya dipalu godam. Ia berlari menuju biara di ujung sebuah lorong panjang. Ia lebih sakit ketika berlari sebab adanya patahan hati tajam-tajam.

“Saudara, saudara! Ada orang?” Langkahnya terhenti di undakan pertama sebuah tangga. “Saya tidak boleh naik ke atas, bukan?” “Ya!” Seru seseorang yang mencondongkan tubuhnya dari atas. “Tunjukkan saja di mana bilik kosong.” “Bilik kosong? Itu.” Bahkan udara ikut panik dan tercekat. Perempuan dan anak masuk ke dalam bilik di sudut. Pintu ditutup, sang perempuan mengintip di jendela. Dadanya lapang. Para pengejar henti sudah.

Lantai licin, hati kelabu. Perempuan menyibukkan diri merapikan benda-benda, berdoa yang indah-indah bagi anak dan bilik untuk istirah itu—sebelum akhirnya terbangun dari mimpi.

2458168-YOUEHADI-7

Confessions of a Guilty Priest-Steve Salo

Penampikan laki-laki di gerbang masih terngiang. “Urusanmu bukan urusanku.” Beserta dengan kalimat-kalimat berselubung. “Jikalau Aku menghendaki supaya ia tinggal hidup sampai Aku datang, itu bukan urusanmu.” Ke mana pula arah jalan mimpi hendak membawa perempuan itu?

Puluhan jam perempuan membuka kitab, mencari makna isyarat-isyarat. Bukan hanya dari mulut. Pun gelombang perbukitan di rambut, aliran sungai kering di dahi, senyum miring tebal, lambai janggut pula tak kalah, hingga menyipitnya mata sang laki-laki.

Dari kaum yang tak percaya hingga yang percaya; dari kisah murid khianat hingga murid kesayangan; dari konsep-konsep—kebinasaan dan hidup yang kekal—hingga mukjizat; dari awal hingga akhir. Namun perempuan tak menemukan apa-apa yang berarti sungguh. Ia berhenti mengkaji, “Urusan mimpi bukan urusanku.”

Cileunyi, 03 08 2017

Tentang Buah Bambu

Buah bambu adalah sebuah blog. Lahir bulan Maret 2017. Undangan untuk menulis di Buah Bambu datang setelah saya nongkrong selaras dengan gelap di Kopitaro, kota Palu. Kopitaro adalah sebuah tempat yang melampaui kedai kopi—secara spasial, namun ia juga tempat yang mengembalikan kopi pada khitahnya.

Di Kopitaro, menikmati kopi bagai menikmati moke—minuman keras dari pohon enau. Minum kopi memantik api diskusi yang berlarut-larut. Efek minum kopi di mana pun memang bisa begitu, namun Kopitaro menyediakan ruang yang sehat bagi diskusi itu. Di sana ada orang-orang berpikiran terbuka nan kritis. Di sana ada buku-buku. Di sana—meski sebagiannya tanpa atap—ada kehangatan yang dirawat.

Buah bambu adalah media ekspresi lain teman-teman di Kopitaro. Mereka yang tak sempat datang ke Kopitaro bisa menulis di Buah Bambu. Blog itu mengumpulkan ide-ide yang tercecer di tempat-tempat yang tidak bisa mempertemukan tubuh.

whatsapp-image-2017-06-19-at-01-36-07-e1497812964525.jpeg

Untuk membaca lebih lanjut, sila kunjungi http://buahbambu.blogspot.co.id/

Saya belum saja bertanya tentang penamaan Buah Bambu, namun begitu yakin terhadap kaitannya dengan keyakinan legendaris bahwa orang Kaili—sebagaimana Sawerigading dalam epos La Galigo—berasal dari bambu kuning. Maaf, tentang ini saya harus mengandalkan Google, sebab tak punya bahan baca yang cukup tentang Sulawesi Tengah.

Sawerigading, anaknya, I La Galigo, dan anjing peliharaanya, Buri, dikisahkan pernah merantau mengunjungi lembah Palu yang terletak di pantai barat Sulawesi. Buri adalah seekor binatang yang garang. Ia adalah kunci keberhasilan pertengkaran I La Galigo dengan Nili Nayo, seorang Ratu Sigi. Akibatnya, laut menjadi mundur sehingga menciptakan danau.

Saya kembali harus minta maaf. Selain tak punya otoritas untuk bercerita tentang kisah asal muasal manusia itu, saya juga tak dapat referensi yang cukup. Namun, saya cukup terpikat olehnya. Sebab berarti, memilih nama Buah Bambu adalah alasan yang cukup eksistensial bagi kawan-kawan di Palu.

Sepilihan tulisan sudah tayang di Buah Bambu. Hingga kini, saya masih berharap menulis dijadikan satu alternatif bagi teman-teman di Kopitaro untuk membebaskan diri sementara dari kegelisahan. Mengapa sementara? Karena kegelisahan itulah yang saya yakini membuat Kopitaro menjadi tempat yang hangat bagi ide-ide untuk saling berlarian, bertabrakan, kemudian bergelimpangan.

Di tengah hasrat saya untuk mengkampanyekan ide-ide di berbagai media alternatif daring, saya bertekad untuk terus menulis di Buah Bambu. Supaya Buah Bambu hidup meski akhirnya hanya saya seorang diri yang menulis di situ—yang semoga tidak terjadi.

Setiap orang tentu butuh dilihat dan didengar sesuai kadarnya masing-masing. Dengan nangkring di Kopitaro yang hanya buka pukul empat sore hingga dinihari—kemudian menulis di Buah Bambu yang kini minim viewers—saya malah merasa cukup. Kadang-kadang, merasa cukup itu berarti merasa layak untuk terus hidup.

Salam.

Perkara Intim Para Radikal

Dua orang tertembak mati dalam pertempuran. Seorang aparat tertembak pula. Tapi tak sampai mati. Di pegunungan biru, realitas segalanya terkait dengan pelarian dan baku tembak. Dan kematian.

Bagi beberapa orang lain, pegunungan biru adalah menahan nafsu seksual. Sejak komandan mengajak mereka jihad, mereka bak tenda-tenda nomaden menahan hujan dan gemuruh badai.

“Jihad itu meninggalkan anak dan istri, tapi apa, nyatanya dia bawa istrinya kemari.” Di kepala yang berujar itu, terpasang ingatan tentang tangan-tangan gemulai yang berlatih menembak dengan AK-47. Tak bisa diduga ada bentuk bibir seperti apa di balik cadar. Mungkin ketika senapan meletus, para istri komandan mengembangkan senyum terlebarnya. Senyum terseksinya.

Seperti samar senyum di malam Jumat lalu, ketika malam belum sepertiga. Mereka berjaga di depan lubang milik tenda terpal. Sang komandan—apalagi istrinya—sudah masuk tenda sejak malam masih kanak. Sungguh rentetan adegan yang menyesakkan dada.

Para pengintip rindu rumah. Rindu terhadap rasa yang beberapa dari mereka bahkan belum pernah cicipi. Hutan benar-benar sepi. Beberapa desah spontan mengalir melalui lubang-lubang yang tak sengaja dikoyak angin. Pelan sekali. Telinga para kombatan membesar seperti milik Desperaux. Serta bagian tubuh lain yang membesar, mereka pulang ke tenda dan kolong bebatuan yang dingin. Masing-masing. Sendirian. Sebab jihad adalah siap berjuang sendiri, meninggalkan anak dan istri.

Alina terperangkap cerita tentang para kombatan di pegunungan itu sejak sore hari. Cerita itu diperolehnya dari seorang aparat negara yang bertugas keluar masuk pegunungan Biru. Cerita itu menarik karena dirasa miris.

Alina juga jadi ingat bahwa lingkungan kampus masih ramai kasak-kusuk. Para penuntut negara agama berkeliaran, pamer bendera di sudut-sudut lingkungan akademis. Tersebar di media sosial. Juga di hati para aktivis NKRI yang gandrung nasionalisme. Anti terhadap homogenitas.

Alina memandang lagi laki-laki yang tertidur di sampingnya. Karisma berpendar di sekitar kening lembabnya. Aroma pernis furnitur kayu di kamar itu tercium. Wanginya menempel di vitrase yang lebih tebal dibandingkan dengan nafsunya yang menggebu.

Malam memang belum larut. Tapi aura kekitaan yang ada di kamar itu sudah merebak mesra. Bukan mesum. Sebab ada dakwah dalam setiap ucap sayang laki-laki di hadapannya. Keberadaan mereka dan pelukan-pelukan hangat adalah perkara spiritual.

Bangun dari lelapnya, sang laki-laki gegas ke kamar mandi setelah menciumnya setengah bibir di batang hidung. Alina menutup ujung jari kaki hingga leher dengan selimut yang bau keringat. Lepas dari bulir-bulir air, sang lelaki memakai kembali koko, celana berbatas mata kaki, dan kopiahnya yang wangi parfum arab. Ia segera meninggalkan Alina, setelah sebelumnya meninggalkan uang di atas meja rias. Sang lelaki menutup pintu pelan-pelan.

Langkah Alina terseret di hadapan gerombolan perempuan dengan gamis. Mereka berdiskusi di bangku taman semen, mungkin membahas tentang modernisasi dan liberalisme yang terkutuk. Mata-mata nyalang memelototi Alina yang berjalan pelan—setelah sang lelaki dan Alina keluar dari tempat kos yang sama, dengan wajah yang sama-sama lelah tapi bersih.

Ketika itulah Alina menerima suara doa. Sunah rasul yang dibawa angin menuju liang telinganya. Terbayang kembali olehnya sentuhan kulit dan gumpal bulu-bulu selimut. Alina tersenyum diam-diam. Ia membayangkan setan—yang kata sang lelaki—tertangkal, tak bisa ikut serta berasyik-masyuk bersama mereka.

Alina menawar ongkos ojek di pangkalan untuk membawanya ke bandara. Bersegera ia pulang ke rumah untuk memulai akhir tahunnya yang sementara bebas dari pekerjaan.***

Featured image diperoleh dari https://www.pinterest.com/pin/365354588504020855/