Dari Lokaria ke Desa Sikka Siang itu, 13 November 2018 pukul setengah sepuluh pagi, saya dan Eka belum meninggalkan Lokaria. Maumere panas seperti biasanya. Namun angin yang berhembus mengingatkan saya akan jejak hujan yang datang di malam sebelumnya. Kami duduk santai di atas ademnya keramik kuburan yang terletak tepat di samping rumah. Bagi banyak orang […]

via Menikmati Kesederhanaan di Desa Sikka — Latunglawang

Tentang Kita, Manusia yang (Selalu) Kalah

Saya tidak punya data tentang jumlah manusia yang pernah dikalahkan oleh rasa malu atau merasa kehilangan kehormatan dirinya. Rasa malu dan perasaan tak berharga tersembunyi jauh di dalam diri manusia. Satu-satunya hal yang bisa manusia lihat adalah tindakan yang diakibatkan olehnya. Tak jarang, sialnya, tindakan itu berupa penghilangan nyawa, pembunuhan.

Saya pun tidak punya angka yang menunjukkan jumlah manusia di muka bumi yang mati akibat terbunuh rasa malu. Tapi saya begitu yakin, kalau malu bisa menyebabkan seseorang membunuh, itu berarti orang tersebut sedang berada pada kejatuhan hidup ke jurang paling mengerikan dalam hidupnya. Setiap orang tentu pernah jatuh, bukan? Perbedaannya hanyalah batas-batas terluar kejatuhan itu.

Beberapa orang sanggup bertahan setelah dibanting beberapa kali; beberapa lainnya tak kuat meski dibanting satu kali saja. Beberapa orang kecewa pada dirinya sendiri, lantas ia berpikir dan jadi lebih taktis dengan hidupnya; beberapa lainnya kecewa pada dirinya sendiri, kemudian memadamkannya dengan menghilangkan nyawa. Tak ada yang aneh dengan kedua ekstrem itu. Semesta terlalu baik untuk menerima apapun yang dilakukan manusia terhadap sesamanya.

Saya pikir, kepercayaan manusia terhadap kodrat baik juga mempengaruhi hal-hal itu. Sini, biar saya kisahkan sesuatu.

Alkisah, hiduplah seorang anak yang tinggal di tanah Cina pada 403-221 SM. Ia adalah Mensius. Ia tumbuh dewasa di situasi perang—ketika kekacauan terjadi karena penguasa lokal saling berusaha mendominasi. Ketika itu, peperangan melemahkan segalanya. Selain melemahkan ritual sebagai sistem sosial dan politik, juga melemahkan orang-orang di zaman itu. Di situasi semacam itu, orang-orang mati terbunuh, terjadi pula pergumulan politik, kekacauan moral, bahkan konflik-konflik intelektual. Negara dan kehidupan pribadi masyarakatnya sama-sama berantakan.

Beruntung, Mensius tinggal bersama seorang ibu yang bijaksana. Mereka pindah rumah beberapa kali karena ibunya merasa lingkungan rumah pertama dan keduanya, kuburan dan pasar, tidak cukup baik untuk perkembangan anaknya. Maka, sang ibu memilih rumah di dekat sekolah supaya putranya bisa sekolah dengan baik.

Suatu hari, ketika ibunya sedang menenun kain, Mensius pulang sekolah lebih awal. Sang ibu tahu bahwa Mensius telah bolos dari sekolahnya. Dengan segera, sang ibu mengambil pisau dan memotong kain yang sedang ditenunnya. Itu adalah peringatan supaya putranya belajar dengan sungguh-sungguh sebab apabila tidak, maka ia akan seperti kain tenun yang tak terpotong dan tak ada guna.

Mensius toh akhirnya tumbuh sebagai seorang bijak. Ia menjadi seorang guru besar—dikenal dengan Guru Meng. Walau keadaan kacau karena peperangan, Guru Meng justru yakin pada keberadaan kodrat baik manusia. Buktinya, manusia selalu merasakan ketidaktegaan ketika melihat manusia lain terluka.

Ketidaktegaan itu kompleks. Ada berbagai unsur yang terkandung di dalamnya, yakni sebuah perasaan tersengat rasa ngeri dan perasaan sakit atau ikut merasa sakit. Kedua hal tersebut spontan keberadaannya dan tanpa pertimbangan pribadi apapun.

Argumentasi dasar Guru Meng ini bagi saya sangat khas manusia. Bahkan hingga dewasa ini, kita seringkali terjebak dalam cara berpikir logis yang menuntut untuk menimbang-nimbang untung dan rugi ketika bertindak. Beberapa gelintir orang bahkan memilih menjadi utilitarian. Manusia yang berada dalam golongan itulah yang disinyalir masuk ke dalam golongan “bukan manusia”. Sebab menurut Guru Meng: tanpa hati yang mampu berbagi derita, ia bukan manusia; tanpa rasa malu, ia bukanlah manusia; tanpa mendahulukan orang lain, ia bukan manusia; tidak bisa bedakan benar-salah, ia bukanlah manusia pula.

Anda boleh tak sepakat pada pemikiran ekstrem Guru Meng, namun kita patut mengakui kejeliannya dalam melihat kecenderungan manusia menghadapi kekerasan. Pemikirannya—di tengah kekacauan dan kejatuhan—masih bisa kita akui di tahun ini, ketika teknologi informasi menyediakan berita tentang kekerasan dengan begitu banal. 15 Juli lalu, kita disuguhkan berita tentang DW, seorang ibu yang membunuh bayi kembar perempuannya.

Bayi kembar yang baru lahir itu tewas. Keyakinan Guru Meng tentang kodrat manusia itu mungkin membuat kita bertanya, adakah perasaan tersengat itu melihat sepasang tubuh mungil tergeletak di pinggir gang, kedinginan tanpa pelukan, apalagi nikmat air susu? Mengapa warganet bisa merasa tersengat, ngeri, dan sakit hati melihat foto jenazah bayi itu, tetapi ibu kandungnya sendiri tidak merasa tergerak?

Setelah menanyakan itu, boleh jadi kita bersama-sama mencaci maki DW—seperti yang kita lihat bertebaran di media sosial—menuduhnya bukan manusia yang berkodrat baik. Boleh jadi kita mengadili perkara moralitasnya sebagai seorang pembunuh, bahkan juga sebagai seorang pencinta.

Bagi saya, baik kita maupun DW, sama-sama telah kalah. Rasa malu sekaligus rasa kecewa terhadap diri sendiri telah berhasil menenggelamkan DW. Ia ketakutan sampai kehilangan kepercayaan terhadap kekuatan kasih dan maaf. Betapa ironis: seorang kekasih tak percaya pada kasih. Sementara itu, orang-orang yang mencelanya telah dikalahkan oleh kepercayaan diri yang begitu kuat.

Meski dasarnya saya adalah seorang pesimis yang sulit mengalah pada dendam dan amarah, tapi saya punya pengalaman dirangkul berkali-kali oleh orang yang stok maafnya segunung. Maka, saya pun percaya bahwa kekuatan kasih dan maaf itu bisa eksis—walaupun tidak semua orang mampu memilikinya.

Terdapat satu masa perang yang kacau di mana Guru Meng berhasil menemukan teori tentang kodrat baik dan jadi guru besar. Di sisi lain, terdapat pula masa kejatuhan dan penyesalan di mana DW terantuk dan merasa tak punya pilihan selain membunuh. Manusia senantiasa kalah oleh situasi: perang, kegagalan rumah tangga, penyakit akut, patah hati, dan sebagainya. Tapi tak ada satu pun masa di mana manusia sendirian. Persis karena ketidaksendirian itulah manusia bisa menang dalam hidup.

DW dan kita sama-sama pernah jatuh. Ya, memang manusia tidak bisa menggantungkan diri sepenuhnya pada kontrol sosial sebab kita pun memerlukan kemandirian dan kematangan pikir. Namun, selagi masih ada kesempatan, saya pikir penting bagi kita untuk bertanya: untuk orang-orang di sekitar, sudahkah kita menjadi seperti ibunda Mensius—yang sebelum dan setelah jatuh menyediakan diri sebagai tempat pulang dan bersandar orang-orang malu dan kecewa?***

Featured image: Mother and Child Study, Picasso (1940)

 

Orang Baik #4 (Habis)

Babak IV

Adegan I

LAMPU MENYALA. RADHA MENGGUMAMKAN NYANYIAN. YATI MELAKUKAN CPR. MIGUEL MEMBERIKAN PIDATO. MASING-MASING BERADA DI BAGIAN PANGGUNG BERBEDA.

MIGUEL

Terima kasih, Bapak Menteri, bapak-bapak dan ibu-ibu, teman-teman, untuk kehadiran dan dukungan yang telah diberikan. Ide untuk membangun bagian perawatan anak dimulai dalam suatu percakapan sederhana, sebuah mimpi. Hari ini, hal itu berubah menjadi kenyataan. Ketika saya mulai bekerja di sini sekitar satu tahun lalu, saya membuat sebuah target untuk diri saya sendiri, untuk membuat perubahan. Saya tidak tahu apakah saya sudah mencapai target itu, tetapi dukungan Anda semua, afirmasi Anda semua, telah membuat perubahan untuk diri saya sendiri. Gedung perawatan anak akan menjadi tempat di mana keluarga dapat menciptakan memori yang tiada akhir, membagi tawa, dan air mata, serta menemukan kedamaian di babak akhir kehidupan.

(Jeda)

Saya hendak menyimpulkan dengan berkata bahwa sebagaimana perayaan perkembangan dan pembangunan, momen ini juga menjadi perayaan kehidupan anak-anak yang oleh Tuhan telah diajak pulang ke tempat-Nya. Gedung ini saya persembahkan untuk mereka. Bapak Menteri, suatu kehormatan apabila Anda berkenan untuk meresmikan gedung ini.

YATI BERHENTI CPR. RADHA BERHENTI MELAKUKAN CPR. BOBBY SUDAH MENINGGAL. SEKARANG MEREKA SEMUA BERSAMA.

YATI

Bagiku, Bobby akan selalu ada. Setiap pekan, Bobby selalu ada. Bobby pertamaku. Aku ingat ketika datang ke pemakamannya. Setiap orang menangis. Di sana ada peti mati kecil. Aku duduk di baris paling belakang. Ibu Bobby melihatku. Ia bilang, tunggu, buka, buka petinya. Mereka membuka peti itu. Ibu Bobby tersenyum dan berkata, dek, lihat siapa yang datang. Suster Yati di sini. Suster Yati mau bilang selamat tinggal pada adek. (Jeda) Dia kelihatan sangat senang.

(Jeda)

YATI

Aku mundur, Miguel. Kau mau menghemat dana, silakan. Aku mundur.

LAMPU PADAM

Adegan II

PAGI HARI, MIGUEL, YATI, DAN RADHA BERADA DI TAMAN. PONSEL MIGUEL BERDERING. DIA MENJAWABNYA.

MIGUEL

Halo? (Jeda) Maaf, soal itu saya no comment.

RADHA

Nyamuk-nyamuk sungguh merusak keindahan taman ini.

YATI

Aku biasa mematikan ponsel setiap kali datang kemari.

MIGUEL

Ada kemungkinan kau dijerat pasal jual beli narkoba. Itu yang kamu mau? Hukuman mati?

RADHA

Aku sudah punya hukuman mati sendiri, kanker.

YATI

Cerita saja pada mereka, dari mana kau dapat barang itu? Siapa yang mengirimkanmu brownies itu?

RADHA

Dewa. Dewa-dewa biasa mengkonsumsi kanabis. Soma. Soma adalah simbol budaya, bahkan itu ditawarkan pada Shiva. Dia dikenal mengisap mariyuana. Mereka bahkan meminumnya. Bhang namanya. Dibuat dari daun kanabis, susu, almond, sari mawar. Bhang biasa dikonsumsi para bakta, jadi mereka bisa meditasi, melantunkan pujian, mencapai kebahagiaan, menyatu dengan Shiva.

MIGUEL

Itu semua mitos masa lalu.

RADHA

Semua itu ada dalam Veda. Mandala kesembilan dalam Rigveda itu dikenal sebagai Soma Mandala. Ia sepenuhnya terdiri dari himne yang didedikasikan untuk soma yang dimurnikan.

MIGUEL

Itu kepercayaan pagan.

RADHA

Pagan… Bagaimana kau memaknai pagan? Seseorang yang menganut agama politeistik? Atau mereka adalah orang selain Kristen, Yahudi, atau Muslim?

YATI

Untuk kami, memakai narkoba adalah haram.

RADHA

Daripada kau mendengar apa yang orang katakan padamu, silakan baca lagi sejarah, Yati. Dulu, hashish sangat diuliakan oleh Muslim.

MIGUEL

Kamu tidak bisa menjadikan sejarah sebagai tameng. Kamu tidak bisa mengatakan “oh, Veda menganjurkan kita menggunakan narkoba, maka aku bisa menggunakannya.”

RADHA

Mariyuana bukan narkoba. Mariyuana itu herba. Aku punya hak budaya untuk mengkonsumsi jamu-jamuan kuno. Aku punya hak ilahiah untuk melanjutkan tradisi dewa-dewa. Oh, dewa…

YATI

Radha, semua yang kau katakan ini… Ya, aku percaya padamu, tapi sekarang hukum kita berbeda. Hukum di sini berbeda dengan hukum di Amsterdam. Hukum di sini bahkan berbeda dengan hukum yang lalu-lalu.

RADHA

Aku tanya, kenapa hukum kita berubah? Aku tanya, kenapa hukum di sini berbeda dengan di tempat lain? Seluruh dunia sedang bicara tentang menggunakan mariyuana untuk manajemen rasa sakit, mereka bicara tentang melegalkan mariyuana… dan di sini yang ada malah hukuman mati! Tidak ada yang mempertanyakan itu.

MIGUEL

Oh, jadi, apa yang sesungguhnya kau ajukan? Legalisasi mariyuana? Membuatnya tersedia untuk semua orang?

RADHA

Ya, setiap orang harus punya akses untuk mariyuana kalau mereka mau. Agamamu boleh saja melarang itu, agama-agama para politisi boleh saja melarang itu, tapi ya itu jadi masalahmu, bukan masalahku.

MIGUEL

Tak ada kaitannya dengan agama! Ini tentang pengobatan yang murni dan sederhana. Kau membawa kemuliaan untuk para penggunaan mariyuana, supaya barang itu bisa diterima.

RADHA

Dan kau mau terus mengutuknya—memakai pengetahuan yang buruk, supaya kau bisa menakut-nakuti orang melakukan apa yang kau mau mereka lakukan.

MIGUEL

Kita lihat faktanya…

RADHA

Fakta!

MIGUEL

Efek sampingnya, gejala-gejalanya.

RADHA

Lalu bagaimana dengan rokok? Rokok juga adiktif. Kenapa tidak menghukum mati perokok? Alkohol, juga. Ayo kita hukum mati alkoholik. Mereka tidak bisa melakukannya karena ada terlalu banyak uang yang terlibat dalam pajak keduanya. Mana hal yang paling memabukkan yang dapat menghasilkan uang paling banyak? Kalau kamu minum alkohol, mabuk, berkendara, lalu menabrak mati seseorang, siapa yang akan dihukum karenanya? Siapa yang dapat hukuman mati? Ia hanya seorang inosen yang mencoba menyeberang jalan. Kamu bisa keluar penjara hanya dalam waktu beberapa tahun. Jadi, katakan, iblis mana yang paling hebat? Apa yang dikatakan ilmumu tentang hal itu?

MIGUEL

Kalau aku punya kesempatan, aku akan melarang semuanya: narkoba, rokok, alkohol, dan menghukum para penggunanya.

RADHA

Itu mengapa kau bukan politisi, sayang, karena ini bukan tentang etika, ini semua tentang ekonomi. Dua kata cukup mewakili: Integrated Resort.

PONSEL MIGUEL BERBUNYI. JEDA.

MIGUEL

Halo? Saya tidak butuh credit card lagi. Tidak, tidak. Iya, saya tidak peduli itu gratis seumur hidup atau tidak, saya hanya…

YATI MEREBUT PONSEL MIGUEL

YATI

Sekali tidak, ya tidak!

YATI MENUTUP TELEPON

YATI

Aku minta maaf harus pergi.

RADHA

Mau ke mana?

YATI

Bernyanyi. Aku akan mencari gig fulltime. Bernyanyi setiap malam. Lalu Insha Allah, suatu hari kami akan rekaman album. (Jeda) Aku akan sangat merindukan tempat ini.

MIGUEL

Tempat ini juga akan merindukanmu.

YATI

Kau tidak percaya pada Tuhan. Kamu hanya percaya bahwa dirimu adalah Tuhan.

MIGUEL

Segala hal yang saya lakukan ada prinsipnya. Setiap tindakan saya dilatarbelakangi oleh masa lalu, oleh hidup saya. Saya tahu apa yang benar dan salah. Saya tahu siapa yang saya sukai dan saya benci.

RADHA

Jadi, kau membenciku karena kau pikir aku punya banyak uang?

YATI

Aku tidak punya banyak uang, tapi dia membenciku juga.

MIGUEL

Memangnya hal buruk apa yang sudah saya lakukan? Apakah saya tidak mengubah tempat ini menjadi lebih baik? Apakah saya tidak menggalang dana untuk pembangunan gedung perawatan anak? Apakah saya tidak pura-pura buta ketika mendapatimu sedang mengisap ganja? Bahkan bukan saya yang melaporkanmu, melainkan dia. Setelah semua itu terjadi, kamu, Yati, malah lari dan memberi dia barang terlarang itu. Selama ini saya diam saja sementara nyawa saya sebetulnya bergantung di ujung kuku… pada dewan, pada media. [Pada Radha] Sekarang, kamu sekarat, [pada Yati] kamu pergi. Kamu tidak punya hak apapun lagi, jadi sebaiknya diam! Berterima kasihlah pada saya, tutup mulutmu, lalu pergi.

PONSEL MIGUEL BERBUNYI. DIA MENJAWABNYA SEMMBARI MENJAUH. PAUSE.

RADHA

Aku diberi tahu tentang kanker ini bukan oleh dokter, tetapi oleh suamiku. Aku sedang istirahat di ranjang. Dia berjalan padaku dan berkata, ‘itu kanker, tetapi kamu beruntung. Aku mendaftarkanmu di B2, jadi ada subsidi’. [Jeda] Aku berdamai dengan fakta itu. Aku melewati tahap demi tahap. Selama itu, kemarahan adalah hal yang paling buruk. Kau memberitahu aku, ‘minum obat supaya sembuh’ atau ‘minum obat supaya waktu hidupmu bertambah enam bulan lagi’. Aku meminumnya. [Jeda] Itu sebetulnya semacam, ‘kamu akan sembuh, tapi satu kakimu harus diamputasi’, atau ‘kamu akan sembuh tapi harus dalam keadaan buta’. Tapi aku tetap menjalani semuanya sebab hidup itu… hidup itu perkara tawar menawar. Aku percaya hal itu ada setelah kemarahan dan sebelum penerimaan.

YATI MENGHAMMPIRI RADHA DAN DUDUK DI SISINYA.

YATI

Bukannya aku tidak peduli. Bukannya aku membenci orang lain atau pekerjaan. Di sini, setiap hari orang-orang mati. Setiap hari aku melihat ke mata orang-orang itu, dan setiap kali itu pula mereka menatap aku… Itu alasan mengapa aku selalu sembahyang. Aku berdoa untuk setiap orang di sini. Aku meminta pada Tuhan. Tuhan, mereka pulang padaMu, mereka ketakutan, mereka tidak tahu apa yang selanjutnya akan terjadi. Tuhan, ketika mereka kembali padaMu, jangan galak-galak, ya. Jaga mereka, ceritakan mereka mop terbaik atau beri mereka welcome drink. Tuhan, mereka menderita ketika sekarat, beri kedamaian ketika mereka mati.

RADHA

Ketika kamu bernyanyi… Ketika suatu hari kamu rekaman di studio…

PAUSE.

RADHA

Aku bisa pergi. Karena kau, akhirnya aku bisa pergi.

YATI

Kau bantu aku, ya. Di manapun kau berada, bantu aku karena… aku tidak tahu ke mana aku menuju, tapi tetap saja aku tahu bahwa aku akan pergi.

RADHA

Tersenyum. Kau punya wajah yang menarik. Tersenyumlah.

PAUSE.

YATI BERJALAN MENJAUH. DIA MENCARI MIGUEL KEMUDIAN BERPAPASAN.

MIGUEL

Kandungan ganja yang mereka temukan di tubuhmu lebih dari batas konsumsi. Sebab kau menolak beri tahu mereka dari mana ganja itu kau dapatkan, dan mereka juga tidak bisa menerka dari mana asalnya, mereka menuntutmu dengan pasal jual-beli juga. Hukuman mati untukmu. [Jeda] Besok pagi, mereka akan membawamu ke lembaga pemasyarakatan, baru persidangan akan dimulai. Kasusmu akan jadi kasus tertutup, tapi tetap bisa mengajukan banding. Mereka pikir, kau punya kesempatan besar—mengingat kondisimu sekarang ini.

RADHA

Tidak usah menggurui aku.

MIGUEL

Kau berharap apa dari saya, Radha? Saya sudah melakukan semuanya, mulai dari morfin hingga mengirimkan pengacara untukmu. Semua yang saya lakukan demi kepentinganmu.

RADHA

Jangan coba-coba membebaskan diri dengan kelihaianmu. Kesakitan tetaplah kesakitan. Morfinmu itu, obat penenangmu, tidak bekerja padaku. Kenapa kau tidak mengakui saja bahwa ganja adalah pereda sakit terbaik untuk tubuhku? Kamu memang dokter, tetapi ini tubuhku! Hanya karena aku menentukan sendiri resep obatku, maka aku dilabeli sebagai seorang pecandu? Miguel, kau telah merenggut kebebasanku untuk mati; kebebasanku untuk mengobati diri sendiri, lalu kau berkata bahwa kau melindungiku? Jangan bilang bahwa kau melakukan segalanya demi kepentinganku karena sesungguhnya kau tidak melakukannya!

MIGUEL

Kau sedang “tinggi” sekarang ini? Cukup segala pengobatan untuk mematikan rasa sakitmu? Mungkin hanya butuh sedikit lagi saja untuk mencapai puncak kenikmatan?

RADHA

Kenapa memangnya kalau aku menginginkan kenikmatan itu? Aku tidak punya hal lain untuk dihidupi!

MIGUEL

Ya, benar kau sedang “tinggi”. Tidak sadar juga, kau ini seorang pecandu.

RADHA

Lalu, aku bisa saja mencandu morfin. Morfin yang ada di resepmu itu; morfin yang legal itu.

MIGUEL

Kenapa kau begitu ingin menyakiti saya, sih?

RADHA

Karena begitu banyak orang sepertimu.

MIGUEL

Keputusan sudah bulat.

RADHA

Menyedihkan. Aku akan mati, padahal aku tidak berharap pada kematian, supaya aku bisa menuntut pemerintah karena telah mengabaikan hak-hakku.

MIGUEL

Kau bisa berdebat tentang hak-hakmu; tentang legalitas, agama, budaya, tetapi pikirlah apa yang sudah kau lakukan. Sebelum kau mengembuskan napas terakhirmu, pikirlah apa yang sudah kau lakukan dalam hidup.

RADHA

Aku sudah melakukan banyak hal, tetapi hanya menerima sedikit saja. Aku tidak menyentuh siapapun, tidak punya peninggalan apapun. Di sisi lain, kamu itu seperti seorang santa. Seorang yang ambisius; santa yang terlalu tertib dan rewel. Segala puji bagimu dan moralmu. Aku tahu kau benci padaku—bukan pada diriku, melainkan pada apa yang aku sembah.

MIGUEL

Konyol. Saya bekerja dengan banyak organisasi dengan beragam agama. Pekerjaan yang saya lakukan…

RADHA

Pekerjaan yang kau lakukan dimotivasi oleh keyakinanmu.

MIGUEL

Iya! Dan keyakinan itu inklusif. Pikir dua kali sebelum menuduhku…

RADHA

Tapi kau membenci keimananku.

MIGUEL

Nonsens.

RADHA

Akuilah.

MIGUEL

Saya tidak…

RADHA

Akui saja! Jujur dan akuilah!

RADHA

KAU TIDAK BISA MEMBUNUHKU. KAU TIDAK BISA MENYEMBUHKANKU. KAU BAHKAN TIDAK BISA MMEREDAKAN SAKITKU SEKALI SAJA, REALISTISLAH. KATAKAN KEBENARAN!

MIGUEL

AKUI APA? SEGALA YANG SUDAH SAYA LAKUKAN ADALAH UNTUK KEBAIKANMU, RADHA.

PAUSE. RADHA MERASA LEMAS.

RADHA

[Terbata-bata] Aku telah berjuang melawan ini dengan segala yang aku bisa hanya untuk memperpanjang eksistensiku; hanya untuk menjalani hidup yang bebas dari rasa sakit, sehingga aku dapat terus berjuang untuk kualitas tertentu di hari-hari terakhirku. Ketidakmampuanku ini memalukan. Lihatlah kemari. Kau ingin berbicara tentang moralitas, tentang etika. Tatap aku. Aku hanya ingin bangun seperti ketika kau bangun, dengan sebuah tujuan. Aku ingin tidur seperti ketika kau tidur, di mana tidur adalah istirahat, bukan malah siksaan. Aku sudah berjuang, tetapi tidak lahi. Aku menyerah. Aku menyerah. Aku bukan orang jahat, Miguel. Kita semua bukan orang jahat.

RADHA JALAN MENJAUH. PAUSE. MIGUEL MENGUCURKAN AIR MATA.

LAMPU PADAM.

Adegan III

RADHA TIDUR DI ATAS RANJANG. MIGUEL MASUK.

MIGUEL

Radha, mereka sudah datang. [Jeda] Radha…

MIGUEL MENYADARI BAHWA RADHA TERTIDUR. MIGUAL JALAN MENJAUH. JEDA. RADHA MULAI BANGUN. MATANYA TERBUKA LEBAR, IA BERNAPAS SUSAH PAYAH.

PAUSE.

RADHA MENARIK NAPAS TERAKHIRNYA.

PAUSE.

LAMPU PADAM.

 

SELESAI.

Featured image by Octaviano (Pinterest: https://www.pinterest.ch/pin/449374869051702834/?lp=true)