Tentang Buah Bambu

Buah bambu adalah sebuah blog. Lahir bulan Maret 2017. Undangan untuk menulis di Buah Bambu datang setelah saya nongkrong selaras dengan gelap di Kopitaro, kota Palu. Kopitaro adalah sebuah tempat yang melampaui kedai kopi—secara spasial, namun ia juga tempat yang mengembalikan kopi pada khitahnya.

Di Kopitaro, menikmati kopi bagai menikmati moke—minuman keras dari pohon enau. Minum kopi memantik api diskusi yang berlarut-larut. Efek minum kopi di mana pun memang bisa begitu, namun Kopitaro menyediakan ruang yang sehat bagi diskusi itu. Di sana ada orang-orang berpikiran terbuka nan kritis. Di sana ada buku-buku. Di sana—meski sebagiannya tanpa atap—ada kehangatan yang dirawat.

Buah bambu adalah media ekspresi lain teman-teman di Kopitaro. Mereka yang tak sempat datang ke Kopitaro bisa menulis di Buah Bambu. Blog itu mengumpulkan ide-ide yang tercecer di tempat-tempat yang tidak bisa mempertemukan tubuh.

whatsapp-image-2017-06-19-at-01-36-07-e1497812964525.jpeg

Untuk membaca lebih lanjut, sila kunjungi http://buahbambu.blogspot.co.id/

Saya belum saja bertanya tentang penamaan Buah Bambu, namun begitu yakin terhadap kaitannya dengan keyakinan legendaris bahwa orang Kaili—sebagaimana Sawerigading dalam epos La Galigo—berasal dari bambu kuning. Maaf, tentang ini saya harus mengandalkan Google, sebab tak punya bahan baca yang cukup tentang Sulawesi Tengah.

Sawerigading, anaknya, I La Galigo, dan anjing peliharaanya, Buri, dikisahkan pernah merantau mengunjungi lembah Palu yang terletak di pantai barat Sulawesi. Buri adalah seekor binatang yang garang. Ia adalah kunci keberhasilan pertengkaran I La Galigo dengan Nili Nayo, seorang Ratu Sigi. Akibatnya, laut menjadi mundur sehingga menciptakan danau.

Saya kembali harus minta maaf. Selain tak punya otoritas untuk bercerita tentang kisah asal muasal manusia itu, saya juga tak dapat referensi yang cukup. Namun, saya cukup terpikat olehnya. Sebab berarti, memilih nama Buah Bambu adalah alasan yang cukup eksistensial bagi kawan-kawan di Palu.

Sepilihan tulisan sudah tayang di Buah Bambu. Hingga kini, saya masih berharap menulis dijadikan satu alternatif bagi teman-teman di Kopitaro untuk membebaskan diri sementara dari kegelisahan. Mengapa sementara? Karena kegelisahan itulah yang saya yakini membuat Kopitaro menjadi tempat yang hangat bagi ide-ide untuk saling berlarian, bertabrakan, kemudian bergelimpangan.

Di tengah hasrat saya untuk mengkampanyekan ide-ide di berbagai media alternatif daring, saya bertekad untuk terus menulis di Buah Bambu. Supaya Buah Bambu hidup meski akhirnya hanya saya seorang diri yang menulis di situ—yang semoga tidak terjadi.

Setiap orang tentu butuh dilihat dan didengar sesuai kadarnya masing-masing. Dengan nangkring di Kopitaro yang hanya buka pukul empat sore hingga dinihari—kemudian menulis di Buah Bambu yang kini minim viewers—saya malah merasa cukup. Kadang-kadang, merasa cukup itu berarti merasa layak untuk terus hidup.

Salam.

Advertisements

Sayang Jika Hilang: Catatan di Palu-Balikpapan-Samarinda-Palu

Jumat, Maret usia ketujuh belas malam, saya tiba di Palu. Tak ada yang gelisah. Langit baik, perut kenyang, suasana hangat cenderung panas.

Saya tak berhasil ingat kopi apa yang saya teguk malam itu di Kopitaro. Beberapa isu berlompatan di udara. Mereka memang tak bersuara, namun sungguh ampuh seperti ninja.

Duh, ternyata Maret usia kedelapan belas, pukul dua siang, saya harus segera berangkat ke Samarinda. Begitu mendadak. Segumpal kecil debu yang menggantung di bulu mata sampai kejut. Padahal merekalah yang paling dekat dengan realitas dan segala macam kemungkinan.

IMG_20170317_155835

Terlewat sudah penerbangan langsung satu-satunya dari Palu menuju Balikpapan. Mesti singgah dulu di Makassar, sebelum tiba di Balikpapan. Beruntung tak perlu terbang ke Jakarta dulu, supaya bisa ke Balikpapan. Itu bukan guyon. Sungguh sempat terlintas rencana itu.

IMG_20170318_145311

Kalimantan itu bukan pulau baru. Bukan di galaksi lain pula. Tapi sungguh, Indonesia cukup punya daya untuk membuat orang macam saya angkat tangan untuk menjelajahinya. Cukup luas. Cukup seksi. Cukup hisap kantong.

Maka, pertama kali saya menginjak tanah Kalimantan, yang saya injak adalah keramik bercahaya milik bandara yang tak ada beda dengan pusat perbelanjaan. Saya tak punya pilihan lain.

Nikmatnya disambut silau matahari berganti silau diskon di papan-papan milik Matahari.

“Kalian bawa baju banyak kan?” Ujar rekan kerja.

“Beruntung, bawa banyak.” Jawab saya dalam hati.

IMG_20170318_181334

Balikpapan-Samarinda ditempuh kurang lebih tiga jam. Perjalanan paket lengkap, dengan singgah di kios penjual tahu Sumedang. Mereka berderet di gerbang menuju Bukit Soeharto.

Tahu-tahu yang malang. Begitu jauh dari kampung halaman. Maunya kutanya, apakah mereka mau kupeluk, kemudian kubawa pulang? Tapi tak sempat kutanya, karena mereka sibuk dalam wajan.

IMG_20170318_211201

Di Samarinda, saya merindu kopi tubruk rasa grinder. Mungkin sempurna dengan udara aroma Mahakam. Namun, hotel hanya menyediakan dua bungkus yang katanya original. Saya memilih tidur.

IMG_20170319_000747

Usai sarapan di restoran hotel, saya ke luar mencoba cari perhatian pada matahari yang dengannya saya sudah lama tak berbincang. Apalah daya, dua langkah dari pintu masuk hotel, saya disambut Matahari yang sedang banyak diskon.

Semoga matahari tak cemburu pada Matahari ketika saya mendapatkan sebotol body spray seharga tujuh puluh ribu darinya.

Saya berjalan mencari minimarket. Saya tak menyangka bahwa di Samarinda, aristokrat mau akrab dengan deterjen dan kegiatan gosok-menggosok. Sungguh mengharukan. Ingin saya peluk dan bawa pulang para aristokrat di sana-sebagaimana yang saya rasakan untuk tahu Sumedang….

IMG_20170319_091510

Saya ragu bahwa pedang dan tombak adalah representasi kekuatan. Namun di bawah sinar matahari yang mulai mencocok kulit, saya mulai percaya. Seumur hidup patung itu, yang ada hanya harum keperkasaan, bukan bau keringat.

IMG_20170319_091912

Usai wawancara pukul sebelas; setelah menengok lokasi kejadian perkara rusuh antar-pemuda, saya harus kembali ke Palu. Sesungguhnya ia, sang awal mula, adalah tempat berlabuh akhirnya. Logika utama dari segala harapan bersifat optimistik nan melankolis. Cuma dimiliki orang-orang yang tak punya bahu untuk bersandar. Ngeri.

Ke Palu saya kembali, maka semuanya kembali pada kopi dan soal-soal subtil. Saya melewati malam-malam hangat hingga saya khawatir matahari merasa marginal.

Diskusi antar-manusia, didengar gelas-gelas kopi, lempar isu setinggi langit. Hingga ternyata sudah pagi, makan bubur kacang hijau dan putu di seberang pantai, bahak-bahak. Ternyata malam lagi. Pagi lagi.

Sarapan di kampus orang. Siang di tempat vape, terasa senasib dengan babi asap.

IMG_20170321_073650

Saya tanak masak-masak pikiran bahwa waktu di Palu tak pernah kurang. Ia yang membawa saya ke mana-mana-fisik maupun ide. Waktu di Palu selalu cukup. Cukup, sampai saya harus segera pulang.

Rabu dinihari, hujan tipis masih saja turun. Saya mengemas ransel. Mengemas serpihan kelebihan-kelebihan yang merdu ketika dilipat rapi dan ditaruh dalam hati. Saya akan selalu membuat Palu sebagai realitas yang cukup. Cukup saja.

IMG_20170322_082022

Hari sudah terang, mata saya masih nyalang. Di landasan, sambutan bayang-bayang tetiang, mimpi lalu-lalang.

“Halo, Al dan Kal, mama pulang….”

Maret, 2017