Perkara Intim Para Radikal

Dua orang tertembak mati dalam pertempuran. Seorang aparat tertembak pula. Tapi tak sampai mati. Di pegunungan biru, realitas segalanya terkait dengan pelarian dan baku tembak. Dan kematian.

Bagi beberapa orang lain, pegunungan biru adalah menahan nafsu seksual. Sejak komandan mengajak mereka jihad, mereka bak tenda-tenda nomaden menahan hujan dan gemuruh badai.

“Jihad itu meninggalkan anak dan istri, tapi apa, nyatanya dia bawa istrinya kemari.” Di kepala yang berujar itu, terpasang ingatan tentang tangan-tangan gemulai yang berlatih menembak dengan AK-47. Tak bisa diduga ada bentuk bibir seperti apa di balik cadar. Mungkin ketika senapan meletus, para istri komandan mengembangkan senyum terlebarnya. Senyum terseksinya.

Seperti samar senyum di malam Jumat lalu, ketika malam belum sepertiga. Mereka berjaga di depan lubang milik tenda terpal. Sang komandan—apalagi istrinya—sudah masuk tenda sejak malam masih kanak. Sungguh rentetan adegan yang menyesakkan dada.

Para pengintip rindu rumah. Rindu terhadap rasa yang beberapa dari mereka bahkan belum pernah cicipi. Hutan benar-benar sepi. Beberapa desah spontan mengalir melalui lubang-lubang yang tak sengaja dikoyak angin. Pelan sekali. Telinga para kombatan membesar seperti milik Desperaux. Serta bagian tubuh lain yang membesar, mereka pulang ke tenda dan kolong bebatuan yang dingin. Masing-masing. Sendirian. Sebab jihad adalah siap berjuang sendiri, meninggalkan anak dan istri.

Alina terperangkap cerita tentang para kombatan di pegunungan itu sejak sore hari. Cerita itu diperolehnya dari seorang aparat negara yang bertugas keluar masuk pegunungan Biru. Cerita itu menarik karena dirasa miris.

Alina juga jadi ingat bahwa lingkungan kampus masih ramai kasak-kusuk. Para penuntut negara agama berkeliaran, pamer bendera di sudut-sudut lingkungan akademis. Tersebar di media sosial. Juga di hati para aktivis NKRI yang gandrung nasionalisme. Anti terhadap homogenitas.

Alina memandang lagi laki-laki yang tertidur di sampingnya. Karisma berpendar di sekitar kening lembabnya. Aroma pernis furnitur kayu di kamar itu tercium. Wanginya menempel di vitrase yang lebih tebal dibandingkan dengan nafsunya yang menggebu.

Malam memang belum larut. Tapi aura kekitaan yang ada di kamar itu sudah merebak mesra. Bukan mesum. Sebab ada dakwah dalam setiap ucap sayang laki-laki di hadapannya. Keberadaan mereka dan pelukan-pelukan hangat adalah perkara spiritual.

Bangun dari lelapnya, sang laki-laki gegas ke kamar mandi setelah menciumnya setengah bibir di batang hidung. Alina menutup ujung jari kaki hingga leher dengan selimut yang bau keringat. Lepas dari bulir-bulir air, sang lelaki memakai kembali koko, celana berbatas mata kaki, dan kopiahnya yang wangi parfum arab. Ia segera meninggalkan Alina, setelah sebelumnya meninggalkan uang di atas meja rias. Sang lelaki menutup pintu pelan-pelan.

Langkah Alina terseret di hadapan gerombolan perempuan dengan gamis. Mereka berdiskusi di bangku taman semen, mungkin membahas tentang modernisasi dan liberalisme yang terkutuk. Mata-mata nyalang memelototi Alina yang berjalan pelan—setelah sang lelaki dan Alina keluar dari tempat kos yang sama, dengan wajah yang sama-sama lelah tapi bersih.

Ketika itulah Alina menerima suara doa. Sunah rasul yang dibawa angin menuju liang telinganya. Terbayang kembali olehnya sentuhan kulit dan gumpal bulu-bulu selimut. Alina tersenyum diam-diam. Ia membayangkan setan—yang kata sang lelaki—tertangkal, tak bisa ikut serta berasyik-masyuk bersama mereka.

Alina menawar ongkos ojek di pangkalan untuk membawanya ke bandara. Bersegera ia pulang ke rumah untuk memulai akhir tahunnya yang sementara bebas dari pekerjaan.***

Featured image diperoleh dari https://www.pinterest.com/pin/365354588504020855/

Devil's Tail (Diperoleh dari Flickr https://www.flickr.com/photos/orsorama/1287531136)

Setan

Gambar: Devil’s Tail (Diperoleh dari Flickr)

Omaku yang rajin mengaji tinggal beberapa hari di rumah. Semenjak ia datang, aku sering mandi karena kepanasan. Neraka seperti menggelindingkan bara-bara api di lipatan-lipatan tubuhku.

Hari ketujuh–ketika ia mulai tak rindu rumah lagi–ia mengeluh sering terlambat bangun untuk sembahyang pagi. Seperti ada lantunan nina bobo yang menyumpal telinga. Jangankan terdengar sayup, panggilan sembahyang di pengeras suara bahkan tak terdengar.

“Kamu sih setan.” Ujar sahabatku ketika aku mulai bercerita. Kami tertawa. Aku merasa gatal di pantat, dekat ekor berujung panah milikku.

Sastra Adalah Cara Pandang

12324252

Sepotong gambar sampul buku kumpulan cerita pendek Wajah Terakhir

Cerita pendek Mona Sylviana, Wajah Terakhir adalah salah satu karya yang cukup berkesan bagi saya. Berlatar tempat Singapura, seorang tokoh perempuan bernama Maria mengulang ingatan. Mona membedah memori Maria dengan kembali ke peristiwa rusuh besar di Jakarta pada Mei 1998. Peristiwa itu tentu menyisakan banyak kesan pada masyarakat Indonesia. Kerusuhan dan kekerasan yang dilakukan terhadap etnis Tionghoa itu diulas Mona dengan sangat intim.

Dalam Wajah Terakhir, wajah Jakarta yang porak poranda memang tidak utuh terkatakan. Namun, keterbatasan spasial itu tidak mengurangi keikutsertaan emosi saya dalam membaca cerpen itu. Hal itulah yang kemudian membuat saya punya banyak pertanyaan tentang proses kreatif dan pandangan Mona tentang kandungan sastra. Saya pun terlecut untuk berbincang dengan Mona (versi esai dapat dibaca di sini).

A: Minta komentar dong tentang keadaan dunia sastra baru-baru ini.

M: Dunia sastra, kalau yang dimaksud sejumlah karya sastra yang dibukukan, saya tidak mengikuti. Sudah lama sekali tidak baca buku karya sastra Indonesia atau yang ditulis penulis Indonesia. Karya sastra yang relatif dibaca sekadar yang muncul di koran. Itu pun nggak selalu dibaca, tergantung mood dan tergantung alinea pertamanya.

Ada yang menarik dalam dunia sastra belakangan ini atau sekitar 5 tahun ke belakang. Dengan makin intens banyak orang bergaul di dunia maya, ternyata juga memberikan tempat bagi para penghuni dunia sastra. Misalnya, Facebook. Ada banyak sekali grup di media sosial itu yang berkaitan dengan dunia sastra. Ada banyak orang yang menulis status berbentuk prosa dan puisi atau sekadar menggunakan kaidah sastra.

A: Apa manfaat dunia maya itu untuk dunia sastra mainstream?

M: Berbagai. Ada memanfaatkan media sosial sebagai ruang kritik sastra untuk karya sastra yang dimuat di media massa mainstream. Ada yang kemudian mengumpulkan notes atau statusnya dalam bentuk buku.

Tapi, walau tidak melakukan penelitian secara ilmiah, rasa-rasanya dunia sastra di media sosial lebih banyak menjadi pelampiasan karena di ruang mainstream para sastrawan itu tidak—atau belum—ditasbihkan sebagai sastrawan mainstream. Maka, dunia sastra itu menjadi ruang gosip, ruang sekadar menanyakan honor pemuatan, dan lain-lain.

A: Berarti ada kecenderungan sastra berperan sebagai media sosialisasi baru masyarakat ya?

M: Iya. Bagus sih. Makin banyak orang yang membutuhkan sastra kan makin bagus. Hanya mungkin yang dibutuhkan biar pelebaran media sastra itu memang ideal, dibutuhkan pendidikan sastra yang baik.

A: Pendidikan sastra di mana? Sekolah? Idealnya seperti apa bentuknya? Zaman sekarang di sekolah memang mulai ada pembiasaan membaca dan menulis tapi bagaimana caranya supaya pembiasaan itu mendarah daging?

M: Yang formal di sekolah, dengan catatan ada perubahan cara melihat sastra. Yang informal, kelompok-kelompok atau grup-grup sastra menemukan formula untuk menjadikan sosmed kawan media bergelut.

Persoalan pendidikan sastra itu persoalan cara melihat. Kalau cara melihat sastra sekadar berbahasa yang puitis, maka nggak ada gunanya itu sastra, maka nggak ada formula yang akan menjadikan darah dan daging.

Sastra dalam arti luas kan cara melihat, sejenis ideologi yang padanya ada pembelajaran demokrasi, toleransi, dan sejenisnya.

A: Lalu, kalau sastra itu cara berpikir, apa sih kritik sastra itu?

M: Mungkin supaya tidak bias antara tokoh dan penulis. Kritik sastra idealnya kayak ego dan super ego. Penulis kan mungkin saja luput dari ideal ketika menulis. Misalnya riset tidak tuntas, bias rasis atau seksi dan sebagainya. Maka kritikus akan jadi pembaca ahli. Kritikus juga idealnya bisa mendedahkan bagian karya yang tidak disadari penulis, menjadi jembatan antara pembaca kebanyakan dan penulis, melihat konteks besar kehadiran karya.

A: Apa saja yang patut diperbincangkan dan dipelajari dalam sastra? Sepertinya harusnya tidak ada batas ya?

M: Yang patut melibatkan sastra ya berbagai hal. karena, seperti yang sebelumnya ditulis, sastra itu cara pandang.

A: Gimana dengan politik? Belakangan saya baca dan menduga ada karya yang intensinya mau menyampaikan pandangan politik penulis. Sementara di sisi lain, ada yang berpendapat bahwa seni dan sastra itu kudu steril dari hal macam itu. Sepertinya pertentangan itu tanda kalau kita belum siap dengan sastra sebagai cara pandang ya? Atau bagaimana?

M: Nggak masalah kalau sastra mau menyampaikan sesuatu, termasuk politik. Hanya sastra kan juga punya aturan main. Persoalannya, apa karya yang dimaksud sudah masuk di aturan main itu atau nggak. Kalau nggak, mungkin itu bukan sastra, baru sebatas pamflet atau risalah politik.

Tidak ada kayaknya sastra yang steril. Sastra lahir dan dilahirkan kan bukan di ruang hampa. Penulis dan pembacanya tidak mungkin steril dari sejarah hidup atau lingkungan tertentu.

A: Aturan main itu antara lain apa?

M: Penguasaan bahasa, penguasaan teknis sastra. Penokohan, seting, alur, dan sebagainya.

14051696_10154379459032510_5139298981510475510_n

Mona Sylviana

A: Wajah Terakhir itu keren. Berlatar kerusuhan Mei 98, apa ada intensi sosial politis tertentu?

M: Bisa jadi ada, bisa juga nggak ada. Itu bergantung dari si pembaca menafsirkan.

A: Sepakat dengan ‘the death of the author’ dong…

M: Seharusnya sih begitu, ‘the death of the author’

A: Apa dalam kehadiran karya, kontekstualitas itu penting?

M: Untuk beberapa kasus mungkin bisa jadi penting. Minimal untuk pendokumentasian atau catatan sejarah.

A: Tahu begitu, sastra sepertinya tidak mungkin instan ya.

M: Bisa. Kalau sekadar dapat label sastrawan, apalagi dari teman-teman Facebook. Hehe.

Tapi dunia sastra dibangun nggak hanya oleh penulis. Ada pembaca, ini kayaknya yang utama, kritikus, penerjemah, editor, industri buku, lembaga pendidikan… Kesemuanyalah yang membangun dunia sastra, dan jelas tidak mungkin instan.

A: Dalam proses kreatif cerpen-cerpen yang lalu, datangnya inspirasi mesti menyengaja dikondisikan nggak?

M: Yang menyengaja itu keharusan menjaga kondisi untuk terus menulis, sedangkan proses menulis lebih banyak tidak disengaja.

A: Ada rencana menerbitkan kumpulan karya lagi? Puisi, mungkin?

M: Ada. Tapi pasti bukan kumpulan puisi…

A: Kenapa tidak menulis puisi lagi? Dulu beberapa puisi pernah dimuat kan?

M: Sekarang juga masih menulis format yang dibilang sebagai puisi, tapi sifatnya lebih personal. puisi itu kata banyak orang saripati sastra, jadi persoalannya sulit sekali menginti.

A: Orang-orang sedang ramai menyambut hari kemerdekaan RI. Perlukah kemerdekaan dalam sastra atau dalam berkarya?

M: Perlulah. Sepertinya sulit menulis dalam tekanan. Ada karya sastra kanon atau monumental yang lahir dari penulis yang tinggal di negara totaliter atau fasis, tetapi kondisi si penulis saya yakin sepenuhnya merdeka.

A: Indikasi sudah merdekanya itu, tentu hanya penulis yang bisa menentukan, bukan?

M: Sebenarnya ada standar untuk menentukan seseorang merdeka atau tidak. Misalnya, seseorang tidak merdeka dalam menulis ketika tendensi ideologi tertentu yang hidup dalam karya, bukan tokoh-tokohnya; tulisannya dibuat berdasarkan kecenderungan atau laku; ada yang memesan.

A: Kalau untukmu sebagai penulis, momen merdeka itu kapan?

M: Berhasil menuliskan yang sedang digelisahkan.

***

Mungkin saya eneg pada kompleksitas perbincangan di atas. Padahal selama ini saya berlaku naif di hadapan karya sastra. Padahal selama ini pendekatan saya minimal. Ternyata sastra berusaha mendekati saya maksimal. Mungkin ia (sedang) berusaha menjadikan saya manusia merdeka.