Empat Tulisan Tentang Lingkungan

Berikut adalah empat tulisan saya tentang lingkungan. Semuanya ditulis saat dan setelah saya mengikuti workshop tentang konservasi alam di Pontianak, Kalimantan Barat. Semoga berkenan.

  1. ABAI PADA NARASI LOKAL – Multikulturalisme harus dimanfaatkan untuk tujuan konservasi alam. Narasi-narasi lokal digunakan untuk menyelamatkan lingkungan karena lebih menyentuh aspek terdalam individu sebagai bagian dari suatu sistem masyarakat.
  2. EKOWISATA BATU AMPAR – Memperbincangkan ekowisata yang berkesan hanya sekadar tontonan. Padahal, ia merupakan konsep pendidikan yang ideal sebab memanusiakan semesta.
  3. KOPI GAMBUT, SIMBOL PERLAWANAN KUBU RAYA – Industri merangsek masuk ke daerah gambut dan menciptakan kelas-kelas. Penanaman kopi di sana merupakan simbol perlawanan. Kopi dapat memandirikan hidup masyarakat, terutama dengan upaya konservasi alam dengan pendekatan lanskap.
  4. DEFORESTASI DALAM NARASI PRIMO LEVI – Menghargai karbon dalam gambut sebagai entitas yang juga punya narasi. Apa upaya emansipatoris kita untuk mendekatinya?

Hagia: Samakah Kita?

Sempurna yang kau puja

Dan ayat-ayat yang kau baca

Tak kurasa berbeda

Kita bebas untuk percaya

“Seperti kami pun mengampuni yang bersalah kepada kami”

Hagia – Barasuara

(Menikmati tulisan ini boleh sambil mendengar Barasuara di link berikut. Menurut saya, mereka lebih seksi didengar ketika live)

Terima kasih kepada Reza Obe yang membuat saya kembali intens mendengar Barasuara. Terlebih, membuka jarak dengan musik untuk membedah isinya. Dulu, saya sempat membuat tagar (#) TafsirLirik di blog ini. Dalam waktu yang singkat, tagar itu hilang. Kegiatan membaca lirik sungguh butuh energi lebih. Kita mesti sabar dan menjaga diri supaya tidak terlihat memaksakan makna yang dimaui.

Beberapa hari lalu, tulisan “’Menggunjingkan’ Tuhan Lewat Hagia” dipasang di sebuah blog produktif, Buah Bambu. Seperti dapat dibaca, tulisan itu menemukan kebijaksanaan, keyakinan beragama dan kesucian Tuhan dalam Hagia.

Hemat saya, sebetulnya terlalu multitafsir kalau kita memisahkan kata-kata dengan kalimat di lirik Barasuara. Barasuara pengguna diksi kuat. Dalam arti, mereka anti bertele-tele; bicara yang penting-penting saja. Lirik mereka adalah key words dengan kesatuan yang harmonis.

Namun dengan cara apapun, membahas Hagia memang menarik. Saya harus sebut bahwa lagu itu cenderung normatif. Apalagi dalam konteks Indonesia, tempat—yang Reza Obe sebut sebagai—gerakan-gerakan antitoleransi radikalisme yang berujung pada perilaku kafir-mengkafirkan sedikit banyak mengambil ‘tugas’ Tuhan berada. Namun justru itu yang membuat Hagia baik adanya. Kita tidak bisa menyangkal bahwa membangun kritik lewat musik adalah satu hal yang bisa membuat sebuah lagu tidak lagi enak didengar sebagai sebuah kesatuan. Beberapa kritik malah sempat membuat saya merasa terganggu karena terlalu eksplisit; terlalu ideologis. Hagia melewati ujian itu. Ia anthemic nan megah.

Ada dua hal yang menurut saya bisa dikembangkan menjadi diskusi. Pertama adalah lirik “tak kurasa berbeda” dalam Hagia. Untuk menjadi ‘sama’ atau ‘beda’ dalam suatu masyarakat memang merupakan hal yang sensitif. Sensitivitas ini berakar dari persoalan otentisitas. Bagi saya, otentisitas itu penting.

Seperti kritik Kierkegaard terhadap abstraksionisme. Kierkegaard menekankan individu yang bereksistensi sebagai kebenaran, bukan totalitas objektif. Baginya, kawanan, ras, bangsa, kita, dan semacamnya adalah ketidakbenaran karena dalam pengertian tersebut, individu konkret direduksi ke dalam kelompok. Dengan demikian individu menjadi tak bersalah dan memperlemah rasa tanggung jawab individu.

Istilah eksistensi hanya dapat diterapkan pada individu konkret. Hanya aku individu yang konkret, maka aku tidak dapat direduksi ke dalam kawanan, kelompok, direduksi ke dalam realitas lain selain ‘aku yang bereksistensi’. Bereksistensi tidak berarti hidup dalam pola-pola abstrak dan mekanis melainkan secara berkesinambungan mengadakan pilihan baru secara personal dan subjektif dan dengan demikian mengambil keputusan-keputusan eksistensial.

Aku individu yang konkret adalah unik, sedemikian uniknya sehingga tidak ada orang lain yang dapat mengambil kebereksistensianku. Maka sesuailah, bagi saya, kita tak dapat menjadi sama begitu saja karena memang berbeda. Tiap orang memiliki keunikan masing-masing.

Saya pikir, penyamarataan terhadap segala kesempurnaan dan sabda; Tuhan dan Kitab Suci, adalah kejatuhan ke dalam jurang yang ekstrem. Menyatakan bahwa kita semua sama seperti menyatakan bahwa perempuan dan laki-laki itu sama saja, sehingga keduanya setara. Sedikit lucu dan terburu-buru sih.

Perkara otentisitas mencakup juga otentisitas dalam berkeyakinan. Dalam keadaan plural, soal perbedaan ini, Indonesia punya potensi untuk menjadi tanah perang. Maka sepertinya, menjadikan kita semua dalam kerumunan yang sama, menjadi satu cara yang cepat untuk membangun toleransi. Sudah saya sebut bahwa itu terburu-buru.

Ya, mungkin justru di situlah letak otentisitas Barasuara. Hagia menjadi sodoran saran terhadap pluralitas Indonesia. Hagia adalah sebuah narasi kecil yang menyatakan bahwa menjadi ‘sama’ atau ‘beda’ bisa jadi persoalan konstruksi. Apalagi dalam konteks Indonesia, ketika dalam menjadi ‘sama’ manusia-manusia unik Indonesia secara etis bisa hidup lebih humanis, mengapa tidak?

Ruang diskusi kedua adalah bahwa dengan pembahasan soal otentisitas, berarti kita terhubung pada kebebasan untuk meyakini, seperti yang dilagukan Barasuara, “kita bebas untuk percaya”. Ini sebetulnya situasi miris di Indonesia.

Pasal 28E ayat (2)  UUD 1945 juga menyatakan bahwa setiap orang berhak atas kebebasan meyakini kepercayaan. Secara hukum positif, Pasal 28I ayat (1) UUD 1945 mengakui adanya hak untuk beragama karena itu merupakan hak asasi manusia. Pasal 29 ayat (2) UUD 1945 juga menyatakan bahwa Negara menjamin kemerdekaan tiap-tiap penduduknya untuk memeluk agama.

Terdengar menyenangkan, bukan? Faktanya, kita masih saja akrab dengan laku intoleransi—baik dilakukan oleh pemerintah, maupun kelompok intoleran. Undang-undang No.1/PNPS/1965 tentang Pencegahan Penyalahgunaan dan atau Penodaan Agama menyebutkan bahwa agama-agama yang dipeluk orang Indonesia adalah Islam, Kristen, Katolik, Hindu, Buddha, dan Khong Hu Cu atau Konfusianisme. Muatan dalam Undang-undang ini akhirnya melahirkan istilah “agama resmi” dan “agama yang belum diakui”. Tak bisa kita pungkiri, istilah itu menyuburkan adanya diskriminasi para pemeluk agama-agama asli di Indonesia (mengenai ambiguitas hak kebebasan beragama bisa dibaca di sini).

Direktur Riset Amnesty Internasional untuk Asia Tenggara 2014, Ruppert Abbot, menyatakan bahwa sejak 2005 Amnesty International mencatat setidaknya 106 individu yang diadili dan dijatuhi hukuman menggunakan UU Penodaan Agama. Mereka kebanyakan berasal dari minoritas keagamaan atau mengekspresikan keyakinan agama yang dianggap menyimpang dari ajaran agama yang diakui resmi negara (sumber). Padahal, beribadah dan berkeyakinan dilindungi oleh hukum HAM internasional (baca juga ini).

Tepat sekali Barasuara memperdengarkan lagu ini di telinga kita. Tafsir memang bisa melebar, namun kita diajak untuk bersama-sama mengamini bahwa pluralitas adalah  fakta, pluralitas adalah medan perang, dan kita semua adalah pejuang.

Meski sebetulnya kita bukan abstraksi individu-individu; kau dan saya tidaklah sama, tapi bolehlah kita selama dua menit empatpuluh saja menjadi sama. Tujuannya tak lain untuk kemudian menjadi percaya bahwa kita bebas. Aku yang sesungguhnya adalah aku yang punya narasi kecil nan otentik.

Petikan doa Bapa Kami di akhir lagu adalah kunci. “…dan ampunilah kesalahan kami, seperti kami pun mengampuni yang bersalah kepada kami.  Ia bisa menciptakan jarak di mata kita dalam melihat kekitaan kita sebagai manusia Indonesia. Kenapa kita yang sebangsa ini tak bisa saling mengingatkan dan mencegah intoleransi yang kerap terjadi di tanah air? Ah…

“Dan janganlah masukkan kami ke dalam pencobaan, tetapi bebaskanlah kami dari yang jahat.”

Amin.