Sayang Jika Hilang: Catatan di Palu-Balikpapan-Samarinda-Palu

Jumat, Maret usia ketujuh belas malam, saya tiba di Palu. Tak ada yang gelisah. Langit baik, perut kenyang, suasana hangat cenderung panas.

Saya tak berhasil ingat kopi apa yang saya teguk malam itu di Kopitaro. Beberapa isu berlompatan di udara. Mereka memang tak bersuara, namun sungguh ampuh seperti ninja.

Duh, ternyata Maret usia kedelapan belas, pukul dua siang, saya harus segera berangkat ke Samarinda. Begitu mendadak. Segumpal kecil debu yang menggantung di bulu mata sampai kejut. Padahal merekalah yang paling dekat dengan realitas dan segala macam kemungkinan.

IMG_20170317_155835

Terlewat sudah penerbangan langsung satu-satunya dari Palu menuju Balikpapan. Mesti singgah dulu di Makassar, sebelum tiba di Balikpapan. Beruntung tak perlu terbang ke Jakarta dulu, supaya bisa ke Balikpapan. Itu bukan guyon. Sungguh sempat terlintas rencana itu.

IMG_20170318_145311

Kalimantan itu bukan pulau baru. Bukan di galaksi lain pula. Tapi sungguh, Indonesia cukup punya daya untuk membuat orang macam saya angkat tangan untuk menjelajahinya. Cukup luas. Cukup seksi. Cukup hisap kantong.

Maka, pertama kali saya menginjak tanah Kalimantan, yang saya injak adalah keramik bercahaya milik bandara yang tak ada beda dengan pusat perbelanjaan. Saya tak punya pilihan lain.

Nikmatnya disambut silau matahari berganti silau diskon di papan-papan milik Matahari.

“Kalian bawa baju banyak kan?” Ujar rekan kerja.

“Beruntung, bawa banyak.” Jawab saya dalam hati.

IMG_20170318_181334

Balikpapan-Samarinda ditempuh kurang lebih tiga jam. Perjalanan paket lengkap, dengan singgah di kios penjual tahu Sumedang. Mereka berderet di gerbang menuju Bukit Soeharto.

Tahu-tahu yang malang. Begitu jauh dari kampung halaman. Maunya kutanya, apakah mereka mau kupeluk, kemudian kubawa pulang? Tapi tak sempat kutanya, karena mereka sibuk dalam wajan.

IMG_20170318_211201

Di Samarinda, saya merindu kopi tubruk rasa grinder. Mungkin sempurna dengan udara aroma Mahakam. Namun, hotel hanya menyediakan dua bungkus yang katanya original. Saya memilih tidur.

IMG_20170319_000747

Usai sarapan di restoran hotel, saya ke luar mencoba cari perhatian pada matahari yang dengannya saya sudah lama tak berbincang. Apalah daya, dua langkah dari pintu masuk hotel, saya disambut Matahari yang sedang banyak diskon.

Semoga matahari tak cemburu pada Matahari ketika saya mendapatkan sebotol body spray seharga tujuh puluh ribu darinya.

Saya berjalan mencari minimarket. Saya tak menyangka bahwa di Samarinda, aristokrat mau akrab dengan deterjen dan kegiatan gosok-menggosok. Sungguh mengharukan. Ingin saya peluk dan bawa pulang para aristokrat di sana-sebagaimana yang saya rasakan untuk tahu Sumedang….

IMG_20170319_091510

Saya ragu bahwa pedang dan tombak adalah representasi kekuatan. Namun di bawah sinar matahari yang mulai mencocok kulit, saya mulai percaya. Seumur hidup patung itu, yang ada hanya harum keperkasaan, bukan bau keringat.

IMG_20170319_091912

Usai wawancara pukul sebelas; setelah menengok lokasi kejadian perkara rusuh antar-pemuda, saya harus kembali ke Palu. Sesungguhnya ia, sang awal mula, adalah tempat berlabuh akhirnya. Logika utama dari segala harapan bersifat optimistik nan melankolis. Cuma dimiliki orang-orang yang tak punya bahu untuk bersandar. Ngeri.

Ke Palu saya kembali, maka semuanya kembali pada kopi dan soal-soal subtil. Saya melewati malam-malam hangat hingga saya khawatir matahari merasa marginal.

Diskusi antar-manusia, didengar gelas-gelas kopi, lempar isu setinggi langit. Hingga ternyata sudah pagi, makan bubur kacang hijau dan putu di seberang pantai, bahak-bahak. Ternyata malam lagi. Pagi lagi.

Sarapan di kampus orang. Siang di tempat vape, terasa senasib dengan babi asap.

IMG_20170321_073650

Saya tanak masak-masak pikiran bahwa waktu di Palu tak pernah kurang. Ia yang membawa saya ke mana-mana-fisik maupun ide. Waktu di Palu selalu cukup. Cukup, sampai saya harus segera pulang.

Rabu dinihari, hujan tipis masih saja turun. Saya mengemas ransel. Mengemas serpihan kelebihan-kelebihan yang merdu ketika dilipat rapi dan ditaruh dalam hati. Saya akan selalu membuat Palu sebagai realitas yang cukup. Cukup saja.

IMG_20170322_082022

Hari sudah terang, mata saya masih nyalang. Di landasan, sambutan bayang-bayang tetiang, mimpi lalu-lalang.

“Halo, Al dan Kal, mama pulang….”

Maret, 2017

Advertisements

Pohon Milik Natal 

Sebuah kolaborasi bersama fr. Emen Bhajo di Kamerun. Kami menelusuri jejak Natal-sebagai-subjek. Jangan-jangan, kita riuh selebrasi, bahkan ada pula yang gelut sampai urat keluar dari leher, si Natal ini kesepian….

JEJAKAta

Pohon yang berbuah di Super Market

Natal tinggal di rumahnya. Hanya manusia yang bepergian. Mampir di pulau-pulau jauh. Merengkuh kerlapkerlip sarat perasaan membuncah.


Tentu Natal punya pohon pula. Pohon kesederhanaan tanpa bolabola kaca atau malaikat di pucuk. Natal datar tanpa rasa. Tanpa hurahura.

Manusia sibuk merapikan diri. Mengeluarkan pohon hampir berjamur dari gudang. Debu kemarau yang masuk lewat jendela memeluk erat daun-daun.

Awal Desember, pohon dipindahkan ke ruang tamu. Si bungsu bertanya, “Mama, pohon ini selalu hijau dan daunnya tak pernah gugur. Kenapa pohon natal kita tak pernah berbuah?”

Natal duduk manis di rumahnya. Hangat sinar mata mengerami buah di pohon miliknya yang masak sebentar lagi.

Kalender di dua puluh empat siang, Ayah tiba dengan kantong plastik dari supermarket. Ia jongkok meletakkan kado. Hanya pada pohon milik manusia dapat tergantung bintangbintang dan kartu ucapan.

“Apakah Natal depan aku boleh memetik buah pohon natal di mall?” Suara si Bungsu berdenging di…

View original post 75 more words

Saudara Imajiner

 

Puisi ini, bersama satu puisi lain, “Kehilangan Buku” dimuat di ruang Puisi harian Pikiran Rakyat hari ini. Oleh redaktur, puisi ini dipotong menjadi hanya dua paragraf awal. Mungkin terdapat kesalahan teknis, tak apa. Namun sudah barang tentu pemotongan tersebut berpengaruh sangat signifikan (dan mengecewakan). Puisi yang jumlah katanya 372, dipapas menjadi 83 kata saja, (kelihatannya) tanpa menimbang efektivitas kalimat, cerita, dan hal-hal lain yang mesti dipertimbangkan ketika memangkas sebuah puisi.

By the way, nama saya bukan Adhitya Kriesna, ya 🙂 Keterangan di bawah puisi salah.

Akhirnya, saya memutuskan untuk menerbitkan puisi ini di blog pribadi supaya orisinalitas karya masih tetap bisa dinikmati khalayak. Jika berkenan, mohon dibagikan, ya!

Salam,

AA


Waktu kecil, aku berharap punya kakak laki-laki. Kakak laki-laki tampan dan suka mengusap—dan sedikit mengacak rambutku—yang mengundang pekikan tertahan teman-teman perempuan. Tentu iri hati mereka. Patah harapanlah aku ketika sadar bahwa manusia tidak tumbuh dari dua ujung jari yang dijentikkan.

Tak ada briket, sabut kelapa pun jadi. Mungkin akan sama menyenangkan kalau punya adik saja. Main-main dengan ketiak bau basah di gunungan pasir. Bersama-sama resah sebelum diomeli. Kalau kamu punya saudara, akan seperti apa dia nanti? Kucingku selalu ingin tahu. Rahasia.

Kuatur di awan-awan dekat kepalaku supaya parasnya tak jauh-jauh dari aku. Mungkin boleh kulitnya lebih gersang sedikit, karena sungguh tak puas aku dengan kulit pecah-pecah milikku. Aku yang sedikit lebih baik daripadanya mungkin baik untuk kita.

Pakaian kegemarannya tak jauh berbeda sehingga kami bisa bertukar segala. Kuracik sudah saudaraku. Agamanya apa? Ujar ngeong dekat telinga. Eh, memangnya agama bisa dipilih? Tak dijawab pun ternyata tak apa karena aku tak pernah kedatangan mereka. Kakak maupun adik yang ketakhadirannya tidak sia-sia.

Tetiba di umur lima belas, aku kedatangan saudara di pagi bisu. Ia objek imajiner. Hadir di waktu-waktu pengasingan. Agamanya apa? Ngeong kucingku lagi. Aku menoleh pada saudara sambil bertanya lewat tukar cahaya mata.

Siang sebelumnya, rumah tetangga kedatangan para legioner berdoa untuk kesembuhan. Setelah paginya salawat dan doa-doa seperti yang Aisyah dengar dari Rasul Allah. Maka kuputuskan, adanya saudaraku melampaui segala agama yang bisa dipilih.

Ternyata datangnya saudara dari balai raja-raja. Tak sekadar mengacak sayang rambutku, ia juga  menelikung maut di semestaku. Jiwa nelangsa—apalagi sekadar lapar—dipangkunya. Tak luput pula cinta untuk eksistensi dan esensi segala pengada, juga segala bencana.

Saudaraku seorang santo. Kebiasaannya lucu: bergumam sekelebatan, lalu dihampiri serangga dan burung-burung yang riang. Ia menunduk saja. Menghadapi hati dan telapak kaki.

Usiaku sembilan belas, aku kedatangan manusia dalam rahim. Saudaraku mencumbunya seperti menyambut sangkakala. Ia mencintainya seperti tak ada hari esok. Bahkan sepuluh dosaku kelak, dirangkainya jadi puisi. Sering aku terpancing diksinya. Kami berbalas kata hingga mabuk.

Pukul sepuluh, pagi hampir basi. Aku masih pusing dan meracau di pagina bersimbah liur dan arak selundupan. Makin jatuh cintalah aku pada bahasanya yang mirip dengan milik Sulaiman. Untung, tongkatnya tak disantap rayap.

Usia dua tujuh—sementara aku hampir mati hilang tulang—saudara imajiner itu tak pernah lupa pulang sebelum petang.

Cileunyi, September-November 2016