Sayang Jika Hilang: Catatan di Palu-Balikpapan-Samarinda-Palu

Jumat, Maret usia ketujuh belas malam, saya tiba di Palu. Tak ada yang gelisah. Langit baik, perut kenyang, suasana hangat cenderung panas. Saya tak berhasil ingat kopi apa yang saya teguk malam itu di Kopitaro. Beberapa isu berlompatan di udara. Mereka memang tak bersuara, namun sungguh ampuh seperti ninja. Duh, ternyata Maret usia kedelapan belas,… Read More Sayang Jika Hilang: Catatan di Palu-Balikpapan-Samarinda-Palu

Pohon Milik Natal 

Originally posted on JEJAKAta:
Pohon yang berbuah di Super Market Natal tinggal di rumahnya. Hanya manusia yang bepergian. Mampir di pulau-pulau jauh. Merengkuh kerlapkerlip sarat perasaan membuncah. Tentu Natal punya pohon pula. Pohon kesederhanaan tanpa bolabola kaca atau malaikat di pucuk. Natal datar tanpa rasa. Tanpa hurahura.Manusia sibuk merapikan diri. Mengeluarkan pohon hampir berjamur dari…

Saudara Imajiner

  Puisi ini, bersama satu puisi lain, “Kehilangan Buku” dimuat di ruang Puisi harian Pikiran Rakyat hari ini. Oleh redaktur, puisi ini dipotong menjadi hanya dua paragraf awal. Mungkin terdapat kesalahan teknis, tak apa. Namun sudah barang tentu pemotongan tersebut berpengaruh sangat signifikan (dan mengecewakan). Puisi yang jumlah katanya 372, dipapas menjadi 83 kata saja,… Read More Saudara Imajiner