Hagia: Samakah Kita?

Sempurna yang kau puja

Dan ayat-ayat yang kau baca

Tak kurasa berbeda

Kita bebas untuk percaya

“Seperti kami pun mengampuni yang bersalah kepada kami”

Hagia – Barasuara

(Menikmati tulisan ini boleh sambil mendengar Barasuara di link berikut. Menurut saya, mereka lebih seksi didengar ketika live)

Terima kasih kepada Reza Obe yang membuat saya kembali intens mendengar Barasuara. Terlebih, membuka jarak dengan musik untuk membedah isinya. Dulu, saya sempat membuat tagar (#) TafsirLirik di blog ini. Dalam waktu yang singkat, tagar itu hilang. Kegiatan membaca lirik sungguh butuh energi lebih. Kita mesti sabar dan menjaga diri supaya tidak terlihat memaksakan makna yang dimaui.

Beberapa hari lalu, tulisan “’Menggunjingkan’ Tuhan Lewat Hagia” dipasang di sebuah blog produktif, Buah Bambu. Seperti dapat dibaca, tulisan itu menemukan kebijaksanaan, keyakinan beragama dan kesucian Tuhan dalam Hagia.

Hemat saya, sebetulnya terlalu multitafsir kalau kita memisahkan kata-kata dengan kalimat di lirik Barasuara. Barasuara pengguna diksi kuat. Dalam arti, mereka anti bertele-tele; bicara yang penting-penting saja. Lirik mereka adalah key words dengan kesatuan yang harmonis.

Namun dengan cara apapun, membahas Hagia memang menarik. Saya harus sebut bahwa lagu itu cenderung normatif. Apalagi dalam konteks Indonesia, tempat—yang Reza Obe sebut sebagai—gerakan-gerakan antitoleransi radikalisme yang berujung pada perilaku kafir-mengkafirkan sedikit banyak mengambil ‘tugas’ Tuhan berada. Namun justru itu yang membuat Hagia baik adanya. Kita tidak bisa menyangkal bahwa membangun kritik lewat musik adalah satu hal yang bisa membuat sebuah lagu tidak lagi enak didengar sebagai sebuah kesatuan. Beberapa kritik malah sempat membuat saya merasa terganggu karena terlalu eksplisit; terlalu ideologis. Hagia melewati ujian itu. Ia anthemic nan megah.

Ada dua hal yang menurut saya bisa dikembangkan menjadi diskusi. Pertama adalah lirik “tak kurasa berbeda” dalam Hagia. Untuk menjadi ‘sama’ atau ‘beda’ dalam suatu masyarakat memang merupakan hal yang sensitif. Sensitivitas ini berakar dari persoalan otentisitas. Bagi saya, otentisitas itu penting.

Seperti kritik Kierkegaard terhadap abstraksionisme. Kierkegaard menekankan individu yang bereksistensi sebagai kebenaran, bukan totalitas objektif. Baginya, kawanan, ras, bangsa, kita, dan semacamnya adalah ketidakbenaran karena dalam pengertian tersebut, individu konkret direduksi ke dalam kelompok. Dengan demikian individu menjadi tak bersalah dan memperlemah rasa tanggung jawab individu.

Istilah eksistensi hanya dapat diterapkan pada individu konkret. Hanya aku individu yang konkret, maka aku tidak dapat direduksi ke dalam kawanan, kelompok, direduksi ke dalam realitas lain selain ‘aku yang bereksistensi’. Bereksistensi tidak berarti hidup dalam pola-pola abstrak dan mekanis melainkan secara berkesinambungan mengadakan pilihan baru secara personal dan subjektif dan dengan demikian mengambil keputusan-keputusan eksistensial.

Aku individu yang konkret adalah unik, sedemikian uniknya sehingga tidak ada orang lain yang dapat mengambil kebereksistensianku. Maka sesuailah, bagi saya, kita tak dapat menjadi sama begitu saja karena memang berbeda. Tiap orang memiliki keunikan masing-masing.

Saya pikir, penyamarataan terhadap segala kesempurnaan dan sabda; Tuhan dan Kitab Suci, adalah kejatuhan ke dalam jurang yang ekstrem. Menyatakan bahwa kita semua sama seperti menyatakan bahwa perempuan dan laki-laki itu sama saja, sehingga keduanya setara. Sedikit lucu dan terburu-buru sih.

Perkara otentisitas mencakup juga otentisitas dalam berkeyakinan. Dalam keadaan plural, soal perbedaan ini, Indonesia punya potensi untuk menjadi tanah perang. Maka sepertinya, menjadikan kita semua dalam kerumunan yang sama, menjadi satu cara yang cepat untuk membangun toleransi. Sudah saya sebut bahwa itu terburu-buru.

Ya, mungkin justru di situlah letak otentisitas Barasuara. Hagia menjadi sodoran saran terhadap pluralitas Indonesia. Hagia adalah sebuah narasi kecil yang menyatakan bahwa menjadi ‘sama’ atau ‘beda’ bisa jadi persoalan konstruksi. Apalagi dalam konteks Indonesia, ketika dalam menjadi ‘sama’ manusia-manusia unik Indonesia secara etis bisa hidup lebih humanis, mengapa tidak?

Ruang diskusi kedua adalah bahwa dengan pembahasan soal otentisitas, berarti kita terhubung pada kebebasan untuk meyakini, seperti yang dilagukan Barasuara, “kita bebas untuk percaya”. Ini sebetulnya situasi miris di Indonesia.

Pasal 28E ayat (2)  UUD 1945 juga menyatakan bahwa setiap orang berhak atas kebebasan meyakini kepercayaan. Secara hukum positif, Pasal 28I ayat (1) UUD 1945 mengakui adanya hak untuk beragama karena itu merupakan hak asasi manusia. Pasal 29 ayat (2) UUD 1945 juga menyatakan bahwa Negara menjamin kemerdekaan tiap-tiap penduduknya untuk memeluk agama.

Terdengar menyenangkan, bukan? Faktanya, kita masih saja akrab dengan laku intoleransi—baik dilakukan oleh pemerintah, maupun kelompok intoleran. Undang-undang No.1/PNPS/1965 tentang Pencegahan Penyalahgunaan dan atau Penodaan Agama menyebutkan bahwa agama-agama yang dipeluk orang Indonesia adalah Islam, Kristen, Katolik, Hindu, Buddha, dan Khong Hu Cu atau Konfusianisme. Muatan dalam Undang-undang ini akhirnya melahirkan istilah “agama resmi” dan “agama yang belum diakui”. Tak bisa kita pungkiri, istilah itu menyuburkan adanya diskriminasi para pemeluk agama-agama asli di Indonesia (mengenai ambiguitas hak kebebasan beragama bisa dibaca di sini).

Direktur Riset Amnesty Internasional untuk Asia Tenggara 2014, Ruppert Abbot, menyatakan bahwa sejak 2005 Amnesty International mencatat setidaknya 106 individu yang diadili dan dijatuhi hukuman menggunakan UU Penodaan Agama. Mereka kebanyakan berasal dari minoritas keagamaan atau mengekspresikan keyakinan agama yang dianggap menyimpang dari ajaran agama yang diakui resmi negara (sumber). Padahal, beribadah dan berkeyakinan dilindungi oleh hukum HAM internasional (baca juga ini).

Tepat sekali Barasuara memperdengarkan lagu ini di telinga kita. Tafsir memang bisa melebar, namun kita diajak untuk bersama-sama mengamini bahwa pluralitas adalah  fakta, pluralitas adalah medan perang, dan kita semua adalah pejuang.

Meski sebetulnya kita bukan abstraksi individu-individu; kau dan saya tidaklah sama, tapi bolehlah kita selama dua menit empatpuluh saja menjadi sama. Tujuannya tak lain untuk kemudian menjadi percaya bahwa kita bebas. Aku yang sesungguhnya adalah aku yang punya narasi kecil nan otentik.

Petikan doa Bapa Kami di akhir lagu adalah kunci. “…dan ampunilah kesalahan kami, seperti kami pun mengampuni yang bersalah kepada kami.  Ia bisa menciptakan jarak di mata kita dalam melihat kekitaan kita sebagai manusia Indonesia. Kenapa kita yang sebangsa ini tak bisa saling mengingatkan dan mencegah intoleransi yang kerap terjadi di tanah air? Ah…

“Dan janganlah masukkan kami ke dalam pencobaan, tetapi bebaskanlah kami dari yang jahat.”

Amin.

 

Advertisements

Malu

Di udara
Aku sering diancam
Juga teror mencekam
Kerap ku disingkirkan
Sampai dimana kapan?

Ku bisa tenggelam di lautan
Aku bisa diracun di udara
Aku bisa terbunuh di trotoar jalan

Tapi aku tak pernah mati
Tak akan berhenti.

Aku bisa dibuat menderita
Aku bisa dibuat tak bernyawa
Dikursilistrikkan ataupun ditikam

Bagi saya, “Di Udara” bicara tentang kebebasan. Kebebasan yang dilawan dengan kebebasan. Kebebasan orang-orang tertentu untuk mengancam, meneror, membunuh orang-orang yang tak sepaham. Tapi kebebasan macam itu—yang adalah “bebas untuk”—dapat dilawan oleh kebebasan yang didasarkan oleh hukum kodrat; kebebasan yang tidak bisa dicabut dari manusia, bahkan ketika dirinya sedang berada di kamp konsentrasi, menjelang kematian. Kebebasan itu tidak akan hilang begitu saja.

Kebebasan kodrati tidak diciptakan oleh masyarakat ataupun negara dan tidak dapat dipisahkan darinya. Dalam negara, tugas negara terhadap kebebasan itu hanyalah menjamin serta menegakkannya. Idealnya, tata negara tidak boleh diatur sedemikian rupa sehingga kebebasan-kebebasan itu dirintangi atau dipersulit. Sebaliknya, harus diatur sedemikian rupa sehingga kebebasan itu terjamin dan diperkuat. Tentu saja, dengan mempertimbangkan nilai-nilai universal.

Meski begitu, ada saja negara-negara yang tidak sepenuhnya menghargai kebebasan yang didasarkan kodrat. Dalam beberapa kasus, Indonesia termasuk salah satunya. Ada determinisme sosiologis yang menghancurkan kebebasan sekaligus mengabaikan hak-hak asasi manusia. Efek Rumah Kaca menyadari betul hal itu melalui lirik “Di Udara”. Sebut saja tekanan sosial, kediktatoran, propaganda, teror. Oknum negara bisa dengan bebas menggunakan kekuasaannya untuk mengancam, meneror, bahkan membunuh. Tetapi Romo Louis Leahy berujar, determinisme semacam itu tidak absolut dan malah membiarkan suatu margin penting bagi kebebasan.

Lagu yang diciptakan ERK khusus untuk mendiang aktivis Munir itu cocok untuk Indonesia yang punya sejarah kelam tentang hak asasi manusia. Kita masih ingat, bahkan banyak dari kita masih berjuang untuk menyingkap misteri pelanggaran hak asasi manusia terkait penangkapan dan pembunuhan orang-orang tertuduh PKI, terbesar di Jawa dan Bali. Masih tersisa juga trauma kaum Tionghoa yang bagai tidak lagi dianggap manusia pada Mei 1998. Lihat pula, orang-orang berpakaian hitam yang berdiri setiap hari Kamis di depan Istana Merdeka. Mereka berbuat begitu bukan tanpa sebab; mereka menuntut keadilan untuk mereka yang dicabut kebebasannya sebagai manusia. Saat kesalahan itu sudah terjadi, negara malah memperumit keadaan dengan tidak mengakui kesalahannya.

Kita, yang tidak mengalami tercerabutnya kebebasan itu hanya bisa berusaha memahami. Juga membantu menyuarakan hal-hal yang tidak bisa kita hayati sepenuhnya. Kegelisahan, kemarahan, tanda tanya, dan keheranan akan tidak dapatnya manusia merasa aman dalam memperoleh haknya. Hak-hak asasi manusia.

Kita, manusia, harusnya malu.

Imajinasi Ibu Kota

Senja Menggila

Tiada terasa

Senja semakin menggila

Setiap orang

Ingin tinggal di kota

Mari mencari

Mengumpulkan rejeki

Sedikit saja

Untuk sesuap nasi

Menyambut sinar mentari kota

Merasuk peluk membelai jiwa

Berpadu satu menuju cita

Bersama makmur sejahtera

Tiada terasa

Tiada terasa

Semakin gila

White Shoes and the Couples Company

Mendengar “Senja Menggila”, saya ingat ibukota. Jakarta. Kota yang penuh harapan. Meskipun sebetulnya harapan itu tidak berasal dari dirinya sendiri, tetapi ditempelkan oleh jutaan manusia dengan cita-cita beragam. Saat libur lebaran selesai dan ribuan pekerja dari udik kembali ke Jakarta, mereka kembali dengan sanak saudara. Apalagi harapannya kalau bukan mendapat pekerjaan yang layak, gaji yang banyak yang membuat kehidupan makmur sejahtera. Sesuai ataupun tidak dengan harapan, manusia-manusia pencari kerja itu berimajinasi mengenai kota. Tak ada yang tahu dengan persis keadaan sebetulnya di kota: adakah lowongan-lowongan kerja halal nan layak yang tersedia, mampukah mereka menghadapi kerasnya kehidupan kota yang penuh persaingan. Kehidupan itu hanya imaji; tidak (atau belum) teraba.

Seabstrak apapun imajinasi, tidak ada hal yang buruk sepenuhnya. Imajinasi dapat menghadirkan realitas. Ya, tentu saja realitas yang diinginkan. Menghadirkan realitas berarti memasukkan hukum sebab-akibat ke dalam alam virtual buatan imajinasi, bersamaan dengan bertumbuhnya kesadaran dan emosi yang menyertainya. Kesadaran dan emosi itu tentu saja hanya dimiliki oleh manusia: kesadaran untuk hidup lebih baik, emosi positif dalam meraih mimpi, dsb. Asumsi ini dapat dipahami dengan melihat kenyataan bahwa apa yang menjadi tujuan dari upaya penghadiran realitas dalam diri manusia tidak pernah merupakan realitas yang konseptual, tetapi figural. Duh, maafkan saya kalau ini sangat posmodern.

Jika manusia menghadapi suatu konsep, sebut saja keberhasilan hidup, kita tidak bisa menghadapi entitas yang berdiri sendiri dan real, sejauh konsep itu belum menjadi konsep imajerial. Tetapi bila kita menghadapi dan mengalami sendiri suatu dunia atau kondisi yang figural, kita adapat mengatakannya sebagai realitas karena sifatnya memang dapat dialami. Maka, dapat dimengerti jika ada seorang teman asal Flores yang sudah tinggal lama di Jakarta pernah bilang, “Selesai kuliah gue nggak mau balik ke kampung. Gue betah di Jakarta dan harus dapat kerja di sini. Di kampung situasinya nggak memungkinkan untuk dapat pekerjaan yang layak.” Dan sebaliknya, seorang teman lain asal Bandung yang sibuk penelitian sehingga harus pulang pergi Jakarta-Bandung pernah bilang, “Rieut di Jakarta mah. Macet, panas, (kendaraan) mepet sedikit teh langsung dibentak.” Dia menunjukkan ketidakbetahannya.

Tidak ada yang pernah berseru menginginkan untuk berhenti berimajinasi. Termasuk imajinasi tentang kota idaman, tentang pekerjaan serta kehidupan yang layak. Imajinasi dapat menjadi realitas jika manusia dapat menang melawan determinasi sosial dengan berlaku kreatif dan mempertimbangkan nilai-nilai. Dengan itu, tak hanya sesuap nasi yang bisa diperoleh, tetapi bahkan sebongkah berlian, kalau kata grup band Wali.