Sayang Jika Hilang: Catatan di Palu-Balikpapan-Samarinda-Palu

Jumat, Maret usia ketujuh belas malam, saya tiba di Palu. Tak ada yang gelisah. Langit baik, perut kenyang, suasana hangat cenderung panas. Saya tak berhasil ingat kopi apa yang saya teguk malam itu di Kopitaro. Beberapa isu berlompatan di udara. Mereka memang tak bersuara, namun sungguh ampuh seperti ninja. Duh, ternyata Maret usia kedelapan belas,… Read More Sayang Jika Hilang: Catatan di Palu-Balikpapan-Samarinda-Palu