Mengolah Rasa Dengan Puisi

Dua puisi buatan saya menghias laman blog di pertengahan September. Jujur saja, niat dan proses membuatnya bukan merupakan tuntutan tren sesaat. Saya sering mengalami kedatangan rentetan kalimat yang tiba-tiba. Sedang jalan kaki menuju minimarket, sedang mandi, atau menjemur pakaian lalu menyaksikan tetesan air dari pakaian basah dan mencium aroma pemutih campur pewangi pakaian. Aaah…

Hantuku” muncul sekelebatan. Puisi itu segera saya tulis dengan pertimbangan seperlunya. Beda dengan “Perempuan Penggoda yang Mati Oleh Linggis” yang berhari-hari saya simpan di kepala. Puisi itu hadir pertama kali dalam bentuk bayangan tentang semut berperut gendut di ladang tebu. Kemudian saya menyaksikan motor lalu lalang di jalan depan rumah orang tua saya. Kebanyakan dari mereka adalah sepaket keluarga yang mengantar anaknya ke sekolah. Saya pun mengolahnya.

Saya bukan penulis puisi yang tekun nan produktif. Ketika SMP, saya adalah penikmat puisi-puisi Dylan Thomas dan Anne Sexton, terutama yang bernuansa gelap. Mereka banyak menulis tentang kegelisahan hidup serta kematian. Sebelumnya, saya suka lirik pada lagu-lagu Teitur. Saya sangat menikmati ditenggelamkan keindahan kata-kata. Namun setelah duduk di depan komputer dan mencoba menulis “Perempuan Penggoda yang Mati Oleh Linggis“, saya sadar bahwa sebagai penikmat kata-kata, puisi tak sekadar diksi dan keindahan rima. Bagi saya, kisah harus jadi nomor satu. Maka lewat puisi itu, saya mencoba terus mengingat sebuah kisah. Kisah itu saya pegang kuat-kuat.

“Puisimu penuh ‘masalah’…” Kata Clemens Bajo, sahabat yang hari-harinya akrab dengan puisi, mengomentari puisi itu.

“Bukankah ada masalah di tiap karya?”

“Tidak semua masalah menarik.” Katanya. Ketika perbincangan kami tak berlanjut, saya sedikit berharap masalah dalam puisi saya menarik sifatnya.

Kisah adalah faktor penentu bagaimana kita menghadapi realitas. Ada kisah, maka akan ada sikap individu terhadap kisah itu. Dua orang yang berbeda bisa saja menghadapi kisah dengan sama, tapi mereka berdua belum tentu berhasil menjadikannya puisi.

Saya mengenal sepasang kekasih yang keduanya penyair. Tak disangka, di dinding Facebook mereka, ada banyak taburan kata-kata indah (mengatakan ini seperti mengatakan bahwa ada komedian yang di kehidupan sehari-hari ngelucu melulu). Tapi jujur, kadang saya tidak bisa menikmati puisi mereka. Berulang kali mereka mengucapkan jenis cinta yang sama satu sama lain, namun ketika saya tak menemukan kisah, saya akan dengan mudahnya skip. Bukan maksud hati melecehkan karya mereka. Saya mengalami betapa rumit menulis puisi. Saya sadar, harus ada kesabaran dalam mengolah rasa. Ternyata bukan hanya saya yang mengalaminya. Menulis puisi, hemat Bang Alexander Aur, adalah pergulatan filosofis.

“Ya, bikin puisi memang harus serius. Hehe.” Katanya baru saja. Ah, dasar penyair. Dianggapnya biasa saja kalimat yang baru diucapkannya itu. Cengengesan :mrgreen:. Padahal saya baru saja memanen peluh dari kegiatan menulis satu puisi agak panjang. Bukan persoalan panjangnya, tapi keseriusan mengolah rasa itu yang membuat saya terombang-ambing. Saya hampir menangis ketika tak kunjung dapat ‘berperan’ dalam kisah yang saya mau tulis. Beberapa kali saya terpeleset ke luar kisah dan kehilangan rasa.

Omong-omong soal peran, rasanya menulis puisi dan permainan rasa di prosesnya seperti pula proses berteater dan performance art. Diperlukan kebangkitan kepekaan akan tubuh, ide, bahkan keberadaan individu sebagai subjek. Ah, canggih betul…

jalan-jaksa

Menulis puisi sama dengan performance art (Performance saya dan ibu di Festival Jalan Jaksa tahun 2013, merespon teks Pablo Neruda: manusia lebih besar dari laut dan pulau)

Mungkin juga menulis puisi dan permainan rasa di prosesnya seperti olahraga yoga. Ibu saya dan ibu-ibu komplek baru yoga tadi pagi. Pulang ke rumah, beliau pusing.

“Pegal-pegal sih nggak, tapi pusing.” Hal itu, menurutnya, disebabkan oleh ‘pengolahan dalam’ yang dilakukan dalam yoga. Olahraga itu menuntut untuk merasakan nafas dan mengaturnya.

Mengolah rasa bukan hanya aktivitas para penyair. Rasa diolah supaya identitas kita sebagai manusia jadi berguna dalam hidup. Bagi masyarakat urban yang dihantam kerasnya tuntutan rutinitas, mengolah rasa itu penting. Kalau performance art butuh ruang spasial dan yoga butuh instruktur, menulis puisi hanya butuh pena dan sepotong kertas atau tisu (atau gawai).

Mengolah rasa, yuk!

Featured image diperoleh dari flickr.com

Menteri Hebat Dari Mana Saja

DSC_0302

Media lokal punya daya pikat tersendiri. Fokusnya kadang berbeda dengan media nasional. Pun begitu dengan isu yang ditebar. Bisa jadi lebih detil, ada pula kemungkinan cenderung close minded dan antroposentris.

Hari ini saya membaca “Pupusnya Representasi Jawa Barat”, sebuah berita terkait perombakan Kabinet Kerja. Sesuai judul dan cakupan persebaran medianya, dua menteri terganti dikaitkelindankan dengan Jawa Barat, tempat asal mereka. Saya pun tergoda untuk merespon dengan jiwa yang naif ini.

Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara-Reformasi Birokrasi dan Menteri Agraria dan Tata Ruang atau kepala Bapennas diganti. Kebetulan mereka berasal dari Jawa Barat, bersuku Sunda. Dalam berita, fakta itu dianggap mengecewakan. Hilang sudah representasi Jawa Barat di pemerintahan pusat. Tentu berita ini terkesan menyayangkan. Apalagi ternyata agenda utama Jawa Barat adalah mengangkat sebanyak mungkin figur lokal ke panggung politik nasional.

Adakah selama masa jabatan kedua menteri secara penuh menjadi jembatan apik antara daerah (asalnya) dengan pusat? Jika ya–bagi saya– jembatan menuju pusat itu baik jika dibangun di daerah yang benar membutuhkan, bukan di daerah yang secara lahir maupun batin dekat dengan sang menteri. Siapapun mesti objektif dalam bekerja menyangkut kesejahteraan banyak pihak.

Hemat saya, asal daerah dan suku bangsa–dalam kasus ini–tak bertalian. Menteri adalah milik bersama. Pekerjaan yang menjadi tanggung jawabnya adalah menyeluruh dan tak pandang daerah. Menteri agraria dan tata ruang tentu takkan hanya memperhatikan atau mengutamakan isu agraria dan keruangan dari daerah muasalnya saja. Tentu ia akan menyulap apa yang perlu disulap. Tentu ia akan menjadi kuping sekaligus mulut yang marjinal.

Atlas Jawa Barat berat jika dipikul, tapi mesti. Jawa Barat perlu dibangun. Pun begitu dengan daerah lain. Prioritas adalah sudut yang pingsan atau mati suri (sehingga mendesak dibangunkan). Untuk itu, perlu pandangan objektif dengan kompetensi mumpuni. Asal daerah bukan nomor wahid. Yang penting tukar-menukar posisi menteri tak berbasis politik transaksional–meski yang ini lain topik.

Semoga representasi Jawa Barat tidak hilang sungguhan, karena menteri terpilih bisa mendengar Jawa Barat, kemudian menyampaikan apa yang didengarnya dengan jujur. Sesungguhnya Jawa Barat butuh menteri hebat, sekalipun dari pelosok Kalimantan.

Tentang yang Saya Temukan di Sebuah Siang

Zat itu bernama iman.

Ia hadir di ruang kosong dalam diri manusia. Salah satu makna bekunya adalah kepercayaan (yang berkenaan dengan agama); keyakinan dan kepercayaan kepada Allah, nabi, kitab, dan sebagainya. Lainnya adalah ketetapan hati; keteguhan batin; keseimbangan batin. Semuanya berkait dengan hal-hal gaib karena memang zat itu tidak tampak pula.

Bagi saya, setiap insan mengandung iman. Iman turut bergerak dalam sejarah peradaban manusia.

Suatu siang menjelang sore di kampus, saya merasa penuh. Itu berarti, ruang kosong dalam diri saya terisi. Saya duga, isinya adalah zat bernama iman itu. Kepenuhan itu toh menghasilkan nestapa luar biasa. Jangan heran. Hal itu bukan tak mungkin. Seseorang dapat dengan yakin bahwa keyakinan dan kepercayaannya terarah pada hal-hal keduniaan. Uang dan jabatan, misalnya. Tak punya uang rasanya terbuang. Tak ada jabatan rasanya dikelilingi setan.

Ada pandangan umum yang beredar: keimanan adalah puncak eksistensi seorang manusia. Umum, namun bagi saya, terlalu naïf. Siang itu, perbincangan mengarah ke pandangan itu. Tak berapa lama kami bertukar candaan, seorang dosen kebetulan melintas. Ia bergabung dengan kami, para mahasiswa yang berkumpul namun berkutat dengan pikiran masing-masing.

“Bagaimana manusia bisa tahu bahwa ia mengalami lompatan eksistensi menuju keimanan? Bisa jadi ia yakin sekali bahwa ia sudah beriman, tapi ternyata masih di situ-situ saja….”

Bagaimana?

Bagaimana manusia bisa tahu? Apakah hal itu hanya menyangkut afirmasi subyektif? Seseorang mendekatkan diri pada sosok transenden, kemudian ia merasa mencapai pada kepenuhannya; pada imannya; pada ‘ketetapan hati; keteguhan batin; keseimbangan batin’. Dari mana ia bisa menilai pencapaian diri? Ketika seseorang mengalami pencapaian iman dan mengakuinya, validkah itu?

“Manusia butuh orang lain untuk mengingatkan!” Sang dosen terkekeh khas.

“Saya ini lama jadi pembimbing rohani….” Terkekeh lagi.

Saat itu, saya merasa refleks mengangkat sebelah alis, dan mengangakan mulut. Kata-katanya mungkin hal biasa. Umat manusia mungkin sudah lama bisa menjawab pertanyaan ‘bagaimana?’ itu. Saya tak peduli. Saya merasa kata-katanya adalah jawaban atas keterbukaan saya. Sebatas keterbukaan diri saja, karena saya toh tak pernah benar-benar bertanya dan mencari.

Beberapa kali—seperti kebanyakan orang—ketika terpuruk, saya menerjang awan, menikmati kepenuhan diri; menemui iman saya. Beberapa kali itu pulalah saya tak menemukan apa-apa, karena saya—akhirnya—tahu, saya yang bertubuh ini sendirian. Saya mengeluh pada wajah abstrak. Bersujud di lantai dingin. Bicara pada ruang kosong berisi miliaran telinga (yang terpaksa harus saya bayangkan sebagai telinga manusia).

Jadi, itu jawabannya….

Siang itu, saya merajut semangat kembali. Saya menoleh ke samping kiri. Saya menemukan tubuh. Ya, paling tidak,

“Mungkin, salah satunya tubuh itu.”

Ia, niscaya, akan jadi pengingat akan ‘ketetapan hati; keteguhan batin; keseimbangan batin’ saya. Tapi tentu ia tidak sempurna.

Lalu, di mana yang sempurna? Tentu manusia butuh penyelamat altruis dengan keutamaan yang melampaui segala. Saya mesti menemukan bentuk zat yang bisa diingat dan tertanam dalam diri bahwa miliknyalah telinga yang mendengarkan keluhan saya, niscaya.

Iman, sang pelengkap ruang kosong yang serba transenden ternyata butuh imanensi pula.

Memang ada kemungkinan saya salah tangkap dan gagal paham apa yang sebetulnya dimaksud sang dosen. Tapi entah kenapa, saya tetap merasa telah menemukan jawaban mengapa harus mengakui kebertubuhan sang segala keutamaan?