Sebuah Negara Buatan Turno

#Merespon puisi “Indonesia dalam Segelas Kopi”

karya Agustino Pea Mole

Beberapa minggu di awal November merupakan hari-hari yang berat dalam hidup Turno. Perasaan macam itu baru dirasakannya sejak enam tahun menjadi seorang ayah. Anaknya, Tiam, sedang gandrung pada bendera negara-negara di dunia. Tiap malam Tiam minta diceritakan tentang negara-negara dengan bendera yang baru dikenalnya.

“Maroko itu tetangga kita ya, yah? Kok benderanya ikut-ikutan?” Tiam berseloroh.

“Kok benderanya bintang satu aja? Emang negaranya kayak apa, yah?” Begitu tiap malam Tiam memancing Turno. Akibatnya, setiap hari Turno keder. Ia berselancar di internet mencari latar belakang negara-negara di dunia. Dengan hati-hati, ia mencari topik bahasan menarik yang tak terlampau rumit untuk Tiam kecil.

“Sejarahnya saja ya…” Malam Senin, ketika Tiam minta diceritakan tentang Amerika.

“Binatangnya saja. Amerika punya binatang apa?” Tak seekor binatang pun hadir di pikiran Turno.

“Sejarahnya saja. Seru loh. Benua Amerika ditemukan seseorang pelaut.” Tiam terdiam. Ia manggut-manggut. Mulutnya menganga seperti ada sesuatu yang belum tersampaikan.

“Sejarah itu apa?” Mendengarnya, Turno menghela nafas.

“Dari kemarin ayah sebut sejarah, kamu nggak paham?”

“Aku pernah paham. Tapi aku lupa….” Tiam memainkan kulit terkelupas di ujung jempol tangan kanan.

“Sejarah itu… em… Peristiwa yang terjadi di masa lalu.”

“Di Amerika ada binatang apa, yah?” Ternyata Tiam tak cukup sabar menyaksikan ayahnya bersitegang dengan gumaman dan kalimat putus-putus. Cerita tentang Amerika berlanjut sampai kelopak mata Tiam tidak lagi bisa menahan amukan kantuk.

Selasa sore, Tiam menghampiri Turno,

“Yah, aku tidak mau diceritakan negara mana-mana lagi.”

“Kok?”

“Aku mau minta dibuatkan negara aja. Sama benderanya ya, yah.”

“Dibuatkan negara?”

“Iya. Negara apa kek namanya. Benderanya harus lucu.” Turno geleng-geleng kepala mengantar Tiam yang berlalu begitu sahaja. Turno merasa patah hati—kalau bukan hilang akal.

“Anakku, makan apa kau tadi pagi?” Sengaja dikeraskan suara Turno supaya Maya, istrinya mendengar dari sudut meja makan. Maya tersenyum.

Malam harinya, Tiam bergegas tukar pakaian jadi piyama. Ia naik ke tempat tidur ketika malam belum dewasa betul.

“Mau ke mana?”

“Tidur. Yuk, yah, cerita…” Ajak Tiam pada Turno yang belum puas pada sesap kopi Flores dalam mug. Turno menghela nafas panjang. Panggungnya sudah siap, tapi ia sebagai penampil belum kuat secara mental.

“Bagaimana bisa bocah enam tahun merongrongku sampai gelisah betulan?” Pikir Turno.

“Apa negara buatan ayah?”

“Negara Kopi.”

“Kok aneh namanya?” Turno menatap tajam Tiam sembari pura-pura kesal. Tiam menutup senyum di mulut dengan tangan.

“Benderanya gambar apa?”

“Tidak ada gambar. Cuma warna merah dan putih.”

“Loh kok…” Turno mengacungkan telunjuknya. Tiam berbaring mendengar. Pasrah.

“Negara kopi luas sekali. Ada banyak orang. Warna kulit mereka banyak jenisnya, bahasanya juga banyak, mereka hidup sama-sama.” Turno merasa berat di kelopak mata. Kepalanya pun berat. Ia ikut berbaring di samping Tiam.

“Setiap hari orang-orang di negara itu bertemu. Dari dulu sampai sekarang. Dalam sejarahnya, orang yang bikin negara itu banyak belajar di negara lain. Mereka pergi berpencar supaya tahu bagaimana cara membangun negara. Tapi akhirnya pulang juga mereka ke negara Kopi. Sampai di tempat asalnya, mereka ternyata banyak berantem…” Turno memejamkan mata sebentar. Mengistirahatkan mata sambil melanjutkan cerita tentang pendiri negara Kopi yang rebut tentang bendera dan lambang negara.

“Bapak satu maunya burung garuda, bapak yang lain maunya harimau, eh, ada ibu yang pingin lumba-lumba jadi lambang negara kopi.”

“Ih, kalau aku pasti pilih Pikachu.” Tiam nyeletuk.

“Satu orang jadi presiden. Kalau sudah pensiun…”

“Apaan itu pensiun?”

“Sudah tidak bekerja jadi presiden lagi.”

“Oh.”

“Waktu presiden pertama pensiun, dia banyak dimusuhi, bahkan oleh rakyatnya sendiri.” Turno dan Tiam tanya jawab tentang pensiun hingga beberapa putaran.

“Jadi, dasarnya memang negara Kopi sudah kaya sekali. Mereka berbeda-beda tapi tetap bisa bersama-sama. Boleh berantem, tapi tetap baikan dan maju bersama…” Lanjut Turno mengantuk. Tapi masih memaksakan melanjutkan kisah seadanya. Sekenanya.

“…sanking sering orang-orangnya berantem, mereka jadi hapal satu sama lain. Jadi, kalau ketemu terus berantem, itu sering cuma buat hiburan aja. Kamu ngerti hiburan?”

“Mmhm.” Tiam mengiyakan dengan gumam.

“Lama-lama, negara Kopi jadi satu kekuatan besar. Kalau ada musuh dari negara lain, mereka akan lawan sama-sama. Mereka susun strategi bareng-bareng. Kalau ada masalah—misalnya baku ejek—mereka akan saling coba mengerti. Kenapa? Karena mereka punya yang namanya keadilan sosial. Bersama-sama mereka memperjuangkan kemanusiaan, nilai-nilai moral, dan perdamaian bagi semua orang”.

Kesadaran Turno tinggal separuh. Jangkrik di luar, dekat jendela, terdengar lebih nyaring dan membius dari biasanya. Lampu sudut kamar yang remang mencipta hawa enak tidur sampai mendengkur.

Tiam bergerak rusuh berusaha membelakangi tubuh ayahnya. Ranjang jadi bergerak-gerak tak karuan. Per yang terkubur di dalam ranjang mementalkan diri berkali. Gerakannya signifikan.

“Kok ayah dibelakangi?” Turno bertanya seperti orang mabuk.

“Ayah ngantuk. Ceritanya jadi susah. Aku tidur aja.” Mendengar jawab Tiam, Turno berusaha membelalakkan mata. Ia berusaha mengingat kalimat ‘susah’ apa saja yang sebelumnya keluar dari mulut setengah sadarnya.

“Ayah sih…”

“Hm?” Maksud Turno bertanya sambil pejam. Tiam memejamkan mata kemudian tidur sesaat setelah berkata,

“Ayahku, makan apa sih tadi pagi? Ceritanya susah.” ***


PROFIL AGUSTINO

Agustino Pea Mole atau akrab disapa Tino lahir Agustus 1990. Ia bersekolah di Sekolah Tinggi Filsafat Driyarkara setelah menjalani pendidikan di Kupang, Nusa Tenggara Timur. Selain menggeluti dunia peran, ia suka menulis puisi dan menciptakan lagu. Slanker garis keras ini sedang mengerjakan sebuah proyek, yaitu sebuah media dalam jaringan untuk mewadahi tulisan fiksi-filosofis. Tino dapat dihubungi di akun Facebooknya.

Kisah Alat-alat Berat

#Merespon single Rannisakustik, “Mariode”

2016

Dozer

Tak pernah sekali pun dalam proses penciptaan dirinya, dozer menginginkan menjadi dirinya hari ini. Sepandai-pandainya ia mengolah lahan, baru pada proyek ketiganya ia mendengar tangis pilu rerumputan. Mur-murnya sampai mengendor. Sendi-sendi bajanya hampir saling terpeleset. Nyatanya memang ia mengerjakan apa yang sewajarnya. Berhektar-hektar lahan harus dibuka. Lapisan teratas tanah harus diangkat.

Sempat dozer bertanya pada si scraper,

“Apakah kamu mendengarkan betapa melengkingnya tangisan ilalang itu?” Dozer panik. Scraper pun begitu, namun ia lebih pandai menyembunyikan perasaannya.

“Sudahlah. Memang begini fungsi kita.”

“Lihat, pohon asam itu menatapku marah.”

“Hanya dengan cara ini, kita bisa berguna.” Dozer dan scraper tidak berkata apa-apa lagi.

Tanah yang terpaksa mereka garap adalah sebuah ujung dari lahan pertanian dan peternakan. Di lahan berbukit itu, terderet pohon asam dan ilalang. Mereka sudah bersaudara sejak pohon asam cuma berupa bibit pendek dan letoy. Ilalang beranak cucu. Dengan setia, mereka mengantarkan orang tuanya menuju kondisi tercoklat dan terkering di penghujung usia—sampai jatuh melebur dengan tanah.

Kondisi tanah yang jauh stabil dan kuat dibandingkan dengan lahan basah, membuat pepohonan asam membesar liar. Tanah lahan kering sanggup menahan beban akar pohon-pohon besar, membuatnya jadi semacam benteng pertahanan.

Backhoe

Backhoe sudah mendengar kabar dari teman-temannya tentang lahan di sudut kota. Sebagai alat berat sepuh, ia tahu bahwa lahan tani dan ternak itu terkenal subur. Tak pernah berkurang kuantitas dan kualitasnya. Tanah itu dihuni cacing-cacing montok—makhluk yang selalu menjawil iba backhoe ketika mengeruk tanah di mana-mana.

Kalau backhoe berkesempatan menjadi manusia, lahan semacam itu tentu tak akan disia-siakan. Kalau backhoe berkesempatan memiliki lahan itu, ia akan jadi penyayang abadi yang tak mau memberikan sepeser pun segala kesuburan dan hiburan itu pada orang lain.

Ya, hidup di kompleks itu tentu merupakan hiburan bagi insan manapun. Mata sehat berhijau-hijau. Hati tentram mendengar alam. Tubuh sehat beraktivitas karena seluruh ternak dan hasil panen tak pernah jeda merengek minta diurusi. Tentu tak seorang pun mati karena serangan jantung di situ.

Sesal hati backhoe. Ia sempat tersenyum ketika menuju lahan itu. Anak-anak sekitar bertopi bucket menyapanya riang,

“Beko tuh, beko! Hoi, beko! Ikut dong!”

Backhoe masih bisa tersenyum sampai ia melihat seorang laki-laki duduk di atas tumpukan jerami. Ia tampak gelisah. Auranya sesepi arus kali malam hari. Laki-laki berkemeja aus dengan celana jins dan gesper badak itu kemudian berbaring dan menatap mayat-mayat pohon asam yang terbaring di sepanjang sisi bukit. Mata laki-laki itu pejam. Backhoe melihat sekelebatan cahaya di sudut mata bagian luarnya. Ia menduga itu pantulan cahaya matahari di air mata.

Roller

Mendengar cerita dari backhoe, roller merasa sedikit lega. Kalau memang lahan luas itu begitu berat dilepaskan pemiliknya, tentu paling tidak ia tak akan menyaksikan lahan hijau perlahan hilang. Agak bersyukur roller karena tugas itu bukan miliknya. Tugasnya hanya memadatkan lahan semaksimal mungkin. Beberapa bagian sudah ditimbun terlebih dulu sehingga jejak alami lahan itu tak terlihat lagi. Segalanya sudah rata dan dibuat cocok untuk bangunan bertingkat yang segera ditancapkan di situ.

Usai seluruh pekerjaannya dalam beberapa hari. Roller beristirahat di depan satu-satunya bangunan yang tersisa. Rumah itu ditinggalkan untuk diratakan paling akhir. Permohonan pemilik lahan dikabulkan pengembang karena dianggap kooperatif dan tidak mengganggu. Laki-laki pemilik lahan belum ingin melepaskan awasan dari seluruh lahan tempatnya dilahirkan dan disusui ibu dan para sapi.

Diam-diam, roller mendengar percakapan si pemilik dan anaknya. Usianya sekitar tiga belas dengan tinggi badan seratus enam puluh sentimeter. Angin menderu di sekitar mereka. Beberapa helai jerami yang tertinggal sempat menggelitik tubuh roller. Ia mengantuk namun tak usai rasa penasaran akan percakapan sepasang insan itu.

Si pemilik lahan tengadah ke awan berbentuk kepala beruang.

“Sudah, sampai sini saja segala kekayaan kita. Di ujung sana, tempat hutan dimulai, tempat kehidupan dimulai.” Matanya menerawang menembus segala batas yang bisa diterobos ketajaman.

“Apa, pak?”

“Dulu nenekmu bilang begitu. Bapak suka tidur di pangkuan nenek. Ketika bilang begitu, sungguh, seluruh ladang dan kandang ternak dapat bapak petakan lewat jernih matanya.” Belum pernah roller mendengar rentetan kalimat sepuitis itu. Mungkin anak itu pun begitu, karena ketika mendengarnya, ia seperti kehilangan arah. Ke mana bapaknya menuju, ia tak dapat menerka.

Dua Loader

Kisah yang didengar loader tentang pupusnya harmoni alam dan manusia begitu abstrak. Tinggal angin saja, tanpa jejak—apalagi sekadar debu. Wheel loader mengangkut tonggak-tonggak kayu bekas kandang ternak dan segunduk kesenduan yang ternyata lebih banyak jumlahnya.

Wheel loader rusak tiba-tiba. Entah apa yang membuatnya sanggup menolak menggusur bangunan terakhir yang tersisa di situ, rumah si pemilik lahan. Namun ternyata ia masih harus berada di situ ketika sang kawan, track type loader datang untuk menggantikan tugasnya. Setelahnya, semalam suntuk wheel loader tak bisa istirahat tenang.

Malam demi malam berganti, lahan subur itu beralih rupa. Penghuni gedung-gedung tinggi di situ memang riang. Anak-anak bermain terkikik sampai terbahak saling mengejek di playground. Nafas mereka dibantu rimbun tanaman dalam pot-pot. Mereka tumbuh besar akrab dengan desing mesin pesawat yang tak seberapa jauh—tanpa mendengar tangis gerombolan petani yang direbut rumahnya serta ditembaki gas air mata.

Semakin banyak manusia megap-megap bernafas di lautan beton. Tentu banyak orang mati karena serangan jantung di situ.


PROFIL RANNISAKUSTIK

Rannisakustik adalah komunitas seni yang mendukung dan menyuarakan semangat penghapusan kekerasan terhadap perempuan dan anak. Rannisakustik memproduksi dan memainkan lagu sebagai karya seni utamanya dengan tema tersebut. Rannisakustik baru saja menyosialisasikan 10 lagu baru. Lagu-lagunya (termasuk “Mariode”) dapat diunduh di blog RANNISAKUSTIK.

Featured image diperoleh dari www.alatberat.com

Sampai Jadi Debu*


 Sebelum kau bersegera malam tadi

wangi asap menguar

dari lubang pengeras suara

yang banyak, dempet, menjijikkan

Ketika kau pamit untuk tidur

senafas hela antara mabuk dan kantuk

nafasmu memburu

menggebuki hingga pecah layar monitor

Bahkan ketika pagi menggusur

tembok-tembok spasial

yang serampangan menghadang,

asap masih berbayang di dekat bulu mata.

“Salahkah kumenuntut mesra?”

menderu badai, kemudian

merontokkan bulu halus dalam kuping.

“Sampai kita tua, sampai jadi debu”

takkan kucabut penyuara kuping

menunggu kemesraan yang selalu sebatas dituntut.

November, 2016


“Sampai Jadi Debu” adalah salah satu judul lagu Banda Neira.