Fik-Min: Bincang Ibu-ibu

Bu Irna, istri ketua RT, menahan Bu Mariam di beranda rumahnya. Ia cerita A hingga Z pada tetangga barunya itu. Satu jam berlalu sampai tak ada lagi yang menarik digosipi selain mimpi Bu Irna semalam. Seorang pria tampan berkulit gelap dan bermata sayu menggodanya. Mimpi atau bukan mimpi, Bu Irna kelihatan senang dan berpeluang.

“Wah, berasa muda lagi. Siapa cowoknya, bu?”

Bu Irna tidak menjawab. Matanya membelalak menuju sesuatu di kejauhan, di balik punggung Bu Mariam. Lawan bicaranya menoleh penasaran.

“Itu orangnya, bu. Ih, kena masalah deh saya. Nyata lho orangnya. Maniiiis.”

Tak pikir panjang, Bu Mariam bangun dari duduk. Kakinya dihentakkan ke lantai. Ia berbalik. Pulang tanpa pamit. Ia bergegas sambil gumam,

“Ibu RT sialan. Nyablak mulu. Goda laki orang depan istrinya. Edan!”

Formulir permohonan KTP milik Bu Mariam sampai tertinggal di meja beranda Bu Irna.

Featured image diperoleh dari deviantart.com

Devil's Tail (Diperoleh dari Flickr https://www.flickr.com/photos/orsorama/1287531136)

Setan

Gambar: Devil’s Tail (Diperoleh dari Flickr)

Omaku yang rajin mengaji tinggal beberapa hari di rumah. Semenjak ia datang, aku sering mandi karena kepanasan. Neraka seperti menggelindingkan bara-bara api di lipatan-lipatan tubuhku.

Hari ketujuh–ketika ia mulai tak rindu rumah lagi–ia mengeluh sering terlambat bangun untuk sembahyang pagi. Seperti ada lantunan nina bobo yang menyumpal telinga. Jangankan terdengar sayup, panggilan sembahyang di pengeras suara bahkan tak terdengar.

“Kamu sih setan.” Ujar sahabatku ketika aku mulai bercerita. Kami tertawa. Aku merasa gatal di pantat, dekat ekor berujung panah milikku.

FIKSIMINI: Mandor

Seorang bapak bertugas seperti mandor. Ia berkacak pinggul di ambang pintu mengawasi seseorang memotong rumput dengan mesin. Ia mengawasi lantaran dianggapnya para pemotong rumput bekerja tak baik. Banyak rumput di sela paving block yang luput dari pisau mesin. Ada pula gaya mereka yang terlalu santai dalam bekerja.
“Sedikit-sedikit istirahat! Tak niat rupanya, mencari uang.” Ujarnya geleng kepala.
Bapak itu lalu mengangkat sarungnya setinggi lutut. Masuk ke dalam rumah. Melanjutkan minum kopi dan mengunyah pisang goreng. Kakinya diangkat ke kursi seberang. Betapa santai. Kelak, sepanjang hari ia begitu. Anak dan istrinya lalu lalang mengerjakan pekerjaan rumah. Menantunya duduk di lantai, membungkusi kue buatan istrinya yang hendak diantarnya tengah hari. Bapak bersarung kehabisan kudapan. Ia membuka kulkas mencari sasaran. Ia mengunyah hingga ngantuk di atas sofa. Ia tidur. Sore nanti, baru ia masuk kamar mandi. Membasuh tubuh. Lalu tidur malam sesaat petang habis.