Kematian Widuri dan Salam pada Lelakinya di Tanah Suci [3/3]

Entah sudah sampai di mana perjalanan Idu ketika aku menghabiskan batang rokok terakhir di kursi semen, di depan kantor polisi. Jenazahnya mungkin masih di rumah sakit yang berjarak hanya sekitar lima kilometer dari tempatku duduk. Mungkin pula sudah dibawa tante Ruth, tantenya di Bandung yang kukabari pertama kali setelah kejadian. Sampai kematiannya, aku adalah sahabat… Read More Kematian Widuri dan Salam pada Lelakinya di Tanah Suci [3/3]

Kematian Widuri dan Salam pada Lelakinya di Tanah Suci [2/3]

Sebelum malam tiba hari Selasa itu, aku dan Widuri sepakat bertemu di tenda kaki lima yang menjual sea food di seberang sebuah pusat perbelanjaan. Idu kebetulan sedang di Bandung untuk waktu yang lama. Sudah kubilang padanya bahwa aku tidak bisa menemaninya lama-lama. Sebelum berangkat, sudah kusiapkan rancangan cerita pendek yang sedang kukerjakan dan tidak selesai-selesai.… Read More Kematian Widuri dan Salam pada Lelakinya di Tanah Suci [2/3]

Kematian Widuri dan Salam pada Lelakinya di Tanah Suci [1/3]

Beberapa polisi penyidik menanyaiku kronologi tertabraknya Widuri, temanku, malam Rabu lalu, dengan pertanyaan yang sama berkali-kali. Di tepian jalan Soekarno-Hatta yang riuh, di dalam mobil patroli, di kantor polsek. Terasa jelas bahwa mereka berusaha mencari tahu seberapa konsisten ceritaku. Meski sudah hampir hapal ke mana pertanyaan mereka menuju, tetap saja aku banyak gelagapan ketika ditanyai.… Read More Kematian Widuri dan Salam pada Lelakinya di Tanah Suci [1/3]