Untuk Adikku Kalau Sudah 17+

: buat Ibrahim Ali “Dik, makannya pakai lontong. Supaya kenyang.” Kata kamu, bang. Kata-kata itu membuat saya terperangah. Saya melihat secercah kehangatan di matamu, atau sebetulnya itu adalah pantulan dari mata saya—tak mengerti betul. Bang, ketika kamu senantiasa memanggil saya dengan sebutan ‘adik’, saya akan segera teringat dua hal. Pertama, keinginan saya ketika masih kecil…

Revolusi Cangkang Tutut

Sementara ibu saya harus pegang tusuk gigi ketika makan tutut, saya cukup pakai bibir. Tutut memang hanya nikmat ketika dinikmati tanpa amunisi. Jika dagingnya dikeluarkan dengan tusuk gigi, tak akan ada kuah kuning yang ikut terseruput. Kenyalnya jadi nihil rasa. Saya mengenal tutut sebagai teman kecil di desa hijau di Kabupaten Majalengka. Kemudian menemukan tempat…

Menyantap Seblak (Bak Nikmati ‘Manusia Gabriel Marcel’ di Atas Piring)

Saya mengenal seblak sekitar tahun 2004, waktu masih duduk di Sekolah Dasar. Dulu, ada dua jenis seblak, basah dan kering. Seblak basah adalah kerupuk berbentuk bundar tipis yang dimasak dengan air. Teksturnya setelah masak menjadi lembut dan kenyal. Seblak kering, sudah dapat diduga, merupakan kerupuk yang digoreng biasa, lalu dibumbui garam, penyedap rasa, dan bubuk…