Filsafat

“Filsafat sempat bikin aku jauh dari kewajiban-kewajiban dalam agama, tapi setelahnya, filsafat juga yang menggiring aku kembali.” Katamu waktu itu.

Setelahnya aku shalat di kamarnya. Wangi sajadah, yang mirip wangi tubuhnya, masih terasa menempel di wajah saat aku hampiri dia di ruang makan. Dia sedang tekun menulis catatan harian.

Aku langsung menulis buku harian, hampir dua halaman paragraf opini pribadi tentang filsafat dan iman. Kalimatmu juga aku kutip di dalamnya. “Filsafat sempat bikin aku jauh dari kewajiban-kewajiban dalam agama, tapi setelahnya, filsafat juga yang menggiring aku kembali.” Bohong kalau kamu lupa.

Aku menciumnya. Dia terus mengoceh tentang filsafat dan iman. Kuduga, itu yang dia tulis di catatan hariannya. Kami lalu membangun diskusi sampai hampir tengah malam. Keterlaluan jika dia tidak ingat itu.

Advertisements

Wajah

…Eh iya makasih, sayang, tadi udah nyatetin biaya kuliah buat aku. Makasiiih banget!… Nggak apa-apa ya, sayang. Masih ada besok. Lagian kan kita bareng selamanya. Kita punya banyak waktu kok. Marry youu…

Nafas Windu saling memburu. Ia merasa darahnya seperti mendidih dan membuat daging-daging di tubuhnya perih. Harusnya ia tidak membuka-buka pesan pendek di telepon genggamnya. Terbukti, kalimat-kalimat macam itu ia banyak temukan lagi. Windu, yang sedang berkaca, melihat ada banyak wajah dan pemandangan. Wajah perempuan yang mengiriminya pesan itu, hingga kilasan gambar berbagai tempat yang dulu ingin ia singgahi. Gede, Pangrango, Semeru, Rinjani, Semarang, Yogyakarta, sampai kota-kota di Jerman. Cermin di kamar Windu terlihat seperti poster dengan tempelan kartu-kartu pos. Hingga akhirnya air mata yang menggenang sedari tadi berhasil menetes.

“Licik. Kamu pergi duluan ke Jerman.” Gumam Windu.

“Aku nunggu kamu kok. Aku kan mau sampai S2 di sini.” Ada wajah itu lagi. Kali ini di kelopak-kelopak oranye bunga plastik yang bersemi di buku tulis di atas meja belajar Windu. Wajah perempuan itu kemudian hilang dan muncul kembali di cermin. Wajah itu maju. Semakin mendekat, menghampiri Windu. Praaang. Cermin pecah. Wajah itu benar-benar keluar dari cermin. Tangan Windu yang mengepal terasa berkedut, perih, dan basah. Rasa sakit bekas kecelakaan sepeda motor bertahun lalu kembali menyebar di pergelangan. Tapi seketika itu juga tangisnya hilang berganti senyum. Windu meraba kehangatan dan kenyamanan yang datang dari cermin.

Memang tidak sia-sia Windu membuat perhitungan penuh biaya kuliah untuk perempuan itu bertahun lalu. Dia benar-benar berangkat. Studi ke Jerman. Hamburg.

Perempuan itu memang tidak pernah sampai ke Jerman. Yang ada, tubuhnya malah dikembalikan ke tanah air, ke rumahnya. Kaku. Paling tidak Windu tidak sia-sia. Seperti yang dikatakan perempuan itu, mereka memang bersama selamanya.

Dia sungguh perempuan yang setia.

Untung Saja

Mereka berdua duduk berhadapan di kursi panjang. Di tengah kedua kursi, ada meja yang juga panjang. Sisi kanannya mempertahankan genangan air berdiameter lima belas senti. Genangan itu muncul akibat bocornya atap warung. Air hujan jadi menetes perlahan dan bertahan. Sampai hujan selesai. Waktu itu memang hujan baru saja selesai mengguyur bumi; membuat tanah jadi basah; membuat langit tetap kelabu.

“Kalau nantinya aku nggak nemu siapa-siapa lagi, kamu juga nggak nemu siapa-siapa lagi…” Yang Berbicara menghentikan kalimatnya sejenak.

Nemu? Menemukan? Menemukan apa? Dia mencari? Ahh…

“…Aku mau kok sama kamu lagi…” Yang Mendengar diam saja. Hanya terdengar gelak tawa sopir-sopir jemputan sekolah yang sedang menikmati gorengan dan kopi hitam di pojok warung yang berbeda.

“…Tapi nanti… Kalau waktunya sudah tepat.“ Yang mendengar agak terbelalak. Kepalanya terangkat setelah berlama-lama menunduk; menyembunyikan matanya yang sembab. Entah karena debu, entah karena air mata.

Nanti? Apakah dia percaya Tuhan? Bahwa Tuhan bisa melakukan apa saja?

“Mungkin next year. Next next next year…”

Untung saja dia atau saya tidak mati mendadak karena tertimpa atap seng warung yang mulai rapuh. Sehingga tidak ada tahun depan.

Yang Mendengar mendecakkan lidah perlahan hingga seolah hanya dirinya yang dapat mendengar decakan itu. Setelahnya ia hanya tersenyum kepada Yang Berbicara, dan kembali menundukkan kepala.

“Aku minta maaf.” Ujar laki-laki di seberangnya. Matanya terus berusaha mendapatkan pandangan mata Yang Berbicara yang tidak juga mau memandang matanya.

“Ya sudah, hati-hati. Jaga diri. Sampai nanti ya.”

Sampai nanti? Untung saja dia atau saya bukan penderita penyakit kronis nan mematikan; yang sudah divonis dokter akan mati beberapa saat lagi.

Yang Berbicara bangkit dari duduk. Matanya masih mencari tatap mata Yang Mendengar.

“Hei…” Yang Mendengar memanggil.

“Aku sayang kamu.” Matanya tetap tidak menatap Yang Berbicara.

Untung saja saya masih sempat bertemu dengannya. Untung saja saya masih sempat mengucap kalimat itu. Untung saja waktu itu saya belum tahu bahwa kita memang tidak akan bertemu lagi. Kematian benar-benar datang. Meski terjadi begitu cepat, tetap saja, itu sedikit menggetarkan. Ya… Sedikit saja.

21 Januari 2012