Andai Prof. Driyarkara Masih Hidup Hari Ini


Banyak berita duka akhir-akhir ini.

Negara kita darurat korupsi. Komisi Pemberantasan Korupsi secara bertahap melakukan Operasi Tangkap Tangan (OTT) terhadap beberapa tersangka korupsi. Baru kemarin, 15 orang—termasuk bupati Nganjuk, Taufiqurrahman—terjaring operasi tangkap tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK).

Perkara bapak itu memang bukan cerita baru. Akhir tahun 2016, KPK sempat menetapkan Taufiqurrahman sebagai tersangka kasus korupsi APBD Nganjuk 2009-2015. Atas status tersangka itu, Taufiqurrahman lantas mengajukan gugatan praperadilan ke Pengadilan Jakarta Selatan. Maret 2017, PN Jakarta Selatan mengabulkan gugatan praperadilan itu.

Banyak kabar duka juga merupakan kasus gang rape. Di waktu yang hampir bersamaan, beberapa kasus terjadi dan terungkap. Salah satu yang parah terjadi di Luwu. Seorang anak 13 tahun diperkosa bergiliran oleh 21 orang laki-laki selama dua malam berturut-turut pada bulan Ramadhan. Kejadian itu baru dilaporkan bulan Oktober, ketika nenek dan paman korban mendengar gunjingan di kampung. Satu.

Iya, itu baru satu. Saya minta maaf harus ada lebih dari satu berita macam begini.

Seorang anak berusia 7 tahun di Kompleks BTN Walikota, Kelurahan Asano, Distrik Abepura, Kota Jayapura, Provinsi Papua diperkosa. Kasus ini belum mencapai titik terang.

Seorang ibu rumah tangga ditemukan dalam keadaan tidak bernyawa dan tergeletak di rumahnya di kompleks Perumnas Desa Pelempang Jaya, Tanjung Pandan, Belitung, Sabtu (21/10/2017). Sebelum meninggal, ia terlebih dulu diperkosa oleh orang yang turut pula mengambil barang-barang berharganya.

Seorang anak 13 tahun dicabuli beberapa kali oleh seorang buruh perkebunan sawit, PT Bumi Flora, Aceh Timur, Ismail (48), di kawasan Pasar Idi, Kabupaten Aceh Timur. Pelaku sudah tertangkap.

Perempuan 20 tahun, warga Jalan Pasar VII Beringin, Gang Rambutan, Medan Tembung, Sumatera Utara, meregang nyawa usai diperkosa secara bergilir oleh empat temannya. Eh, bukan, bukan. Lebih tepat, empat pria yang dianggapnya teman. Mana ada teman yang memperkosa temannya sendiri, bukan?

Berita-berita itu gila. Saya hampir tidak melihat ada wajah Manusia lagi di situ. Mungkin memang kegilaan-kegilaan itu terjadi tidak hanya di Indonesia. Dengan kata lain, ini bukan masalah Indonesia, melainkan masalah umat manusia.

Memang tak sedikit pula berita-berita baik, namun ihwal yang sedih-sedih dan menyorot para pelaku kriminil memang harusnya disorot lebih banyak, lebih tajam, lebih berani—supaya kita bisa menelusuri sebabnya dan membenahi diri.

Dalam hati saya berharap, krisis kemanusiaan bukanlah pertanda bahwa orang baik di muka bumi ini sudah sedikit. Andai orang-orang seperti Prof. Nicolaus Driyarkara masih hidup dan mendengar berita hari ini, mungkin ia menangis. Baginya, hal-hal seperti itu berkaitan dengan sudut terdalam di diri manusia. Kriminalitas adalah perkara moral.

Prof. Driyarkara adalah seorang imam Katolik, guru, dan filsuf yang hidup di zaman kolonial. Ia lahir 1913 dan meninggal dunia pada 1967. Ajaran-ajarannya membekas hingga kini—terutama di lingkungan pendidikan beberapa sekolah yang merealisasikan cita-citanya. Sejak tahun ’50-an, ia menulis mengenai permenungan filosofis yang orisinil.

Tulisan-tulisan Prof. Driyarkara sungguh terlalu luas untuk dikaji sekaligus—dalam satu-dua helaan napas. Jumlah tulisannya yang banyak dipengaruhi oleh perannya sebagai rohaniawan Katolik, guru filsafat, sekaligus pula seorang politikus (ia tergabung dalam MPRS 1962-1967 dan anggota DPA tahun 1965-1967). Prof. Driyarkara memiliki kemampuan untuk menyelami realitas dari berbagai arah; melihat dari banyak sudut pandang.

Omong-omong tentang moral, menurutnya, ada tiga penyebab utama yang membuat permasalahan moral muncul dalam hidup bermasyarakat. Ketiga hal itu adalah kurangnya rasa perikemanusiaan, himpitan ekonomi, dan hanyut dalam perasaan—sehingga akal sehat tak berjalan sesuai dengan suara hati. Bagi Driyarkara yang terpenting adalah manusia bertindak sesuai dengan tanggung jawabnya dan harus dipimpin oleh rasio, bukan oleh hawa nafsu.

Bertanggungjawab Sepenuh-penuhnya

Buku Karya Lengkap Driyarkara bagian Problematika Moral dalam Buku Ketiga Susila dan Kesusilaan sebetulnya menarik jika dikaji secara menyeluruh. Kalau sudah bicara moralitas, pendapat Prof. Driyarkara sangat beraura religius. Selain bertanggungjawab terhadap diri sendiri dan masyarakat, pertanggungjawaban juga harus tertuju pada Tuhan.

Namun marilah kita lihat hal yang universal, sekaligus juga yang utama: Prof. Driyarkara menekankan pentingnya menggunakan rasio. Rasio adalah poin utama yang dapat  membedakan manusia dengan hewan. Situasi serba sulit bukan alasan untuk menghindari tanggung jawab. Kesalahan memang tidak dapat dihindari, tetapi manusia dapat berupaya untuk bertanggungjawab sepenuh-penuhnya.

Manusia adalah makhluk paradoksal. Prof. Driyarkara begitu percaya bahwa ketika melakukan hal-hal buruk, terdapat suatu pertentangan mendasar dalam diri manusia. Pertentangan itu berada di wilayah moral. Bahkan ketika manusia tahu bahwa korupsi adalah perbuatan merugikan banyak orang, tetapi tetap saja korupsi dilakukan secara berkelanjutan.

Dalam diri manusia, ada dorongan ke arah yang baik, tetapi ada pula dorongan ke arah yang buruk yang bahkan sangat sering terasa lebih kuat. Faktisitas manusia seperti itulah yang disebut khaos, tidak teratur. Hanya dengan memiliki budi pekerti, manusia dapat mengalahkan dorongan yang buruk. Dorongan-dorongan baik dan buruk yang saling bertentangan, tidak teratur, serta khaos dapat diorganisasi dengan baik.

Manusia adalah sekaligus jasmani dan rohani. Sebagai jasmani dia tidak berkuasa atas dirinya. Manusia terikat hukum-hukum material yang ada pada tubuh. Tetapi sebagai rohani, manusia berkuasa atas dirinya. Dia bisa mengambil jarak terhadap tubuhnya dan tidak sepenuhnya dikuasai oleh insting. Memiliki budi pekerti berarti semakin mengembangkan kekuasaan dan mengurangi ketidakkuasaan itu.

Bukan berarti bahwa kekuatan-kekuatan yang berhubungan dengan kejasmanian adalah buruk dan harus dimatikan. Hal itu perlu. Tetapi sungguh apik jika manusia mengaturnya, memberinya harmoni, dan menyelaraskan.

Pendidikan Budi Pekerti

Tepat di situ inti pendidikan budi pekerti: mengatur khaos, ketidakteraturan dorongan-dorongan,  menjadi kosmos, keharmonisan dan keteraturan. Prof. Driyarkara menggunakan pembedaan yang diajukan Emmanuel Mounier, Traité du caractère. Mounier membedakan caractère donnée (tabiat bawaan) dan caractère voulu (tabiat yang dimaui). Prof. Driyarkara menempatkan budi pekerti di sela keduanya.

Budi pekerti jelas bukan bawaan. Dia tidak begitu saja ada, lalu orang bisa dengan tanpa susah-susah menerapkannya. Dalam arti ini, budi pekerti adalah caractère voulu; harus secara sadar diusahakan, dididik. Tetapi pada saat yang sama, budi pekerti juga memuat unsur caractère donnée: tidak ada yang mengajarkan. Meski begitu, itulah tabiat seseorang; manusia tidak meminta, tetapi itulah yang “terberi”. Tetapi ini juga tidak berarti bahwa tabiat manusia sepenuhnya ditentukan oleh caractère donnée. Tabiat manusia ditentukan pula oleh campur tangan sadar dirinya sendiri.

Manusia pada akhirnya adalah zat yang selalu menjadi. Manusia tidak pernah selesai dengan dirinya. Maka, caractère donnée sesungguhnya dapat diubah. Hal-hal baik dapat dikembangkan, hal-hal jelek bisa dikurangi.

Sebagai seorang pakar pendidikan, Prof. Driyarkara tahu persis bahwa pendidikan yang dibutuhkan manusia adalah pendidikan budi pekerti. Pada diri manusia, yang harus dididik adalah cinta pada sesama manusia, rendah hati, cinta tanah air, dan semacamnya. Bakat-bakat itu pada mulanya adalah benih-benih. Para pendidik bertugas untuk memupuk, menyiram, dan menyiangi godaan-godaan liar di sekitarnya.

Korupsi, penipuan, pengeroyokan, dan hal-hal semacam itu adalah berkat dari ketidaktentuan bakat manusia akan cinta. Sebab manusia belum sadar. Manusia sulit mengaktualisasikannya karena terdesak oleh dorongan lain.

Dalam ajarannya, Prof. Driyarkara menyebut bahwa cacat-sebagai-cacat adalah negatif, jadi tidak berdiri sendiri, melainkan ada sebagai kekurangan, atau apa yang disebutnya sebagai privatie. Contohnya, kelumpuhan atau kebutaan tidak berdiri sendiri sebagai barang positif, yang ada ialah kaki yang lumpuh atau yang tidak bisa bekerja.

Hal yang sama berlaku untuk cacat dalam bakat tabiat. Cinta jabatan didasarkan pada cinta pada kebesaran. Cinta jabatan tidak sepenuhnya salah. Cinta macam itu bisa menjadi motor penggerak dalam pekerjaan. Namun untuk membangun tabiat baik, manusia harus mempergunakan budinya. Budi harus disadarkan dengan diisi oleh nilai-nilai.

Manusia harus menjadikan hidupnya sebagai Wertengestaltung atau penjelmaan nilai-nilai. Pelatihan nilai-nilai dilatih dengan cara praktis dan dalam waktu yang lama.

driy

Andai Beliau Masih Ada

Saya tidak bisa membayangkan dengan persis, apa yang akan Prof. Driyarkara lakukan andai beliau masih ada hari ini dan membaca berita-berita sedih yang bikin mulut menganga. Indonesia yang sering terguncang ini tentu membuat Prof. Driyarkara terlara-lara dalam hati.

Mungkin ia akan menulis banyak sekali, mengolah Indonesia terus menerus sebagai bahan refleksi, menumbuhkan benih-benih pemikiran kritisnya, sekaligus juga keimanannya. Ia mungkin akan menulis dan mungkin banyak bicara di media massa—seperti orang Indonesia lainnya.

Mungkin pula, Prof. Driyarkara memilih untuk menjadi pengamat saja. Ia tenggelam dalam keriuhan dan berdoa dalam diam sembari terus mengajar; memperbaiki apa yang bisa ia perbaiki. Mengajar adalah berarti menakhlikkan keresahan-keresahan baru di jiwa-jiwa muda. Supaya kelak tidak jadi koruptor dan pemerkosa. Supaya kelak jadi Manusia, bukan sekadar daging hidup.

Ketika pada masanya Presiden Soekarno dan presidiumnya gagal membentuk DPA sementara negara sedang mengalami masa genting, Prof. Driyarkara berseru lewat tulisan-tulisan filosofis. Bukan ujaran kebencian. Bukan pula provokasi-provokasi yang berpadu benar dengan penghakiman. Sebabnya tentu tak sebatas karena ia seorang rohaniwan. Lebih dari itu, ia diselimuti keutamaan-keutamaan hakiki. Seperti kepompong yang bertumbuh. Sebab manusia memang terus menjadi.***

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s