Iklan Meikarta dan Independensi Kota


Tidak usah baca surat kabar tiap pagi. Tidak usah rutin buka kanal berita atau unduh aplikasi berita di telepon pintar. Tidak usah tonton televisi. Tidak perlu merumpi di sekitaran rumah. Tidak perlu yang begitu-begitu pun manusia bisa tahu bahwa hidup sosialnya penuh dengan masalah.

Di dalam rumah, sesama anggota keluarga bisa saling bentrok. Di dalam rumah, manusia bisa menyembunyikan diri dari rasa lapar—supaya kemelaratannya tidak perlu diketahui tetangga. Di halaman rumah kita bisa mendapati pencuri. Di jalanan komplek bisa bertemu dengan jalanan rusak, genangan air, bahkan banjir.

Manusia memang mengada bersama masalah-masalah sosial. Kita tentu bisa sama-sama merasakan betul bahwa hidup bisa sangat menyedihkan. Kalau tak saling bantu, memupuk simpati, dan merawat hasrat untuk hidup lebih baik, manusia bisa punah.

Memangnya siapa yang mau begitu? Saya kira tidak ada. Ternyata, tanpa kita sadari, ada! Di iklan Meikarta. Saya terlambat menyaksikan iklan Meikarta di televisi. Namun sekali melihatnya, iklan itu membuat saya luar biasa sedih, tapi juga bertekad kuat untuk tak akan pernah membiarkan empati dan simpati hilang dari diri anak-anak saya.

“Bawa aku pergi dari sini.” Begitu kira-kira ujar anak dalam iklan berkata ketika menemui berbagai problem yang banal di kota-kota di Indonesia: kemiskinan, kekumuhan, dan hal-hal semacam itu. Meikarta hadir sebagai solusi.

Nah, Anda sudah pernah nonton film Cloudy With a Chance of Meatballs (Sony Pictures Animation, Columbia Pictures, Sony Pictures Imageworks, 2009)? Silakan tonton. Itu film bikin lapar. Setelah tokoh utama, Flint Lockwood menciptakan mesin pembuat hujan makanan, ia menciptakan pula sebuah alat penyapu-lempar makanan yang berfungsi untuk menyapu sisa makanan di jalanan dan melemparnya jauh-jauh.

Bagi saya, konsep alat penyapu-lempar itulah yang disepakati oleh Meikarta: segala problem akan selesai jika Anda lari saja. Alih-alih terdorong untuk melakukan perubahan minim, anak dalam iklan malah ingin sekali lari dari kota yang jelek. Apa saya bilang tadi? Meikartalah yang hadir sebagai solusi.

Saya pikir, itu adalah konsep yang gawat. Darurat. Hidup manusia yang menyedihkan sebab penuh masalah ini dapat diselesaikan dengan menghindar. Kota manusia yang miskin dan kumuh dan banyak konflik dapat diselesaikan dengan membangun tembok.

Saya harus bilang bahwa kita tak bisa mentolerir kasus si anak itu dengan mengatakan, “Ah, itu kan cuma iklan.” Tidak. Lebih dari sekadar iklan, itu adalah gagasan yang kalau mengakar di otak masyarakat, bisa membuat simpati mampus. Ada masih banyak cara lain untuk menyampaikan gagasan dalam iklan.

Mungkin memang ada yang patut kita khawatirkan bersama dari konsep kota mandiri secara keseluruhan. Kota mandiri akan berbahaya jika terlalu mandiri alias hanya mengembangkan dirinya sendiri. Tinggal di dalamnya bak tinggal dalam benteng kota terlarang—terlarang bagi masyarakat yang tidak mbayar. Ia dibangun atas dasar segregasi yang tersistem. Memisahkan yang rusak dengan yang baik. Menjaga supaya yang sakit tak tercampur dengan yang sehat.

Bahayanya, sementara kota mandiri semakin berkembang, masalah di luar benteng semakin besar dan masyarakatnya berlarut-larut dalam kepayahan—bak sampah-sampah makanan yang dibuang alat buatan Flint Lockwood yang semakin menggunung kemudian runtuh. Sanking tebalnya tembok, masyarakat kota mandiri bisa-bisa terlanjur buta terhadap problem sosial.

Apapun yang terjadi kini dan kelak di Meikarta, saya juga dibawa khawatir dengan proyek yang paling dekat dari tempat saya tinggal sekarang: Tegalluar. Tegalluar, Gedebage, Jawa Barat menjadi salah satu titik Transit Oriented Development (TOD) kereta api cepat Jakarta-Bandung. Kemungkinan besar, daerah Tegalluar akan dibangun menjadi sebuah ‘kota baru’—sebuah kawasan strategis yang memadukan kawasan industri, permukiman, jasa dan perdagangan, pariwisata, kegiatan-kegiatan komersial lainnya, lengkap dengan pembangunan waduk atau danau buatan.

Anda yang akrab dengan Gedebage tentu paham bahwa banjir, kemacetan, dan kemiskinan adalah hal-hal yang belum selesai di sana. Kepada kota-kota mandiri yang akan dibangun menjadi, saya berharap kota-kota itu dapat benar-benar Mandiri (Iya, dengan M besar). Sosok yang Mandiri mampu memenuhi kebutuhannya sendiri, termasuk membangun relasi yang sehat antar-manusia sebab tentu tiap insan butuh itu. Independensi bukan ketertutupan. Independensi bukan lari dari masalah, melainkan tegak menghadapi hal-hal yang salah untuk diupayakan penyelesaiannya. Ia bijak, objektif, dan tak semena-mena membuat kotak-kotak sehingga tak pilih-pilih dalam pembangunan—secara fisik maupun mental.

Tapi eh tapi, kalau di iklan saja sudah segregatif, apa umat manusia masih punya harapan cerah? Duh, semoga saya yang luput.

Featured image: “Minneapolis Minnesota Skyline” by ModernArtPrints, 2013

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s