Konservasi, Sebuah Laku Mencintai


Belum genap pukul empat sore ketika hujan selesai. Langit masih berjelaga. Saya duga masih akan hujan lagi. Bandung Timur memang mulai sering hujan di awal April.

DSC_0498

Lumut dan bayi-bayi pakis serta suplir

Di halaman rumah, hamparan rumput gajah tidak ada yang kemuning lagi. Pakis dan suplir-suplir tumbuh bergerombol di sudut-sudut. Tunas-tunas pohon jambu batu mencuat dari tanah. Itu sebab dari buang biji sembarangan.

IMG_20170307_114150

Mengajarkan anak-anak untuk mensyukuri hujan dan menyayangi halaman rumah adalah sebuah tahap penting

Selain tanaman yang tak sengaja tumbuh, di halaman rumah ada banyak pula tanaman yang sengaja ditanam. Cabai merah, tomat ceri—cung kediro orang Palembang menyebutnya—serai, jahe, kunyit, dan berbagai bumbu ditanam di satu bidang khusus. Kami, para penghuni rumah, berusaha memanfaatkan lahan yang ada. Hasil ibu bumi yang manfaat itu juga kami pergunakan sebaik mungkin, secukupnya.

Saya suka berada di halaman rumah ketika musim penghujan. Membahagiakan rasanya melihat pelbagai jenis tanaman tumbuh dalam satu lingkungan. Membiarkan lahan seluas hampir 49m³ dihuni beragam jenis makhluk hidup adalah sebuah upaya konservasi.

DSC_0485

Rimbunan jahe yang basah

Memang kata konservasi terkesan besar dan rumit. Kamus Besar Bahasa Indonesia mengartikannya kata konservasi sebagai pemeliharaan dan perlindungan sesuatu secara teratur untuk mencegah kerusakan dan kemusnahan dengan jalan mengawetkan; pengawetan; pelestarian. Kerusakan alam memang tak hanya disebabkan oleh tindakan manusia, tetapi merawat alam adalah bentuk merawat diri.

Manusia harus merawat alam sebagai rumah untuk menjaga keberlangsungan diri dan peradaban. Suatu tujuan yang egosentris, namun bukankah memang patut manusia mencintai diri sendiri?

Di halaman rumah, keanekaragaman plasma nutfah alami sebisa mungkin dibiarkan alami. Kami memelihara pohon yang berasal dari pelok mangga kesukaan Aura kecil; membiarkan pakis, suplir, dan lumut-lumutan tumbuh dewasa, mengundang katak, jangkrik, dan tonggeret berpesta; semut dan nyamuk-nyamuk tergoda datang juga, karena hanya mereka yang membuat para katak betah.

IMG_20170405_091234

Gerombolan jamur yang bahagia

Di dalam pagar rumah—tak ubahnya cagar alam—pemanfaatan makhluk hidup dilakukan secara bijaksana. Pakis liar dan antanan kami petik untuk lalapan, cacing tanah kadang diambil beberapa untuk ikan di bak belakang rumah.

Bagaimana kami tak tergoda merawat batang tumbuhnya kakak-beradik ranum ini?

Ketika tanah mulai kering dan mau pecah, air cucian beras ibu kugunakan untuk membasahinya. Hal-hal kecil itu dilakukan tak lain untuk menjamin kesinambungan hidup mereka. Tujuannya tak lain untuk tetap memelihara dan meningkatkan kualitas keanekaragaman dan nilainya.

Membiarkan halaman rumah apa adanya adalah langkah awal untuk memelihara suatu sistem. Perlindungan terhadap hidro-orologi: tanah, air, dan iklim global, menjadi hal yang jadi bagian dari hidup sehari-hari. Sistem kecil itu  saya harap dapat memperkasakan bumi. Tentu kalau banyak halaman rumah menjadi konservator, niscaya konservasi bukan lagi perkara yang besar dan rumit.

Konservasi alam sudah seharusnya jadi hal banal. Menyelamatkan bumi tidak akan menjadi sebuah beban yang memberatkan. Tentu konservasi adalah tugas negara pula. Di Indonesia, kebijakan konservasi diatur dalam Undang-undang nomor 5/90 tentang Konservasi Sumber Daya Alam Hayati dan Ekosistemnya. Namun bumi tak hanya butuh Kawasan Suaka Alam dan Kawasan Pelestarian Alam. Lebih radikal lagi, bumi butuh cinta para manusia.

Konservasi alam di halaman rumah bukan hanya melestarikan sumber daya alam, tetapi juga melestarikan cinta dalam diri manusia. Cinta yang sungguh-sungguh, cinta yang penuh keyakinan bahwa habitat alami dari suatu wilayah dapat dikelola dengan baik. Sementara itu, keanekaragaman genetik dari spesies dapat berlangsung dengan mempertahankan lingkungan alaminya.

Selain menanam pohon dan membiarkan kehidupan alami berlangsung, manusia dapat turut pula menanam kebajikan. Konservasi alam dan pelestarian jadi serba sederhana di tengah kerusakan bumi yang pelik. Pada pokoknya, konservasi adalah sebuah laku mencintai.

Advertisements

4 thoughts on “Konservasi, Sebuah Laku Mencintai

  1. Bener mba.. Kalau setiap orang tidak mencintai bumi ini, semuanya akan terlihat berantakan..

  2. Cool Online Document Convert Tool Pharady.com

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s