Layung 31 Desember 2016


Beauty is a sense of harmony.

Sore 31 Desember 2016, ketika saya mondar-mandir menyiapkan penganan, langit lembayung menembus kaca, pintu yang terbuka separuh, dan atap transparan di ruang makan. Melihat ke luar, ternyata lembayung terasa suram. Awan keberatan uap. Seluruh Bandung Timur seakan terperangkap di lapisan antara langit dan tanah. Seperti pasta coklat di tengah wafer.

Meski masih terang, layung itu membuat saya merasa siang sudah habis ditelan waktu. Waktu (Kronos) memang suka menelan segala sesuatu di sekitarnya. Akibat layung itu, saya jadi tak enak hati karena langit seperti memendam badai. Merah milik layung bukan semu malu-malu, tapi lebih mirip dengan kemarahan.

Keindahan layung 31 Desember tadi itu bukan hanya perkara harmonisasi warna. Kehadirannya mempengaruhi mood. Saya biasanya tak begitu peduli pada momen pergantian tahun, namun entah mengapa sebab, tadi sore saya merasa layung dan waktu saling memeluk erat. Mereka berjejaring di memori yang tak kunjung putus tentang tahun ini, 2016.

Ekstrospeksi dan Introspeksi

Ekstrospeksi adalah proses kognisi yang mengarah ke luar diri. Ia adalah proses memahami pengada di luar sana, sesuatu yang selalu saya lakukan tiap hari. Mengikuti berita di harian cetak maupun koran di 2016 membuat kening saya kian berkerut. Banjir dan gempa, biarlah hati kecil terima, namun marak tangkap tangan korupsi, terorisme, dan konflik politik berbau SARA betul-betul membuat energi terkuras. Akhir 2016, saya putuskan menutup akun Facebook demi ketegangan yang saya percayai pengaruh pada kesehatan.

Banyak pekerjaan yang saya tunda. Dalam introspeksi, saya menemukan banyak ketersendatan. Tak putus saya berusaha menangkap tindak psikologis diri dalam kaitannya dengan pengada dari dunia luar. Tahun 2016, saya berulang menyelami diri. Saya berusaha menghadapi pikiran dengan adil dan berusaha lebih peka dalam merasa.

Pergulatan spiritual yang menurut saya paling seru. Seperti yang saya pernah sebut-sebut dalam salah satu status Facebook, “ketidakpuasan sosial dapat pula menciptakan ketidakpuasan spiritual”, kira-kira begitu. Iya, saya masih saja merasa begitu.

Tahun ini, hati kecil diam-diam menuntut untuk menyelesaikan skripsi. Orang di sekitar pun sama. Namun, tak sangguplah saya mengusir risau karena sebetulnya semester ini saya belum tercatat sebagai skriptor di kampus. Novel perdana pun tertunda. Sedikit bocoran, novel ini rencananya akan terbit awal 2017, namun editor saya kurang galak 😀

Segala naik-turun emosi yang saya rasakan sebetulnya tidak memberitahu saya apa-apa tentang realitas, lepas dari kenyataan bahwa emosi adalah hal yang membuat saya kaya akan rasa. Maaf kalau saya sok maju selangkah dengan meminjam kata-kata Ayn Rand, tokoh bahan skripsi saya. Tanpa komitmen keras untuk jujur mengintrospeksi diri, saya tidak akan menemukan apa yang sebetulnya saya rasakan, apa yang membangkitkan perasaan, dan apakah perasaan saya adalah respon yang tepat untuk fakta-fakta realitas. Nah, ini problem.

Saya bermasalah dengan kejujuran. Tentulah kalau sering mengaku dosa, saya selalu terlilit masalah kejujuran. Saya suka diam dan menyimpan segala sesuatu sendiri. Bahkan kebencian. Ia bisa begitu lama menghuni diri. Iya, memang akumulatif seperti paket data di akhir bulan, tapi bukan berarti 2016 saya tak punya cinta.

Cinta

Justru di tahun 2016, saya kehadiran satu cinta baru, yaitu sesosok tanggungjawab baru yang alih-alih membebani hidup saya, ia malah menyederhanakan kerumitan yang saya emban lama.

To love is to value.

Cinta adalah ekspresi dari nilai-nilai seseorang. Ia adalah hadiah terbesar yang saya dapat untuk kualitas moral diri ini. Meskipun 2016 jalan pikir pendek saya telah menyakiti banyak orang, membuat saya kehilangan citra moral di mata manusia lain, namun justru, saya disadarkan bahwa cinta bertujuan membebaskan diri dari kekangan moral. Maksudnya, cinta ternyata jauh lebih superior daripada moral judgment.

Sekitar awal Oktober 2016, saya memutuskan melakukan terapi bekelanjutan. Ini dilakukan untuk mengatasi masalah saya tentang relasi dengan orang lain. Mengatasi kebencian dan dendam termasuk di dalamnya. Saya mulai menjalin hubungan pertemanan intensif dengan banyak orang, belajar membuka diri, belajar pula menahan diri. Eh, berkat kesemuanya itu, menjelang akhir 2016, saya mendapat pekerjaan yang cukup besar. Rezeki untuk saya dan keluarga. Terapi ini adalah pengalaman paling ‘mesra’ yang saya alami dengan realitas.

Sungguh, layung sore tadi menelanjangi ingatan tentang sejauh mana saya mengenali diri. Harmoni warna layung yang ‘indah-indah-ngeri’ bikin saya terhenyak: jangan-jangan, hidup yang belakangan saya anggap indah, ternyata  membuat orang lain memendam badai yang tak putus di hidup orang lain.

Tahun 2017 datang. Ujar beberapa opini di Twitter, 2017 masih akan mempersembahkan bencana, cela-mencela, pribadi korup, teror, dan sebagainya. Manusia diminta biasa saja menghadapi pergantian tahun. Menikmati layung terakhir di 2016 seperti menikmati realitas yang akan datang. Saya takkan berusaha mengaguminya menjadi sebatas harmoni. Enak saja. Waktu layung tadi sore, anak-anak saya larang ke luar kok. Mainan yang tertinggal di rerumputan pun diambil sambil lari.

Layung 31 Desember memang cantik, tapi pun menyeramkan. Istimewa, tapi patut diwaspadai, bak masa depan.

Featured image diperoleh dari beforeitsnews.com

Advertisements

One thought on “Layung 31 Desember 2016

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s