Menjadi Putih-pada-dirinya


Sepandai-pandainya orang yang menempuh pendidikan tinggi, kompleksitas rasa seorang ibu tak bisa dianalisis. Sekuat-kuatnya naluri, dinamika pengalaman jadi ibu tak bisa diaku-aku. Saya tidak mencoba menggurui. Saya membagi pengalaman-yang bahkan untuk diceritakan saja kadang terlalu njelimet.

Saya pernah bilang pada seorang dosen yang juga sahabat saya bahwa menjadi ibu yang berjalan maju tanpa makan hati itu sulit. Tak ada ibu yang tak peduli pada anaknya. Bahkan seorang perempuan pembuang anak pun sepertinya tak mungkin mengingkari keibuan dalam dirinya. Hidup ibu lebih dari satu. Terbaca klise? Ya, sungguh mudah pengalaman ibu dijadikan klise. Banyak hal tentang ibu yang jadi sekadar simbol: memasak, menggosip, melayani, kelembutan hati, tak pernah marah, dan semacamnya. Segala hal itu seolah membuat khalayak paham betul soal jadi ibu. Ibu telah jadi simbol kepahlawanan baru. Sesederhana itu.

Bicara soal ibu, tentu tak bisa lepas dari anak-anak. Punya anak itu menyenangkan. Saya tahu persis. Saya bilang tadi, banyak makan hati, memang betul. Namun anak-anaklah sumber semesta seorang ibu. Lahir; menyusu; mulai tengkurap; punya gigi; hobi menggigit; bisa bicara; meminta menu ayam untuk makan sore, semua itu serupa letupan kecil yang menciptakan planet-planet baru dalam galaksi. Memperluas kemungkinan akan kehidupan.

Bagi saya, the big bang alias kelahiran adalah perkara paling sakral. Tak usah kita bahas tentang berapa biaya dan tenaga yang dikeluarkan. Saya lebih tertarik bicara tentang keterlemparan manusia dan kemungkinan-kemungkinn yang hadir bersamanya. Pecahnya air ketuban adalah peristiwa penyerahan identitas dua manusia sekaligus: ibu dan anak. Maka sebelumnya, ibu mestilah berbaju putih alias netral.

Ibu adalah pemungkin segala bentuk pilihan manusia dewasa. Tak lain karena ibu berperan dalam proses hominisasi dan humanisasi. Kalau ia tak netral, Sudah barang tentu ia tak akan bisa paham beragam pilihan-atau paling tidak, takkan mau paham.

Beberapa waktu lalu, di acara bersama anak, saya mengenakan baju putih cantik warisan nenek dan ibu. Peristiwa itu buat saya berpikir, tidak mudah tampil dengan baju putih. Menjaganya tetap tanpa noda sampai acara selesai, apalagi dengan anak-anak. Minta gendong dengan telapak sepatu nyangkut di Baju, makan cendol dan pisang tanpa khawatir getah dan noda. Huuuffft. Seperti pula menjadi ibu, tentu harapan tak boleh redup.

Setianya, ibu adalah mater alma. Kesejukan. Meredam cipratan noda di baju dan kasih. Memayungi dengan keteduhan.

Sayang, ibu tetap manusia. Dengan cela yang tak kunjung putus. Ia senantiasa berdoa: minta uang melulu, kesehatan anak-anak tak boleh diusik, dan keluarga sempurna. Ada pula ibu yang suka meminta tapi ragu ke mana hendak melabuhkan doanya yang menggunung.

Ketika ibu sadar bahwa ia manusia yang menista dan neko-neko, maka ia hanya bisa menikmati kompleksitas perjumpaannya dengan wajah anak-anak. Juga mengingat natalitas. Mempertahankan baju putih yang diemban. Bahkan mungkin Seperti saya, mencoba sekuat mungkin jadi putih-pada-dirinya.

Salam,

Ibu Aura

Advertisements

2 thoughts on “Menjadi Putih-pada-dirinya

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s