Pohon Milik Natal 


Sebuah kolaborasi bersama fr. Emen Bhajo di Kamerun. Kami menelusuri jejak Natal-sebagai-subjek. Jangan-jangan, kita riuh selebrasi, bahkan ada pula yang gelut sampai urat keluar dari leher, si Natal ini kesepian….

JEJAKAta

Pohon yang berbuah di Super Market

Natal tinggal di rumahnya. Hanya manusia yang bepergian. Mampir di pulau-pulau jauh. Merengkuh kerlapkerlip sarat perasaan membuncah.


Tentu Natal punya pohon pula. Pohon kesederhanaan tanpa bolabola kaca atau malaikat di pucuk. Natal datar tanpa rasa. Tanpa hurahura.

Manusia sibuk merapikan diri. Mengeluarkan pohon hampir berjamur dari gudang. Debu kemarau yang masuk lewat jendela memeluk erat daun-daun.

Awal Desember, pohon dipindahkan ke ruang tamu. Si bungsu bertanya, “Mama, pohon ini selalu hijau dan daunnya tak pernah gugur. Kenapa pohon natal kita tak pernah berbuah?”

Natal duduk manis di rumahnya. Hangat sinar mata mengerami buah di pohon miliknya yang masak sebentar lagi.

Kalender di dua puluh empat siang, Ayah tiba dengan kantong plastik dari supermarket. Ia jongkok meletakkan kado. Hanya pada pohon milik manusia dapat tergantung bintangbintang dan kartu ucapan.

“Apakah Natal depan aku boleh memetik buah pohon natal di mall?” Suara si Bungsu berdenging di…

View original post 75 more words

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s