Saudara Imajiner


 

Puisi ini, bersama satu puisi lain, “Kehilangan Buku” dimuat di ruang Puisi harian Pikiran Rakyat hari ini. Oleh redaktur, puisi ini dipotong menjadi hanya dua paragraf awal. Mungkin terdapat kesalahan teknis, tak apa. Namun sudah barang tentu pemotongan tersebut berpengaruh sangat signifikan (dan mengecewakan). Puisi yang jumlah katanya 372, dipapas menjadi 83 kata saja, (kelihatannya) tanpa menimbang efektivitas kalimat, cerita, dan hal-hal lain yang mesti dipertimbangkan ketika memangkas sebuah puisi.

By the way, nama saya bukan Adhitya Kriesna, ya 🙂 Keterangan di bawah puisi salah.

Akhirnya, saya memutuskan untuk menerbitkan puisi ini di blog pribadi supaya orisinalitas karya masih tetap bisa dinikmati khalayak. Jika berkenan, mohon dibagikan, ya!

Salam,

AA


Waktu kecil, aku berharap punya kakak laki-laki. Kakak laki-laki tampan dan suka mengusap—dan sedikit mengacak rambutku—yang mengundang pekikan tertahan teman-teman perempuan. Tentu iri hati mereka. Patah harapanlah aku ketika sadar bahwa manusia tidak tumbuh dari dua ujung jari yang dijentikkan.

Tak ada briket, sabut kelapa pun jadi. Mungkin akan sama menyenangkan kalau punya adik saja. Main-main dengan ketiak bau basah di gunungan pasir. Bersama-sama resah sebelum diomeli. Kalau kamu punya saudara, akan seperti apa dia nanti? Kucingku selalu ingin tahu. Rahasia.

Kuatur di awan-awan dekat kepalaku supaya parasnya tak jauh-jauh dari aku. Mungkin boleh kulitnya lebih gersang sedikit, karena sungguh tak puas aku dengan kulit pecah-pecah milikku. Aku yang sedikit lebih baik daripadanya mungkin baik untuk kita.

Pakaian kegemarannya tak jauh berbeda sehingga kami bisa bertukar segala. Kuracik sudah saudaraku. Agamanya apa? Ujar ngeong dekat telinga. Eh, memangnya agama bisa dipilih? Tak dijawab pun ternyata tak apa karena aku tak pernah kedatangan mereka. Kakak maupun adik yang ketakhadirannya tidak sia-sia.

Tetiba di umur lima belas, aku kedatangan saudara di pagi bisu. Ia objek imajiner. Hadir di waktu-waktu pengasingan. Agamanya apa? Ngeong kucingku lagi. Aku menoleh pada saudara sambil bertanya lewat tukar cahaya mata.

Siang sebelumnya, rumah tetangga kedatangan para legioner berdoa untuk kesembuhan. Setelah paginya salawat dan doa-doa seperti yang Aisyah dengar dari Rasul Allah. Maka kuputuskan, adanya saudaraku melampaui segala agama yang bisa dipilih.

Ternyata datangnya saudara dari balai raja-raja. Tak sekadar mengacak sayang rambutku, ia juga  menelikung maut di semestaku. Jiwa nelangsa—apalagi sekadar lapar—dipangkunya. Tak luput pula cinta untuk eksistensi dan esensi segala pengada, juga segala bencana.

Saudaraku seorang santo. Kebiasaannya lucu: bergumam sekelebatan, lalu dihampiri serangga dan burung-burung yang riang. Ia menunduk saja. Menghadapi hati dan telapak kaki.

Usiaku sembilan belas, aku kedatangan manusia dalam rahim. Saudaraku mencumbunya seperti menyambut sangkakala. Ia mencintainya seperti tak ada hari esok. Bahkan sepuluh dosaku kelak, dirangkainya jadi puisi. Sering aku terpancing diksinya. Kami berbalas kata hingga mabuk.

Pukul sepuluh, pagi hampir basi. Aku masih pusing dan meracau di pagina bersimbah liur dan arak selundupan. Makin jatuh cintalah aku pada bahasanya yang mirip dengan milik Sulaiman. Untung, tongkatnya tak disantap rayap.

Usia dua tujuh—sementara aku hampir mati hilang tulang—saudara imajiner itu tak pernah lupa pulang sebelum petang.

Cileunyi, September-November 2016

Advertisements

2 thoughts on “Saudara Imajiner

  1. Keren-keren-keren. Yang Saudara Imajiner itu top banget (y) Agak mistis ya

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s