Moro: Sebuah Jampé Orgasmik


Ada sedikit luka ketika mendengarkan Moro. Apalagi ketika terlebih dulu tahu bahwa yang dibawakan Morika Tetelepta itu adalah tafsir atas sebuah mantra—atau jampé dalam bahasa saya—tua Maluku. Pasalnya, tak semua orang punya pengalaman berhadapan dengan mantra. Hal itu sebetulnya patut disayangkan karena hemat saya, mantra adalah ekspresi manusia paling fundamental lagi naif. Mantra adalah penyampaian harapan. Doa.

Jadi, mendengarkan Moro (dan mungkin pula seluruh Teru) seharusnya adalah pertemuan dua pengalaman manusia. Namun, apalah artinya itu jika saya sudah lebih dulu paham bahwa di era ini kita sudah hampir kehilangan mantra. Mantra—bagi yang tidak punya kelekatan—diucapkan berkali-kali juga tak akan berbekas. Namun ternyata sungguh, Moro sanggup mempersembahkan intimitas mantra bagi mereka yang belum pernah mengalaminya.

Hal kedua yang membuat saya luka adalah tentang pengalaman baru berhadapan dengan kesederhanaan dan kerendahhatian. Mungkin terdengar kompleks, tapi saya tidak mengada-ada. Seluruh elemen dalam Moro bersifat sederhana dan rendah hati. Menyentil manusia; menyentil saya yang banyak maunya—jangankan dalam menikmati musik, bahkan menikmati hidup pun begitu.

Kebetulan, saya tak paham betul tentang musik. Saya sebatas pendengar musik yang memang saya anggap enak. Dalam menikmati musik pun begitu. Saya suka Putumayo (Afrika) karena optimis dan sangat enak buat ngigél. Saya juga menikmati beberapa nomor musik folk Armenia, atau beberapa karya Joska Soos, meski lebih sering mengantuk. Kadang bagi saya, Soos membawa hiruk pikuk kehidupan keseharian yang buat saya tidak pantas didengar sebagai musik. Sederhananya, saya nyaman terhadap segala yang enak. Nah, Moro menjadi cocok sekali di telinga saya karena memang ia menyuguhkan segala kenikmatan estetis.

Bunyi Moro eksotis. Seperti yang saya bilang sejak awal, ia seperti membawa manusia merasakan realitas sebagai pengada. Reflektif. Bahkan mungkin Moro cenderung primitif. Ah ya, lengkap sudah: primitif dan eksotis. Ini fakta lama yang lazim dicari-cari para pesohor musik populer dan industri world music kekinian.

Dalam buku yang baru saya baca, bunyi-bunyian eksotis—mungkin termasuk juga tiga elemen solum, voda un aria—awalnya digunakan sebagai bahan baku eksplorasi musik ke ranah yang tak dikenal. Keingintahuan tentang yang serba ganjil, tak lazim, dan asing itu memang sudah berbibit sejak zaman kolonialisme. Ketika itu, musik nampak menjadi semacam alat untuk menaturalisasikan atau memperwajarkan kesenjangan kekuasaan. Eh, kemudian, segala upaya itu diapropriasi serta dibalikkan oleh pihak yang dikolonisasi: ya kita ini.

Eksotikisme Moro pada dasarnya terdengar seperti musik Joska Soos, karena intensi Soos dan Morika terhadap sakralitas tampaknya hampir sama. Mereka bicara tentang betapa sakral alam semesta, serta keterhubungan manusia dengannya. Tapi Moro tidak seekstrem Soos. Irama ritmis Moro sanggup mengajak saya pejamkan mata, goyang bahu, dan angguk kepala sedikit. Mungkin Moro lebih condong pada musik Enya atau Ayub Ogada (Kenya). Dengan catatan, Moro punya nilai lebih di efek orgasmik yang ditimbulkan. Lebih terasa.

Moro—dan semoga lagu lain yang belum berkesempatan saya dengar—adalah jampé yang sepadan dengan terenggutnya waktu yang hilang ketika mendengarnya. Empat menit tiga puluh empat detik mendengar Moro adalah sebuah pengalaman eksistensial. Waktu yang sebegitu singkat sanggup menuntut tubuh dan hati untuk bekerja. Saya lebay? Ssstt… sebaiknya Anda dengar dululah barang ini.


Ulasan lain tentang Teru:

Advertisements

One thought on “Moro: Sebuah Jampé Orgasmik

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s