Kisah Alat-alat Berat


#Merespon single Rannisakustik, “Mariode”

2016

Dozer

Tak pernah sekali pun dalam proses penciptaan dirinya, dozer menginginkan menjadi dirinya hari ini. Sepandai-pandainya ia mengolah lahan, baru pada proyek ketiganya ia mendengar tangis pilu rerumputan. Mur-murnya sampai mengendor. Sendi-sendi bajanya hampir saling terpeleset. Nyatanya memang ia mengerjakan apa yang sewajarnya. Berhektar-hektar lahan harus dibuka. Lapisan teratas tanah harus diangkat.

Sempat dozer bertanya pada si scraper,

“Apakah kamu mendengarkan betapa melengkingnya tangisan ilalang itu?” Dozer panik. Scraper pun begitu, namun ia lebih pandai menyembunyikan perasaannya.

“Sudahlah. Memang begini fungsi kita.”

“Lihat, pohon asam itu menatapku marah.”

“Hanya dengan cara ini, kita bisa berguna.” Dozer dan scraper tidak berkata apa-apa lagi.

Tanah yang terpaksa mereka garap adalah sebuah ujung dari lahan pertanian dan peternakan. Di lahan berbukit itu, terderet pohon asam dan ilalang. Mereka sudah bersaudara sejak pohon asam cuma berupa bibit pendek dan letoy. Ilalang beranak cucu. Dengan setia, mereka mengantarkan orang tuanya menuju kondisi tercoklat dan terkering di penghujung usia—sampai jatuh melebur dengan tanah.

Kondisi tanah yang jauh stabil dan kuat dibandingkan dengan lahan basah, membuat pepohonan asam membesar liar. Tanah lahan kering sanggup menahan beban akar pohon-pohon besar, membuatnya jadi semacam benteng pertahanan.

Backhoe

Backhoe sudah mendengar kabar dari teman-temannya tentang lahan di sudut kota. Sebagai alat berat sepuh, ia tahu bahwa lahan tani dan ternak itu terkenal subur. Tak pernah berkurang kuantitas dan kualitasnya. Tanah itu dihuni cacing-cacing montok—makhluk yang selalu menjawil iba backhoe ketika mengeruk tanah di mana-mana.

Kalau backhoe berkesempatan menjadi manusia, lahan semacam itu tentu tak akan disia-siakan. Kalau backhoe berkesempatan memiliki lahan itu, ia akan jadi penyayang abadi yang tak mau memberikan sepeser pun segala kesuburan dan hiburan itu pada orang lain.

Ya, hidup di kompleks itu tentu merupakan hiburan bagi insan manapun. Mata sehat berhijau-hijau. Hati tentram mendengar alam. Tubuh sehat beraktivitas karena seluruh ternak dan hasil panen tak pernah jeda merengek minta diurusi. Tentu tak seorang pun mati karena serangan jantung di situ.

Sesal hati backhoe. Ia sempat tersenyum ketika menuju lahan itu. Anak-anak sekitar bertopi bucket menyapanya riang,

“Beko tuh, beko! Hoi, beko! Ikut dong!”

Backhoe masih bisa tersenyum sampai ia melihat seorang laki-laki duduk di atas tumpukan jerami. Ia tampak gelisah. Auranya sesepi arus kali malam hari. Laki-laki berkemeja aus dengan celana jins dan gesper badak itu kemudian berbaring dan menatap mayat-mayat pohon asam yang terbaring di sepanjang sisi bukit. Mata laki-laki itu pejam. Backhoe melihat sekelebatan cahaya di sudut mata bagian luarnya. Ia menduga itu pantulan cahaya matahari di air mata.

Roller

Mendengar cerita dari backhoe, roller merasa sedikit lega. Kalau memang lahan luas itu begitu berat dilepaskan pemiliknya, tentu paling tidak ia tak akan menyaksikan lahan hijau perlahan hilang. Agak bersyukur roller karena tugas itu bukan miliknya. Tugasnya hanya memadatkan lahan semaksimal mungkin. Beberapa bagian sudah ditimbun terlebih dulu sehingga jejak alami lahan itu tak terlihat lagi. Segalanya sudah rata dan dibuat cocok untuk bangunan bertingkat yang segera ditancapkan di situ.

Usai seluruh pekerjaannya dalam beberapa hari. Roller beristirahat di depan satu-satunya bangunan yang tersisa. Rumah itu ditinggalkan untuk diratakan paling akhir. Permohonan pemilik lahan dikabulkan pengembang karena dianggap kooperatif dan tidak mengganggu. Laki-laki pemilik lahan belum ingin melepaskan awasan dari seluruh lahan tempatnya dilahirkan dan disusui ibu dan para sapi.

Diam-diam, roller mendengar percakapan si pemilik dan anaknya. Usianya sekitar tiga belas dengan tinggi badan seratus enam puluh sentimeter. Angin menderu di sekitar mereka. Beberapa helai jerami yang tertinggal sempat menggelitik tubuh roller. Ia mengantuk namun tak usai rasa penasaran akan percakapan sepasang insan itu.

Si pemilik lahan tengadah ke awan berbentuk kepala beruang.

“Sudah, sampai sini saja segala kekayaan kita. Di ujung sana, tempat hutan dimulai, tempat kehidupan dimulai.” Matanya menerawang menembus segala batas yang bisa diterobos ketajaman.

“Apa, pak?”

“Dulu nenekmu bilang begitu. Bapak suka tidur di pangkuan nenek. Ketika bilang begitu, sungguh, seluruh ladang dan kandang ternak dapat bapak petakan lewat jernih matanya.” Belum pernah roller mendengar rentetan kalimat sepuitis itu. Mungkin anak itu pun begitu, karena ketika mendengarnya, ia seperti kehilangan arah. Ke mana bapaknya menuju, ia tak dapat menerka.

Dua Loader

Kisah yang didengar loader tentang pupusnya harmoni alam dan manusia begitu abstrak. Tinggal angin saja, tanpa jejak—apalagi sekadar debu. Wheel loader mengangkut tonggak-tonggak kayu bekas kandang ternak dan segunduk kesenduan yang ternyata lebih banyak jumlahnya.

Wheel loader rusak tiba-tiba. Entah apa yang membuatnya sanggup menolak menggusur bangunan terakhir yang tersisa di situ, rumah si pemilik lahan. Namun ternyata ia masih harus berada di situ ketika sang kawan, track type loader datang untuk menggantikan tugasnya. Setelahnya, semalam suntuk wheel loader tak bisa istirahat tenang.

Malam demi malam berganti, lahan subur itu beralih rupa. Penghuni gedung-gedung tinggi di situ memang riang. Anak-anak bermain terkikik sampai terbahak saling mengejek di playground. Nafas mereka dibantu rimbun tanaman dalam pot-pot. Mereka tumbuh besar akrab dengan desing mesin pesawat yang tak seberapa jauh—tanpa mendengar tangis gerombolan petani yang direbut rumahnya serta ditembaki gas air mata.

Semakin banyak manusia megap-megap bernafas di lautan beton. Tentu banyak orang mati karena serangan jantung di situ.


PROFIL RANNISAKUSTIK

Rannisakustik adalah komunitas seni yang mendukung dan menyuarakan semangat penghapusan kekerasan terhadap perempuan dan anak. Rannisakustik memproduksi dan memainkan lagu sebagai karya seni utamanya dengan tema tersebut. Rannisakustik baru saja menyosialisasikan 10 lagu baru. Lagu-lagunya (termasuk “Mariode”) dapat diunduh di blog RANNISAKUSTIK.

Featured image diperoleh dari www.alatberat.com

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s