Berharap Apa Dari Teman Maya?


Di tengah kegelapan kemarin, ketika malas mulai menyerbu malam, saya tercenung. Ponsel di tangan berbunyi tang-ting-tung ramai. Padahal, pikiran harusnya sedang akrab-akrabnya dengan deadline skripsi. Kalau ponsel ini sehamparan kehidupan riil, tentu semesta saya seramai pasar.

Nyatanya—kita semua sadar—dunia maya dan nyata itu bisa berbanding terbalik. Menjalin relasi perkawanan di dunia maya haruslah dibedakan dengan di dunia nyata. Kesimpulan itu saya peroleh ketika seorang kawan kolaborasi menyampaikan kalimat yang sebelumnya tak terpikirkan.

“Setiap pertemanan dibangun dengan tujuan masing-masing.”

Saya adalah orang yang jarang punya teman. Maka mungkin karena itulah saya selama ini kurang menyadari hal itu. Jangan-janagn, seribuan teman di Facebook dan mungkin lebih banyak lagi di akun lain, tak mencari pertemanan yang sejenis dengan yang saya cari.

Akibat quote menohok itu, saya jadi terlarut-larut dalam kecemasan. Tadinya saya berpikir bahwa pertemanan adalah hal yang dapat digeneralisasikan. Dalam setiap hubungan pertemanan, di lubuk hati paling dasar, saya menginginkan keteraturan. Konstan. Indah dari awal hingga akhir. Kalau saya menginginkannya jadi abadi, abadilah. Kalau saya tak nyaman, berakhirlah segera.

Dunia maya menyajikan hal berbeda. Pertemanan di dalamnya tak boleh banyak harap. Tak boleh loba kahayang. Di dunia maya, saya harus lebih siap untuk patah hati, karena ada banyak teman lalu lalang hanya untuk pembuktian diri, bukan untuk menyediakan diri terhadap liyan.

“dalam kadar tertentu, kita tetaplah alien bagi yang lain.”

Pertemuan fisik yang minim kemungkinan jadi sandungan bagi orang ngarep seperti saya. Pertemanan di dunia maya cenderung bisa bersih karena tak ada kebertubuhan. Kalau saja setiap pandangan pertama membuka tubuh yang borok, atau jiwa yang codet sana-sini, tentu pada banyak pertemanan yang bubar sebelum detik kedua.

Apa yang akan dikatakan seseorang ketika tabir saya terbuka, misalnya, ketika ia tahu bahwa saya adalah seorang yang pesimis, penuh dendam, dan kemarahan? Atau saya adalah seorang agnostik-teis yang tak begitu respek pada agama sebagai institusi, misalnya? Di dunia maya, orang-orang lebih berpotensi memperlakukan liyan dengan semena-mena. Itu disebabkan oleh jarak dan kebertubuhan yang saling mengasingkan. Jadi, minim rasa bersalah. Sebesar-besarnya afektivitas, hanya imajinasi yang sanggup menumbuhkannya. Jadi kalau ‘calon teman’ itu tak cocok, buang saja. Berhenti membangun obrolan, atau unfriend. Selesai.

Mungkin ada untungnya. Tapi bagi saya, sepertinya akan lebih banyak nyeri hate. Pertemanan seperti cilok murah di abang-abang. Kalau tidak enak ya buang saja, murah kok. Padahal yang saya inginkan—dan mungkin banyak orang lain—adalah terciptanya hubungan ideal intersubjektivitas.

a-friend-in-deed-04

Ilustrasi menarik dari thetwinpowers.com

Rasanya lebih baik diam tak berdamping kawan satu pun daripada tenggelam dalam relasi yang tidak jujur. Tapi pun rasanya sulit untuk memulai jujur. Lha pada diri sendiri saja kadang sulit, apalagi pada sosok entah siapa tanpa tubuh yang ada di seberang?

Dalam situasi sendiri, memikirkan soal pertemanan bikin kegundahan menumpuk. Manusia menginginkan terlalu banyak hal. Selalu ingin diterima dengan baik, padahal masih enggan membawa diri dalam relasi. Apalagi di dunia maya, tak banyak yang bisa diharapkan. Manusia lalu lalang sekelebatan tanpa mau mengambil risiko pertemanan.

Namun dalam situasi sendiri pula, saya merasa beruntung masih mengalami dini hari dengan tabuhan tiang listrik satpam. Suaranya melesak masuk ke dalam kuping. Nyata, bukan maya. Masih untung pula sempat mendengarkan Ólafur Arnalds yang dilempar dari bilik cakap sebelah.

Tiba-tiba nuansa biru di ruang tamu ini. Ternyata, mendengarkan jangkrik yang bernyanyi butuh penguat, supaya ketika lagunya berakhir dan tiba-tiba jangkrik itu tak mau mempersembahkan diri pada saya lagi, saya siap sekuat-kuatnya.

Sesungguhnya segala tindakan—nyata atau maya—butuh keberanian.

Featured image diperoleh dari http://lizisincanada.blogspot.co.id/2010/02/imaginary-friend.html

Advertisements

One thought on “Berharap Apa Dari Teman Maya?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s