Lewat Jendela Surga


#Merespon karya Eimen Bhajo “Jendela Senja”

(finger on screen using Inkredible app), November 2016

Serafim seorang manusia beruntung. Ia menyambut hadir seorang perempuan yang datang dari Barat, tepat ketika kehilangan bapaknya. Perempuan bernama Nyala itu datang ke pemakaman yang terhias bunyi tetabuhan dan letusan senjata. Nyala tersenyum pada Serafim di saling tatap pertama mereka yang pertama. Perbincangan mereka berlanjut hingga senja hari yang kelabu di dermaga. Setelah Serafim bercerita tentang seperti apa bapaknya, ia bertanya pada Nyala,

“Sampai kapan kamu di sini, dik?” Nyala menoleh pada Serafim dan memberikan senyuman yang siap mencairkan berton-ton es balok yang baru saja dibongkar muat dari perahu. Serafim kira akan ada jawaban, ternyata ia baru mendapat jawaban dua hari kemudian. Mereka berpisah dan Nyala sudah tiba-tiba berkabar bahwa ia berada di kota kelahiran.

Tak mungkin Serafim berhasil mencintai Nyala sampai hari kedua ribu kalau ia tak menyusul Nyala. Ia begitu yakin pada intuisinya. Pertama, sebabnya karena ia tak pernah tahu untuk apa Nyala ada di pemakaman bapaknya hari itu. Kehadirannya seperti lemparan bola nasib yang tak bisa ditolak untuk ditahan dan dioper gelindingannya, kemudian dicetak menjadi gol yang indah. Alasan kedua, semenjak kepergian bapaknya, Serafim menjadi pribadi dingin. Ia membutuhkan kehangatan yang tertebar dari aura Nyala.

Serafim dan Nyala tak pernah saling berkata cinta secara verbal. Kesan umum, mereka hanya dua manusia yang mencintai hidupnya masing-masing dan mau berbagi. Tak ada sehari dalam seminggu mereka tak duduk berdua saja dan mengkaji diri.

“Masa lalu dan masa depan sama gelapnya.” Sela Serafim di tengah perbincangan mereka tentang sejarah bangsa; tentang orang-orang hilang terduga diculik oknum rezim.

“Tergantuuung.” Bibir Nyala manyun seperti sedang menyeruput kabut.

“Tergantung apanya?” Serafim berkerut.

“Tergantung saja. Dulu, sesaat sebelum kita ketemu, aku sempat belajar membaca tarot.”

“Kartu tarot? Lalu?”

“Ya, itu upaya untuk membaca masa depan. Konyol ya.” Tawa Nyala mengalihkan dunia beberapa pemuda yang melintas di depan rumah kos Nyala yang rindang. Mereka melirik beberapa kali, bahkan sampai benar-benar menengok ke belakang. Mata Serafim memicing. Ia mulai menarik diri. Diduga dalam pikirannya, para pemuda itu berpikir negatif tentang dirinya, “Di mana istimewanya laki-laki berkulit gelap itu, bisa duduk dempet dengan seorang perempuan cantik?” Serafim mengumpat dalam hati setelah pesimisme yang dipupuknya sendiri itu.

“Itu kenapa aku bisa sampai di kotamu.” Lanjut Nyala.

“Selain karena disuruh pergi Emak jauh-jauh supaya segar, aku begitu percaya pada ramalan tarot. Menurut ramalan, aku akan menemukan kebenaran di sebuah kota di Timur sana. Entah kebenaran apa.”

“Kenapa saya baru tahu sekarang, dik?”

“Karena tidak terlalu penting bagiku.”

“Lalu apa yang penting sehingga kita harus membahasnya hari ini?”

“Kamu. Yang penting itu kamu.” Nyala riang mengayun-ayunkan kaki, membuat dahan pohon mangga yang mereka duduki bergoyang-goyang. Serafim merinding. Ia seperti dilempar ke udara berkat guncangan kecil itu. Ada perasaan ganjil yang membuatnya diam-diam merasa malu. Ia merasa sedang diperhatikan. Di pagi yang hampir habis itu, Serafim merasa kerindangan halaman rumah kos mengandung mata-mata yang awas.

Tanpa disadari Serafim, hari itu ada banyak hal yang siap terungkap kalau saja Nyala bicara jujur tentang pencariannya bertahun lalu di kota Serafim. Ada pun hari itu, di atas bumi, cinta mendarat di mana-mana. Termasuk di tatapan mata bapak Serafim. Ia duduk gelisah, menyaksikan kasih yang tak terukur geraknya, menancap semakin ke akar. Lewat jendela surga, apa pun terasa kuat. Termasuk kasih antara kakak beradik kandung yang krisis kebenaran.

Sementara itu, ikatan batin membuat Serafim rindu bapaknya. Diam-diam ia berdoa Bapa Kami. ***


PROFIL EIMEN BHAJO

Klemens Bhajo atau Eimen Bhajo lahir di Moni, NTT 23 November 1988. Ia cinta menggambar sejak bocah dan menulis puisi sejak di sekolah menengah. Inspirasi datang dari alam dan kejadian sehari-hari. Kini, Eimen sedang menempuh pendidikan teologi di Ecole Theologique Saint Cyprien de Ngoya, Kamerun. Ia dapat dihubungi di akun Facebook atau pos elektronik emen_cicm@yahoo.com.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s