Empat Keuntungan Membaca Fiksi


Fiksi adalah makanan saya—di samping nasi—dari kecil. Kecintaan saya terhadap buku-buku fiksi tidak ada habisnya. Masa-masa sebelum sekolah, saya jatuh cinta pada buku-buku terbitan Grafiti, dongeng-dongeng Jean de La Fontaine yang puitik. Buku-buku kecilnya ramping, sangat imajinatif. Saya selalu mengenang dongeng Pohon Asam dan Ilalang. Juga bukunya yang kini hilang tanpa ada jejak. La Fontine adalah salah satu penyair dari Prancis yang lahir di Calan di Château-Thierry pada 18 Juli 1621 dan meninggal pada 13 April 1695. Ketika usianya enam puluh tahun, dia diakui sebagai salah satu orang terpenting dalam kesusastraan Perancis. Orang itu sungguh istimewa. Dongeng-dongeng darinya menjadi pengantar saya menuju pintu gerbang kemerdekaan dunia fiksi.

Saya beruntung ketika di usia sekolah, orang tua saya tidak pernah membatasi bacaan. Di sekolah dasar, saya membaca Goosebumps dan novel-novel sihir. Saya sempat bercita-cita untuk jadi penyihir saja ketika serial Circle of Three menjadi candu tiap datang ke Gramedia. Kemudian hadir buku-buku karangan Roald Dahl, Morris Gleitzman, serial Princess Diaries, dan buku-buku semacamnya. Ketika itu, saya memang kekurangan referensi sastra Indonesia. Saya hanya akrab dengan puisi-puisi Indonesia (mengingat saya memang sudah bisa hapal luar kepala beberapa puisi Sapardi sebelum masuk sekolah dasar).

Setelah ketika sekolah dasar saya pernah ditolak ibu saya untuk membaca Perempuan di Titik Nol-nya Nawal, sekolah menengah saya mulai merambahi fiksi yang tidak saya baca sebelumnya—padahal penasaran—karena belum cukup kematangan usia. Saya juga mulai membaca banyak skenario dan novel-novel Indonesia.  Ketika sekolah menengah, dimulailah periode Pramoedya, Remi Sylado, dan sebagainya.

Meski saya merasa mengalami keterlambatan menikmati beberapa jenis fiksi—misalnya karya-karya klasik Indonesia yang baru saya nikmati di akhir sekolah menengah menjelang kuliah—saya sepenuhnya merasa diuntungkan dengan kebiasaan membaca fiksi non-komik. Berikut adalah lima keuntungan membaca fiksi versi saya. Tiap tahun dalam hidup saya, saya merasa bacaan fiksi saya semakin berkembang—dari segi kuantitas, kemudian keluasan genre. Menyenangkan rasanya berenang dalam lautan ide dari berbagai pengarang dengan berbagai latar belakang.

  1. Tahu banyak

Membaca fiksi dengan banyak genre mau tidak mau membuat saya ingin tahu lebih banyak. Mungkin rasa ingin tahu itu tidak terasa ketika saya masih kanak-kanak. Namun ketika beranjak remaja—apalagi ditambah munculnya Google—hal tersebut terasa bergunanya bagi isi kepala. Rasa penasaran adalah hal yang inti dari keberadaan manusia. Ketika dalam fiksi dunia dipersembahkan dalam cara yang belum pernah kita tahu, maka terujilah rasa penasaran itu. Saya mencari tahu lagi dan lagi tentang hal yang menarik bagi diri. Bukan hanya terkait isi cerita atau sisi intrinsik cerita, tapi juga sisi ekstrinsiknya. Kita bisa banyak tahu tentang latar belakang pengarang dan masa ketika dia berkarya.

Persembahan dunia yang beragam itu juga menjadi titik awal pengalaman berhadapan dengan perbedaan. Saya tahu bahwa dunia itu luas dan beragam. Ini relevan dengan bagaimana saya menghadapi hidup dan pilihan-pilihan sosial maupun politik. Keragaman itu adalah sesuatu yang wajar. Fiksi membantu saya memahaminya.

  1. Imajinasi

Bagi anak-anak, pendekatan visual adalah pendekatan paling menarik. Namun keterbatasan kata-kata membuat peristiwa menjadi buram. Namun persis di situlah keuntungan membaca fiksi. Pembacaan atas teks menuntut kepala saya mengubahnya jadi visual. Saya jadi tahu dan mulai membayangkan berbagai macam peristiwa yang tidak pernah saya alami sebelumnya. Misalnya peristiwa berhadapan dengan kolonialisme—mereka yang seringkali disebut penjajah, hal-hal magis—dari penyihir sampai hantu, bahkan mengetahui bagaimana manusia di berbagai belahan dunia menjalani hidupnya. Saya pun jadi berimajinasi, tak jarang bahkan terlampau liar.

Rasanya, keliaran imajinasi tidak bikin rugi. Imajinasi dan objek imajinasinya adalah ruang dan aktor yang dialami dengan sangat privat. Ia ada sejauh kita menghendaki dan bagi saya sejauh ini, ia tidak ada hubungannya dengan laku sosial.

  1. Kekayaan Diksi

Tiap penulis tentu punya gaya yang berbeda-beda. Para penulis itu adalah representasi dari latar belakang masing-masing individu. Itu mengapa saya seringkali mendapati ada banyak kata yang belum  saya tahu maknanya. Membaca fiksi (harusnya) membuat kita sering membuka kamus—meskipun hal itu bukan satu-satunya hal yang membuat fiksi jadi lebih bermakna daripada yang lain. Dalam beberapa kasus, saya lebih memilih membuka Tesaurus. Perbendaharaan kata jadi bertambah.

Terkait hal ini, saya jadi ingat cemoohan William Faulkner terhadap Hemmingway, “Orang itu tidak pernah menggunakan satu pun kata yang menggiring pembaca ke kamus.” yang dibalas oleh Hemmingway “Faulkner yang malang. Apa dia pikir perasaan-perasaan yang besar mesti berasal dari kata-kata yang besar?” (Sumber: Di mana Ada Penulis, di situ Ada Cemooh oleh Dea Ananda Anugrah).

  1. Semangat berkarya

Ketiga poin di atas  rasanya tidak akan berarti apa-apa tanpa yang satu ini. Berkarya adalah bentuk kemapanan dari persahabatan dengan fiksi. Saya lebih dulu menulis fiksi dibanding menulis esai-esai non fiksi. Ada beberapa periode ketika saya sangat terpengaruh oleh beberapa penulis tertentu. Bagi saya itu wajar dan tidak menjadikan karya tidak orisinil. Menulis fiksi adalah menciptakan dunia baru. Bagi saya proses ini sakral karena (mestinya) melibatkan pengalaman jumpa dengan karya-karya fiksi seumur hidup. Dari La Fontaine, Roald Dahl, hingga Sartre, juga Borges. Bagi saya seperti, “Kamu dapat sebegitu banyak, masa tidak menghasilkan apa-apa?”

Kalau boleh saya ulangi lagi, menyenangkan rasanya berenang dalam lautan ide dari berbagai pengarang dengan berbagai latar belakang. Pikir punya pikir, rasanya judul tulisan ini kurang tepat. Mengapa membaca fiksi harus mempertimbangkan keuntungan serigid ini? Betapa rasanya fiksi menyentuh sisi paling eksistensial dalam hidup manusia. Sesungguhnya ia menyenangkan dan layak dicumbui meski kita tak punya alasan dan tak memperoleh keuntungan. Apalah….

Featured image diperoleh dari web P.J O’Dwyer (that award-winning author of romantic suspense :|)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s