Mengapa Wisuda Masih Begitu Penting?


Lulus dari perguruan tinggi tampaknya bukan perkara mudah. Mahasiswa angkatan tua pasti paham soal itu. Beberapa kawan membagi pengalaman lulus dari kampusnya. Kelulusan ternyata juga butuh biaya besar.

Lega melewati fase drama pengerjaan skripsi atau tugas akhir, mereka mesti menyongsong rentetan tagihan. Ada skripsi atau tugas akhir yang harus dijilid bereksemplar-eksemplar. Ada pula keperluan ijazah yang mengharuskan membuat pas foto bersyarat memakai jas dan dasi dengan kualitas gambar super.

Terakhir – yang sering bikin ribet – adalah wisuda. Seorang kawan di universitas swasta bilang, “Enaklah di tempat lu wisuda cuma bayar lima ratus ribu. Di kampus gue dua juta.” Dia sudah lulus beberapa tahun lalu dari jurusan ekonomi.

Wisuda sebagai sebuah selebrasi rasanya harus dibuat di luar kebiasaan supaya berkesan. Kita jadi mengangguk-angguk wajar, kalau biayanya hingga jutaan rupiah. Wisuda adalah simbol perjuangan mahasiswa. Betapa bahagia melewati fase ‘berdarah-darah’ dalam kehidupan mahasiswa. Wajar kalau mahasiswa yang sudah mau lulus banyak mintanya.

Biaya besar tentu tak lain untuk menjadikan momen wisuda super berkesan, di samping dekor yang bagus secara estetis untuk foto-foto. Wisudawan juga membayar untuk makan enak, membeli toga lengkap, gedung nyaman, bahkan menyewa MC kondang atau entertainer.

Wisuda nyatanya adalah simbol. Robert Bellah, pada kutipan pembuka buku The Power of Symbols, menyatakan, “… jelas bahwa kita tidak dapat membedakan kenyataan dari simbolisasinya. Karena kita manusia, hanya dapat berpikir dengan simbol-simbol, hanya dapat memaknai pengalaman apa pun dengan simbol-simbol.”

Pada era ini, seperti itulah adanya wisuda. Wisuda sebagai simbol telah menjadi lebih penting dari fakta sesungguhnya; dari ijazah; dari perjuangan mahasiswa menyelesaikan studi. Bahkan seringkali bikin realitas menjadi lebih ribet.

Bahayanya, bagi banyak orang, wisuda kemudian berkembang menjadi sesuatu yang prestise. Dalam beberapa kasus, wisuda jadi urusan keluarga besar. Keluarga wisudawan lebih semangat menghadapi wisuda daripada wisudawan. Rombongan keluarga besar rela berbondong-bondong datang dari udik ke kota tempat kampus sang anak berada, memesan hotel via aplikasi gadget, bahkan membuat itinerary keliling kota.

Bagi mereka, wisuda adalah sebuah pengajuan kepada khalayak bahwa sang anak sudah lulus, siap berpeluh di dunia kerja, cari uang, dan diharapkan kemudian menjadi orang kaya. Fakta-fakta tadi bukan asal saya sebut, bukan pula semata berdasar adegan-adegan dalam opera sabun. Fakta-fakta tadi nyata saya dengar berdasarkan pengalaman pribadi beberapa kawan.

Mirip dengan yang diutarakan Raymond Firth tentang simbol, wisuda menjadi simbol yang berhasil berpusat pada dirinya sendiri. Seluruh semangat yang harusnya hanya menjadi milik realitas tertinggi yang diwakilinya, diambil alih oleh selebrasi sehari. Belakangan, wisuda berhasil mereduksi realitas dunia perkuliahan, lengkap dengan bumbu-bumbunya yang padahal terlampau kompleks.

Tampaknya, sebagian besar dari kita adalah manusia yang suka dijajah simbol. Wisuda seringkali didewa-dewakan. Anggapannya, kehidupan bisa lebih baik dengan mengikuti wisuda. Hal itu tentu bukan kesalahan. Banyak orang mampu membayar dan punya waktu untuk mengikuti seremoni itu. Kampus mewajibkan dan keluarga besar beramai-ramai mendorong untuk ikut.

Namun, kita tak boleh lupa, ada juga mahasiswa penuh perjuangan yang tak punya cukup waktu dan biaya untuk ikut wisuda. Atau, mahasiswa yang punya waktu dan biaya, namun berkeyakinan bahwa wisuda bukan prioritas. Maka, tuntutan kampus dan keluarga berbagi keriyaan di acara wisuda pun jadi masalah.

Wisuda memang bentuk ekspresi. Sama seperti ngobrol, memasak, dan aktivitas lain. Namun, ekspresi mana pun bisa jadi sesuatu yang menjajah, ketika mengenyampingkan ekspresi orang lain. Kalau wisuda bukanlah bentuk ekspresi seseorang, ya biarkan saja. Jangan sampai wisuda masuk ke ranah privat orang lain – tempat individu punya hak untuk melakukan dan tidak melakukan sesuatu.

Semoga masyarakat kita bukan – atau tidak melulu jadi – masyarakat statis yang terikat dengan simbol-simbol. Bagi saya, keberadaan masyarakat yang berfaedah bagi anggotanya tidak bergantung pada simbol-simbol. Masyarakat mestinya bergantung pada nilai-nilai dan refleksi atas realitas.

Jangan-jangan, gara-gara rongrongan kampus dan keluarga untuk ikut wisuda, mahasiswa jadi kehilangan daya refleksinya yang digenjot selama pengerjaan skripsi. Sayang sekali kalau begitu. Bukankah mahasiswa dijadikan ‘maha’ untuk dijebloskan ke dalam masyarakat dan membangunnya?

Wisuda sebenarnya tidak salah. Sebagai simbol, ia harus terus hidup dalam masyarakat. Ia ada untuk menciptakan tatanan. Semoga wisuda tak jadi seperti belati, yang bermanfaat tapi bisa dipakai untuk membunuh kebebasan beraktivitas.

Jadi, kapan kalian wisuda?

Diterbitkan pertama kali di Voxpop.id tanggal 28 September 2016 –

featured image diperoleh dari bsnscbd.com

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s