Bapak Penjual Sayur dan Warga Kota Tergusur


Pak Jamidun—sebut saja begitu—adalah seorang tukang sayur di kompleks perumahan tempat saya tinggal bersama orang tua. Kalau sedang ingin memasak, saya biasa memesan lauk pauk padanya. Pak Jamidun kadang menjengkelkan. Ia suka membawa ikan patin tapi tidak bawa kemangi, yang berarti tidak bisa jadi pindang mranjat. Ia sering bawa jamur kuping tapi tidak bawa cabai hijau, yang berarti mencederai entitas oseng jamur kuping.

Suatu hari Pak Jamidun mengirim pesan pendek kepada ibu saya,

“Bu, mulai besok saya tidak bisa jualan ke sana lagi. Soalnya sama satpam depan gerbang yang namanya Pak X dimintain uang 600 ribu perbulan buat bisa dagang di sana. Atuh nambah resiko, bu. Mana resiko dapur jaman sekarang mah serba sulit. Punten ya, bu…”

Menyedihkan mengetahui Pak Jamidun dipalak petugas keamanan yang memang punya kuasa penuh di kompleks ini. Benar katanya, enam ratus ribu tidaklah sedikit. Pak Jamidun pasti memilih membeli kebutuhan untuknya pribadi daripada harus mengayomi petugas keamanan yang kerjaannya hanya patroli dan menjaga gerbang. Bukan saya meremehkan kerja petugas keamanan, tapi siapa pula petugas keamanan itu sehingga Pak Jamidun harus memberinya uang? Bukankah cukup dengan menjalani peran masing-masing maka semuanya aman terkendali? Berperan apa petugas itu dalam kehidupan pribadi Pak Jamidun dan lika-liku bisnisnya? Tidak ada. Ia bukan siapa-siapa. Ia hanya penguasa wilayah yang membuat aturan sendiri. Di saat yang sama, ia menindas golongan tak berdaya.

Renung punya renung, permasalahan di kompleks perumahan ini bagai permasalahan di sebuah kota. Orang yang tinggal di sini punya latar belakang dan cara komunikasi beragam. Menjadi penghuni di kompleks ini sejak tahun 2000-an jadi gaya sekali karena jalanannya rapi pakai paving block sehingga terasa elit, belakangan rumah-rumahnya dibuat cluster, dan yang paling penting, berada di Bandung. Kabupaten Bandung, sebetulnya. Tapi kompleks ini dekat dengan pintu tol, jadi kalau mau jadi orang kota, Anda tinggal masuk tol saja.

Dalam organigram sebuah kota, Pak Jamidun adalah pekerja pendatang yang dirampas haknya. Ia dilempar secara paksa ke wilayah yang ia tahu akan sedikit pembelinya. Menyedihkan sekaligus bikin nyesek. Saya, sebagai warga yang membutuhkan tukang sayur mobile rasanya mau menuntut sang petugas keamanan. Ia menggunakan otoritasnya untuk mengendalikan. Mestinya ia juga punya kemampuan untuk mempertanggungjawabkan perbuatannya. Tanpa punya kendaraan pribadi, kepada siapa saya harus menggantungkan kebutuhan dapur kalau begini?

Di samping kebutuhan saya yang terampas, kompleks perumahan—seperti pula kota—adalah titik temu banyak individu. Kota akan damai kalau dijalankan bersama-sama. Bersama dalam hal ini berarti bukan milik aristokrat saja. Kota menjadi milik orang miskin juga, sehingga manusiawi untuk dijadikan lahan tinggal dan mencari nafkah. Namun Pak Jamidun diusir semena-mena.

Mungkin Pak Jamidun dan suara speaker “Sayur sayurrrr…” miliknya tiap pagi mengganggu kenyamanan dan mengurangi hawa elit kompleks, makanya diminta menebus menggunakan uang. Namun alasan itu sangat hitam-putih alias berdistingsi kawan-lawan. Kebisingan vs ketentraman; pekerja kasar vs kompleks yang rapi; pendatang vs penghuni asli.

Semakin memikirkan Pak Jamidun, saya agak panik. Mungkin karena lagi-lagi, harus kita undang hakikat utama demokrasi. Saya sangat berharap problem ini bisa diselesaikan dengan sebuah upaya pemberdayaan. Mesti ada studi kelayakan dan forum-forum yang melibatkan banyak orang dari berbagai latar belakang. Layaknya sebuah kota, kompleks ini butuh demokrasi. Apakah Pak Jamidun mengganggu ketertiban? Jika iya, apakah ada solusi bersama untuk itu? Apakah petugas keamanan gajinya kurang sehingga mencari ekstra penghasilan? Jika iya, apakah forum harus membantunya merintis karir berbisnis pula?

Forum semacam itu memang butuh waktu lama nan ribet. Apalagi, ada berbagai orang dengan latar belakang kepentingan di dalamnya. Bisa-bisa Pak X dan Pak Jamidun berkelahi. Namun masak saya dan warga yang butuh sayur harus tunduk pada kuasa seorang saja? Segala jenis peraturan, ketika dibuat berdasarkan suara warga, niscaya akan membuat warga bekerja sama merawat hasil gagasan mereka sendiri. Kalaulah memang keberadaan Pak Jamidun mengganggu, solusi bersama akan membuat dia nrimo, tidak ngomel, dan lega. Saya pun begitu, forum akan membuat saya bisa bicara lantang dan dipertimbangkan. Lha ini, saya hanya bisa mengadu pada Istri Pak RW yang responnya “Oh, gitu…” saja.

Saya sedih Pak Jamidun tergusur dari tempatnya mencari nafkah. Mungkin waktu ke depan, pedagang keliling—yang berbisnis sehat dengan keringat dan air mata—akan semakin susut. Saya hanya bisa berharap Pak Jamidun mendapatkan tempat jualan yang lebih ramai pembeli. Ketika kelak Pak Jamidun mencari ‘kota’ untuk tempat tubuhnya bersandar dan mengasah kemampuan wirausahanya, saya berharap ia menemukan ‘kota’ yang tak diskriminatif terhadap orang sepertinya: pendatang yang datang hanya untuk dagang. ‘Kota’ yang menjunjung demokrasi. Jangan sampai ia digusur paksa dari tempat yang dianggapnya nyaman.

Ah, Pak, padahal saya mau pesan ikan tenggiri untuk minggu depan.

Featured image diperoleh dari maxmonroe.com / baltyra.com

Advertisements

6 thoughts on “Bapak Penjual Sayur dan Warga Kota Tergusur

  1. fix ngefans dengan tulisan-tulisan anda nona

    • Aura Asmaradana

      Terima kasih. Ngefans juga pada tulisan-tulisan masnya. Membacanya (terutama faktor pemilihan judul) membuat saya jadi butiran debu~

  2. Semena-mena pisan satpam itu. Jadi kesal. Sudah ditanya langsung aturan dari mana itu, Ra? Kalau pedagang2 lain masih boleh keliling komplek?

    • Aura Asmaradana

      Aturan ya mereka buat sendiri. Menurut ibu RW, “Tukang sayur yang dulu juga gitu…” (Tanpa ngasih solusi). Pedagang lain beberapa berhenti dagang, beberapa yang lain masih. Tapi tidak kutanya apa dimintai uang juga.

  3. Ketika preman berseragam sekuriti, mengambil hak orang lain bak orang yang tak punya nurani. Artikelnya keren dan kritis banget kak 🙂 salam blogger

    • Aura Asmaradana

      Hai, terima kasih sudah mampir.
      Iya, ternyata setiap orang–tak kenal jabatan–punya daya untuk jadi penindas ya 😥

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s