Celakalah Kode Etik!


MAKIN BERDARAH, MAKIN ASIK

Sebuah refleksi setelah menikmati banyak edaran luka dan darah yang mendulang like dan amin di Facebook, serta deskripsi dalam berita kecelakaan di Labuan Bajo yang disuguhkan Floresa.co yang “Kritis dan Independen”.

Gambar-gambar menyeramkan yang mengumbar luka fisik (luka korban kekerasan, kecelakaan, luka akibat penyakit, dan hal-hal semacamnya) tampaknya sudah jadi makanan sehari-hari pengguna media sosial. Sebagai pengguna media sosial, saya sering disuguhkan pemberitaan yang berbumbu luka dan darah. Orang Indonesia–termasuk saya–mungkin sering bereaksi positif terhadap cerita horor dan thriller. Banyak budaya di Indonesia punya kelekatan dengan cerita-cerita seram. Terhadap ekspos luka dan darah, banyak orang merasa jijik, tapi tak bisa disangkal, banyak orang lain malah menyukainya.

Luka dan darah sering dibagikan untuk sekadar mendulang jempol dan “amin”. Ada juga sebetulnya orang-orang yang membagikannya dengan tujuan mulia: supaya kita belajar dari kesalahan orang lain sehingga kita tidak mengalami luka yang sama. Kita bisa jadi lebih hati-hati dalam mengemudi supaya tak mengalami kecelakaan, atau berhenti merokok supaya tubuh baik-baik saja.

Telusur punya telusur, gambar dan teks tidak senonoh sering pula dibagikan untuk tujuan lain. Jurnalisme, misalnya. Apa? Jurnalisme? Bukankah jurnalisme segala jenis (gambar dan teks) yang membuat ngeri khalayak adalah melanggar kode etik?

Ya, Indonesia punya Kode Etik Jurnalistik yang ditetapkan Dewan Pers melalui Peraturan Dewan Pers Nomor 6/Peraturan-DP/V/2008 tentang pengesahan surat keputusan Dewan Pers Nomor 03/SK-DP/III/2006 tentang Kode Etik Jurnalistik sebagai peraturan Dewan Pers. Di dalamnya, terdapat sebuah pasal yang menyebutkan bahwa wartawan Indonesia harusnya menempuh cara-cara yang profesional dalam melaksanakan tugas jurnalistik. Cara profesional yang dimaksud adalah di antaranya menghormati pengalaman traumatik narasumber dalam penyajian gambar, foto, suara.

Peraturan tersebut tentu masuk akal. Media massa adalah tempat warga negara menggantungkan pengetahuannya terhadap aktualitas peristiwa-peristiwa. Mereka yang sering update berita, akan semakin terasah kemampuan berpikirnya. Kita dibiasakan berpendapat dan bersikap terhadap realitas. Namun dalam media sosial, fakta penting itu sering diterabas, tak dianggap penting. Alih-alih menghadirkan rangsangan terhadap perkembangan intelektualitas  khalayak, luka dan darah malah dianggap bumbu yang bikin sedap.

Lha, memangnya kita jurnalis? Lagipula, bukankah harusnya saya siap terhadap fenomena ini sebagai konsekuensi bergaul di media sosial? Ya paling tidak, sadari fakta bahwa kita adalah manusia. Kita mestinya ingat bahwa media sosial di era ini adalah ruang publik tempat kita bercengkrama sehari-hari. Tak elok kalau kita mempersembahkan darah dan luka bagi handai taulan yang sehari-hari nongkrongin status kita di Facebook. Makin berdarah, makin asik diperbincangkan, menurut Anda? Kalau iya, etika Anda menyedihkan.

Harusnya kita lebih mengasah simpati. Di balik nanah, borok, dan darah seorang penyakitan; di balik deskripsi bikin memualkan tentang korban kecelakaan parah, ada korban dan keluarga yang tercabik-cabik hatinya. Belum lagi tentang kawan-kawan medsos yang imajinasinya membumbung sehingga gelisah sampai mau muntah melihat betapa gamblang luka itu tersaji.

Mungkin memang kita perlu dibayang-bayangi luka dan darah untuk lebih berhati-hati. Namun saya yakin, kita punya cara yang lebih santun untuk menghargai kehidupan dan kemanusiaan. Kita harusnya gerah, tak boleh lengah, dan tak boleh kalah oleh pembiasaan model jurnalisme luka dan darah ini.

Ketika kita berpikir bahwa informasi faktual yang berdarah-darah adalah informasi yang lebih asik diperbincangkan, maka silakan menikmatinya secara privat dari buku-buku thriller dan kelompok baca, bukan di ruang publik. Mari kita menghormati media massa sebagai ruang belajar bersama.

(Featured image diperoleh dari pixabay.com)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s