Setan


Gambar: Devil’s Tail (Diperoleh dari Flickr)

Omaku yang rajin mengaji tinggal beberapa hari di rumah. Semenjak ia datang, aku sering mandi karena kepanasan. Neraka seperti menggelindingkan bara-bara api di lipatan-lipatan tubuhku.

Hari ketujuh–ketika ia mulai tak rindu rumah lagi–ia mengeluh sering terlambat bangun untuk sembahyang pagi. Seperti ada lantunan nina bobo yang menyumpal telinga. Jangankan terdengar sayup, panggilan sembahyang di pengeras suara bahkan tak terdengar.

“Kamu sih setan.” Ujar sahabatku ketika aku mulai bercerita. Kami tertawa. Aku merasa gatal di pantat, dekat ekor berujung panah milikku.

Advertisements

3 thoughts on “Setan

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s