Bukan Tips dan Trik untuk Jatuh Cinta


Sempadan sungai pun boleh jadi tempat reflektif untuk berlibur. “Ini Indonesia!” (Sumber gambar id.wikipedia.org)

Jatuh cinta pada negeri sendiri tidak ada tips dan triknya. Maka ketika saya diminta untuk menulis tulisan macam ‘cara meningkatkan nasionalisme’, ‘tips bangga jadi anak Indonesia’, atau ‘tujuh cara untuk berperan aktif membangun bangsa’, saya tak punya ide banyak. Cinta itu mustahil ditularkan. Ia bukan kue bolu yang untuk menghasilkannya membutuhkan resep dari orang lain. Kalaulah ada tips dan trik semacam itu, itu tak lain hanya permainan kata-kata karena pengalaman tak bisa dipermainkan.

Mencintai Indonesia adalah pengalaman eksistensial yang kompleks. Saya yakin anak-anak di seluruh negeri juga begitu. Dengan cara yang berbeda-beda tentunya. Tiap tahun, angka kelahiran bayi di Indonesia meningkat rata-rata 1,49 persen.  Di akhir tahun 2015, kelahiran bayi mencapai angka 4.880.951 orang. Indonesia sungguh kaya bayi. Mari kita melihat fenomena itu dari sudut pandang kekayaan pengalaman, bukan kepadatan penduduk.

Bayi-bayi itu, kelak, akan mengenal Indonesia dengan cara yang beragam. Mungkin mereka akan hanya mengenal gang sempit tempat rumahnya berada, atau malah menjadi seorang traveller yang menjelajah Indonesia dengan uang saku milik sendiri. Namun mereka toh sama-sama punya kedekatan dengan negerinya.

Bagi saya, mengenal Indonesia seperti candu. Meski tak mungkin menyarankan tips dan trik, saya ingin bayi-bayi itu punya cinta dan kerelaan untuk dekat dengan negeri ini.

Kedekatan itu—berdasarkan pengalaman saya—mengandaikan sudah ada Indonesia tertanam dalam kepala. Maksudnya, ketika bertemu peristiwa, ada suara di kepala yang otomatis berkata, “Ini Indonesia.” Tak peduli peristiwa buruk atau baik, keberadaan suara itu penting. Ketika menyaksikan pemberitaan perkara kriminal di televisi, “Ini Indonesia” lazimnya bernada penyesalan nan getir, seolah Indonesia penuh penjahat adalah hal wajar.

Lain kali, ketika berdiri di hadapan kekayaan alam yang terbentang luas dan beragam, “Ini Indonesia” terdengar lengkap dengan decak kagum, seolah Indonesia adalah tempat dengan keindahan paling tak wajar.

Terkait alam yang kaya raya, kita memang tak bisa sangkal. Palung laut dalam hingga puncak bersalju ada di Indonesia. Bayi-bayi yang lahir tiap tahun harus tahu fakta-fakta itu.

Sekolah (pahami: bukan sekadar gedung) punya peran cukup signifikan dalam hal ini. Di bangku Sekolah Dasar, anak-anak Indonesia mulai menumbuhkan rasa penasaran. Mereka diberitahu bahwa Indonesia punya 3.544.743,9 km² laut atau 64,97% dari total wilayahnya. Ada pula pengetahuan tentang Carstenz Pyramid, sebuah puncak di atas awan, atau tentang Laut Sulawesi yang kedalamannya mencapai 6,2 km.

Keragaman alam dan budaya Indonesia harusnya tidak hanya dikenal lewat pelajaran di sekolah, gambar di buku, atau internet. Media-media itu hanya membuat rasa penasaran semakin genting. Anak-anak harus bertatap langsung dengan alam. Salah satu caranya adalah berlibur di luar rumah. Tak peduli hanya bertemu tetangga mencuci baju di sumur umum, sempadan sungai yang berbumbu sampah, atau pergi ke desa adat dengan pemandangan gunung-gemunung, liburan adalah hak yang layak dinikmati tiap anak.

Di mana pun bayi-bayi Indonesia lahir, mereka harus punya kesempatan untuk bermain di tengah alam. Semakin cepat mereka kenal alam, semakin alam dirasa penting adanya.

Dulu, ketika si saya kecil menjejakkan kaki di pantai, saya menangis. Pasir pantai yang menggeliat itu seperti mencoba membawa saya ke tengah laut. Begitu pun di momen-momen lain, ketika saya dan sesuatu dari alam bertemu. Momen menangis, takjub, takut, ditambah dengan persentuhan sakral dengan ombak, kicau burung, atau lanskap alam niscaya menciptakan kesan dalam hati.

Sayang, tak semua keluarga punya kesempatan berlibur. Per-Maret 2016, penduduk miskin di Indonesia ada 28 juta jiwa. Dalam bayangan saya, mereka tentu tak punya kesempatan berlibur. Bahkan mungkin, bayangan tentang liburan teredam oleh pikiran tentang bagaimana tetap tidur di kamar kontrakan yang sama tanpa ada acara usir-diusir. Biaya liburan itu mahal. Sebagai penyuka travelling, saya tahu betul hal itu.

Indonesia jelas butuh pembenahan kepariwisataan dan infrastruktur menyeluruh. Jika mencapai tempat-tempat indah itu murah, tentu rakyat Indonesia senang. Namun, itu goal yang makan waktu panjang.

Mungkin sebetulnya yang dibutuhkan anak-anak Indonesia agar dapat liburan adalah sosok orang kaya raya nan murah hati. Anak-anak diajak berlibur gratis ke tempat-tempat indah secara bergantian. Setiap akhir pekan, ada liburan gratis untuk anak-anak Indonesia terpilih.

Liburan di alam harusnya murah. Dengan meneropong Indonesia, anak-anak akan paham betapa mereka harus menjadi benteng kedaulatan negeri. Biasanya, orang yang jatuh cinta akan menjaga subjek yang dicintainya hingga habis tenaga terakhir. Nasionalisme mekar tanpa harus dicelotehi teori-teori tersusun dalam kurikulum Pendidikan dan Kewarganegaraan.

Hanya dengan berlibur, kita bisa jatuh cinta. Ketika orang kaya raya nan murah hati itu tidak ada, lalu bagaimana? Apa mungkin kita harus bicara terlebih dulu masalah kemiskinan dan korupsi—bagaimana sebaiknya cara mengatasi hal itu? Ah, saya bukan penulis tips dan trik. Saya tak mau mempermainkan pengalaman manusia.

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s