Revolusi Cangkang Tutut


Sementara ibu saya harus pegang tusuk gigi ketika makan tutut, saya cukup pakai bibir. Tutut memang hanya nikmat ketika dinikmati tanpa amunisi. Jika dagingnya dikeluarkan dengan tusuk gigi, tak akan ada kuah kuning yang ikut terseruput. Kenyalnya jadi nihil rasa.

Saya mengenal tutut sebagai teman kecil di desa hijau di Kabupaten Majalengka. Kemudian menemukan tempat makan tutut favorit di belakang ruko-ruko buku di Palasari. Tiap sebelum keliling mencari buku bekas di sana, saya duduk-duduk di warung bersama ibu dan bapak. Tutut bisa habis dua porsi. Seporsi tutut di situ adalah gunungan dengan ketinggian maksimal dalam mangkuk ayam jago. Setelahnya, masih ada ragam kolak andalan ibu pemilik warung yang suka bicara jorok ketika latah itu.

Resep-Tutut-Bumbu-Kuning-Pedas-Enak

Tutut bumbu kuning (Sumber: website Makan Ajib)

Kenangan tutut di Palasari hanya berlangsung sampai saya SMP kelas satu. Setelah itu, saya mencari tutut di tempat yang lebih dekat dengan rumah dan sekolah. Saya begitu menyukai perpaduan daging kenyal dan kuah kuning yang meresap lewat pantat cangkang. Kadang, di bagian itu saya merasakan bagian tubuh agak lembut dengan sesuatu bertekstur pasir. Sepengamatan saya, itu mirip cangkang-cangkang mini, meski saya ragu tentang cara reproduksinya.

Kemudian saya mengenal escargot, makanan yang sekali-kalinya makan, menghabiskan dana yang lumayan banyak. Beda dengan tutut bumbu kuning, bagi saya cara memasak escargot di restoran sangat artifisial. Dagingnya terlebih dulu dikeluarkan dan dibumbui. Kemudian setelah masak, dagingnya dimasukkan kembali ke dalam cangkang. Cangkang hanya hiasan. Tak ada pula bumbu sereh, laos, kemiri sangrai yang wangi asap, dan kunyit. Satu-satunya bumbu yang saya kenali hanya bawang putih. Sisanya terlalu asing untuk lidah saya.

Escargots-in-a-Paris-rest-008

Escargot mewah dari Paris (Sumber: website Hello Doctor)

Tutut sawah dan escargot harusnya punya rasa yang sama di lidah. Ukuran tak jadi soal. Namun keduanya seakan berada dalam kelas berbeda. Orang seperti saya, dengan selera yang ‘begini’, bisa saja menuntut tutut untuk melakukan revolusi. Sebuah revolusi yang menjadikan dunia keong tanpa kelas. Seperti Karl Marx dengan angan-angan revolusi sosialismenya.

Pengolahan escargot sebagai makanan yang dijual mahal di Indonesia adalah tindak kapital. Bagaimana bisa escargot yang sama keongnya dengan tutut ditempeli label yang lebih prestisius dan mahal? Tak mungkin tutut menjadikannya bukan masalah. C’mon. Segalanya adalah masalah pertentangan antarkelas yang berebut kuasa. Bukan ukuran tutut yang membuatnya dijual murah. Bukan karena ia keong kelas sawah alias kelas bawah. Semuanya adalah konstruksi kapital.

Kapitalisme, menurut Marx, akhirnya akan membawa sebuah perubahan dalam masyarakat keong: revolusi sosialisme. Kapitalisme hancur dari dalam, dan beralihlah menjadi sosialisme. Tak ada lagi label berbeda pada si tutut dan si escargot karena pada akhirnya masing-masing dari mereka akan punya hak milik tempat bekerja sendiri. Segala pengisapan berakhir. Dengan revolusi, keselamatan akhir zaman diraih.

Tutut digeprek pantat cangkangnya dan tetap berada di cangkang selama proses pemasakan. Harganya murah dan dimasak hingga tersaji tanpa higienitas berarti. Apakah ia terasing? Sepertinya tidak akan. Dengan dibegitukan, tutut berada pada kekhasan individualnya. Jika pun ia terasing berkat perlakuan itu, seperti kritik Max Stirner pada Marx tentang keterasingan, pembebasan si tutut tidak lain adalah upaya orang idealis yang sama saja dengan ‘orang beragama’ yang mereka benci. Jawab Marx, sosialisme itu niscaya; hasil dari hukum sejarah objektif.

Laiknya kisah beda kelas tutut dan escargot, Marx juga punya cerita tentang borjuis dan proletar. Lagak-lagaknya Marx ragu, di karya belakangan, ia tidak berkata bahwa kapitalismelah penyebab adanya kedua kaum itu. Apalagi bicara revolusi. Tidak ada. Mungkin memang tutut dan escargot tak membutuhkan revolusi. Bukan harga esensi keberadaan dan keterjualan mereka. Perihal harga, perihal ekonomi bukan yang utama. Selera tak bisa disamaratakan.

Revolusi, revolusi… Tutut boleh melakukan revolusi, karena ia enak dan berhak diperlakukan sama. Namun escargot pun punya daya untuk dicintai. Kapitalisasi escargot itu ada, tapi bukan konflik nomor wahid. Tutut bukan diperlakukan tidak adil. Ia hanya tidak disukai karena sebagian manusia lain lebih suka escargot.

Ada hal-hal seperti daya politis menentukan strutktur ekonomi, atau cara pikir manusia proletar yang sesungguhnya disadari menentukan cara bekerjanya. Jika ada revolusi, itu hanya akan jadi revolusi  cangkang yang tidak mengubah fakta-fakta sosial dunia keong.

Oh ya, jika Anda tetiba punya rencana masak tutut, jangan lupa merendam  tutut mentah selama kurang lebih dua belas jam. Revolusi tidak akan bekerja dengan lumut dan racun.

Marx_old

Pas Foto Old Marx (Sumber: Wikipedia)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s