Hujan 28 Agustus


DSC_0485
Dipotret oleh Aura Asmaradana

Rimbunan daun jahe, seperti pun saya, tak mau kalah menyambut hujan. Tadi pagi, hujan memang sudah lebih dulu turun, matahari menghangatkan (tak cukup memanaskan), kemudian hujan turun lagi. Perkara adil-tak adil, ‘Beliau-Kau-Tahu-Siapa’ memang ahlinya. Kehangatan setelah hujan tadi pagi cukup fair untuk Mbak Jamu langganan saya. Ceritanya, hujan datang tak diduga sehingga jamu terlanjur dibuat selepas subuh. Ia jadi bisa keliling berdagang, sebelum mengecup wangi tubuh bayi sembilan bulannya, tempat sebahagian jiwanya berada.

Ini sebuah hujan 28 Agustus, di masa saya rerasanya ingin minum jahe hangat. Hanya ada rimbunan jahe mentah di kebun. Bayangan tentang matahari sesaat tadi pagi masih membayang. Saya selalu menjadi aktivis; menuntut ‘Beliau-Kau-Tahu-Siapa’; memaksaNya untuk lebih percaya pada saya. Padahal, tadi pagi, Mbak Jamu datang mengulum senyum. Ia mempersembahkan ramuan kunyit, asam, beras kencur, dan segala rupa untuk saya. Ia bahagia masih ada matahari di sela hujan.

Ingin rasanya menyelinap di antara rimbun daun jahe, semen, dan batu-batu basah. Menyembunyikan diri dari rasa syukur Mbak Jamu.

 

 

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s