Menyantap Seblak (Bak Nikmati ‘Manusia Gabriel Marcel’ di Atas Piring)


Saya mengenal seblak sekitar tahun 2004, waktu masih duduk di Sekolah Dasar. Dulu, ada dua jenis seblak, basah dan kering. Seblak basah adalah kerupuk berbentuk bundar tipis yang dimasak dengan air. Teksturnya setelah masak menjadi lembut dan kenyal. Seblak kering, sudah dapat diduga, merupakan kerupuk yang digoreng biasa, lalu dibumbui garam, penyedap rasa, dan bubuk cabai kering. Rasa pedas memang ciri khas dari panganan ini. Aroma dan rasa lain yang khas terkandung dalam hidangan seblak adalah kencur, atau cikur dalam bahasa Sunda.

OLYMPUS DIGITAL CAMERA
Seblak Kering (Sumber: website Makan Ajib)

Di masa-masa awal perkenalan saya dengan seblak, saya tergila-gila dengan seblak basah. Saya dan teman-teman SD biasa membuatnya sepulang sekolah di rumah kawan yang dekat dengan sekolah. Menyantap seblak sempurna nikmatnya jika dibarengi tontonan film horror atau gosip-gosip anak jelang remaja.

Dalam perkembangannya, seblak meledak sebagai street food dengan banyak penggemar. Berbagai inovasi pun muncul. Pada akhirnya bahkan tokoh utama seblak, yaitu kerupuk ikan, mulai tergeser. Ada seblak kwetiau, ceker ayam, siomay, mi, dan sebagainya. Pengertian seblak bergeser dari ‘makanan dengan bahan dasar blablabla’ ke ‘makanan dengan bumbu dasar blablabla’ Ya, memang segala macam improvisasi terhadap seblak tak bisa dipisahkan dari tekstur kenyal dan kencur sebagai sang diva. Jadi kini, apa pun bahan dasarnya, yang disebut seblak lebih mengacu pada cara memasak dan paduan bumbu khas, bukan si kerupuk ikan mentah.

Seblak kerupuk masih kegemaran saya. Saya menemukan bahwa seblak seperti manusia di mata Gabriel Marcel. Betapa ekstrem alegori ini. Tapi please, coba simak sebentar. Karena masak dan makan seblak sudah biasa, saya kini hendak nyablak soal seblak.

Resep-dan-Cara-Membuat-Seblak-Basah
Seblak Basah dengan kuah minim nan kental (Sumber: website Info Kekinian)
  • Tekstur Kerupuk

Tekstur kenyal adalah komponen paling dicari dari seblak. Sebelum dimasak dengan bumbu dan air kaldu, kerupuk ikan mentah terlebih dulu direndam dengan air dingin (bukan hangat atau panas karena akan membuat kerupuk saling melekat satu dengan lainnya).

Hasil kegiatan merendam kerupuk niscaya membuat lidah berjoget. Ketika seblak dikulum satu-satu dalam mulut, ada kelembutan yang terasa. Apalagi jika kaldu yang digunakan kental dan meresap. Mengulum seblak lembar demi lembar seperti mendekati manusia. Kelembutan yang dimilikinya membuat saya merasakan misteri. Ya, Marcel bicara soal manusia sebagai misteri. Seblak menyembunyikan kedalaman yang bersembunyi, memaksa saya untuk terlibat lebih dalam, membuat saya ingin mengunyah segera.

Ketika sudah mulai menggigit dan mengunyah, seblak terasa kenyal. Semakin lama, semakin hancur di mulut, semakin termanifestasikanlah misteri memabukkan itu. Namun tentu mengunyah selembar saja tak akan cukup. Lembar-lembar kerupuk letoy itu butuh komponen lain yang melengkapi. Saya biasa melengkapinya dengan telur, sayur sosin, kembang kol, kembang tahu, syukur ada uang untuk bisa beli ayam.

Sebagaimana manusia, seblak harus lembut dan terbuka. Semakin introvert manusia, semakin ia tak punya pintu masuk untuk menerima dan memberi cinta. Pada seblak, semakin tak punya pori, semakin ia tak dapat menjadi seblak basah yang otentik.

  • Kuah

Seblak mengandung rasa karena keterbukaan pori si kerupuk ikan. Itu alasan mengapa kerupuk ikan harus direndam air dulu sebelum dimasak. Air kaldu jadi meresap sempurna, menciptakan kuah yang sedap untuk diseruput. Slurrp… Saya suka seblak yang kuahnya tak banyak. Sedikit saja, namun kental, dipengaruhi tepung tapioka di kerupuk ikan.

Warung seblak di dekat rumah saya tidak merendam dulu kerupuk dan bahan-bahan lainnya hingga seblak menjadi begitu keras dan susah didekati oleh lidah (dan tentu saja oleh gigi). Akibatnya, saya malas beli seblak di sana lagi.

Bak manusia, seperti sudah saya sebut tadi, eksistensi seblak yang otentik terjadi dalam hubungan antar-lembar kerupuk dan kuah kental yang melekat di antaranya. Kuah membuat komponen saling setia terhadap yang lain (fidelité).

Lembar kerupuk yang tak kaya pori seperti individu manusia yang selalu berpusat pada diri dan tertutup. Tanpa keterbukaan, tidak mungkin ada spiritualitas. Maka rendamlah kerupuk dengan cukup lama sehingga kuah kaldu akan menyatukan mereka laiknya rasa cinta, di mana kita akhirnya dapat menemukan ‘Kesempurnaan Tertinggi’ atau kalau sudah biasa, sila Anda menyebutnya dengan ‘Tuhan’.

  • Rasa (di Lidah dan di Hati)

Menyantap seblak adalah bermain dengan rasa. Rasa di lidah, dan rasa di hati. Di lidah, kita akan menemukan asin dari garam, rasa ‘datar’ namun wangi dari kencur, dan pedas dari cabai. Seluruhnya, jika saling menerima, akan memengaruhi rasa di hati. Hangat dan menenangkan sekali. Rasa seluruh komponen meletup-letup bergiliran. Di antara kerupuk ikan, air kaldu, sayuran, kembang tahu terdapat ruang yang membuat keseluruhan komponen itu memunculkan diri. Asin. Pedas. Wangi kencur. Pedas. Asin. Bergantian begitu.

Seluruh bahan mempersembahkan diri dengan keunikan masing-masing. Membiarkan hubungan serap. Seperti Marcel memandang manusia, mereka punya daya creativité, individu berdaya mengembangkan diri, merealisasikan, dan menciptakan kebebasan diri.

  • Penyajian

Kebanyakan warung menjual seblak dengan packaging styrofoam dilapisi kertas nasi. Ini adalah cara menyajikan paling buruk. Kuahnya akan meluber menembus kertas nasi. Semakin lama berada di dalam situ, kuah akan mengering. Styrofoam seperti dunia tempat manusia hidup. Memang asik kalau seblak sudah matang dan tersaji tanpa kekurangan satu apapun. Namun dengan bersama-sama begitu, seblak terasa seperti diinstitusionalisasi oleh wadah. Wadah seperti negara bagi individu.

Bagi Marcel, keberadaannya negatif. Alih-alih menyediakan diri (disponibilité), wadah itu malah bersifat menguasai kawan-kawan yang ‘menumpang’ padanya. Ia juga tak memberikan diri untuk kebersamaan dan kenikmatan yang (padahal) bisa diciptakan bersama.

Menikmati seblak seperti menikmati manusia. Kalau saja saya kenal Gabriel Marcel dari SD, mungkin saya akan sering kehilangan hangatnya seblak. Seblak bisa dingin karena saya banyak mikir memandang piring.

Memasak, menyajikan, menyantap seblak bagaikan sebuah perlawanan terhadap masyarakat kekinian, atau yang Marcel sebut sebagai mass-society. Jangan memandangnya sebagai satu jenis panganan yang diperintah supaya ‘kuantitas dan kualitasnya mesti begini’ oleh wadah (apalagi oleh styrofoam). Dari kerupuk ikan, si tokoh utama hingga bubuk merica yang paling remah, keunikannya harus tetap sakral.

Memasak seblak barangkali harus berbasis pemikiran tentang seblak sebagai fragmen-fragmen. Mereka berhubungan layaknya dalam komunio antarsubjektif. Ada bumbu kuah kental segar spiritualitas melingkupinya.

Kuah berbumbu itu adalah realitas: pengalaman antarsubjektivitas yang termanifestasi dalam cinta. Segalanya berawal dari rasa lembut dan sebuah gigitan dalam mulut. Membuat Anda ingin menikmatinya lagi dan lagi: seblak dan hubungan antarsubjektivitas. Sebuah jalan menuju absolut-Thou; sebuah kenikmatan yang tak terkalahkan.

imarceg001p1
Pas foto Bapak Gabriel Marcel (Sumber: britannica.com)
Advertisements

2 thoughts on “Menyantap Seblak (Bak Nikmati ‘Manusia Gabriel Marcel’ di Atas Piring)

  1. Salam, tulisannya keren-keren kak. Betah rasanya berkunjung kesini.

    Tapi kenapa tulisan sebagus ini gak dibikinin blog yang lebih cantik pula? #Saran:)

    1. Hai, terima kasih sudah mau membaca.
      Saranmu adalah saran kesekian yang saya dengar soal layout blog. Tadinya saya tidak terlalu ambil pusing soal mempercantik blog, tapi sepertinya saya akan mulai belajar :’)
      Makasih ya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s