Paspor, Hormat, dan Nasionalisme Sempit


Belakangan, media sedang riuh mengenai kepemilikan paspor. Gloria, remaja 16 tahun sampai tingkat kementerian diributkan terkait masalah itu. Gloria, remaja anggota Paskibraka itu untuk sementara waktu punya dua kewarganegaraan, yaitu Indonesia dan Perancis. Ia tercatat dalam Kartu Keluarga negeri ini, tetapi pun memegang paspor Perancis, negara asal ayahnya. Arcandra dicopot bapak Presiden karena (diduga) memiliki paspor Amerika. Beberapa opini mengaitkannya dengan gagalnya pemerintah dalam mengenal warga negaranya. Pemerintah disebut-sebut kurang teliti dalam menyelidiki latar belakang seseorang serta tak mumpuni dalam masalah pendataan.

Bagi saya, kedua hal itu bukan sebatas perkara kekurangtelitian pemerintah dalam menangani warga negara. Ada persoalan yang lebih mendasar pada cara berpikir sebagian besar dari bangsa Indonesia. Kita tentu sepakat bahwa ‘Indonesia’ tak sekadar nama, bendera merah putih, atau lambang garuda. Dikandung dalam namanya, Indonesia sebagai sebuah negara punya keagungan tak tersentuh dan melampaui simbol-simbol. Jika sepakat akan hal itu berarti sebagai warga negara, kita mesti punya kemampuan untuk membayangkan kebangsaan dan nasionalisme melampaui simbol-simbol pula.

CqDxZneUEAASr1Q.jpg large

Gloria Natapradja Hamel (Sumber Twitter @RadioElshinta)

Saya berani menyebut bahwa paspor adalah simbol belaka. Lepas dari fakta bahwa kepemilikan pasor Gloria hanya sementara dan ia menyatakan akan memilih Indonesia ketika usia 18, saya menduga ada ketidaksiapan pikir. Banyak orang telah menyamadengankan Indonesia dengan benda sekadar paspor atau bendera. Belakangan, Wapres Jusuf Kalla juga diajukan berbagai pertanyaan nada miring tentang tidak hormatnya ia ketika upacara bendera (sumber). Bisa jadi, kita tidak siap jika mesti menafsirkan Indonesia sebagai sesuatu yang melampaui batas-batas indera.

Realitas itu tak lain menunjukkan gejala memandang nasionalisme sebagai kondisi dan benda-benda belaka. Dengan kata lain, ada kecenderungan manusia mendewakan simbol. Simbol-simbol itu tentu penting karena luasnya kata abstrak seperti nasionalisme tidak dapat direpresentasikan oleh apapun jua. Namun, keagungan Indonesia yang saya sebut di awal tadi menjadi tak terwakili. Nasionalisme pun menjadi sempit maknanya.

Sementara pemerintah mencanangkan tema hari merdeka ke-71 dengan slogan “Kerja Nyata”, keributan tentang paspor itu malah mengindikasikan bahwa pemerintah hanya peduli pada perihal legalitas formal. Perihal legalitas formal adalah hasil dari rentetan refleksi ilmiah terhadap, di antaranya, hukum kenegaraan. Tapi penghayatan terhadap realitas, niscaya akan melampaui rentetan refleksi ilmiah itu. Menjadi masalah ketika tak ada seorang pun yang dapat ikut serta dalam penghayatan Gloria, Arcandra, dan Jusuf Kalla. Cinta mereka pada negara diragukan dan mereka pun tersisih. Puji syukur kita tak sampai pada mimpi buruk itu.

Terbatasnya cara pandang ini mengerikan bagi pertumbuhan bangsa. Ketika kehidupan bernegara ditentukan sepenuhnya oleh pendewaan simbol, nasionalisme sempit, dan hal-hal legal formal, maka pertama, kita tak bisa banyak merasakan kepedulian terhadap liyan dan sosial (others and social interest). Jika tak ada simpati masyarakat luas, tak ada petisi yang mendukung Gloria, maka ia tak akan bisa turut menurunkan bendera pusaka.

Kedua, pada titik ekstrim, standar-standar moral dan keadilan (standards of morality and justice) serta merta akan diabaikan. Pada jenis pemerintahan yang otoritatif, ini gawat. Ketika ada kebijakan pemerintah mengatur nasionalisme dengan syarat A, B, C, maka orang-orang dengan penghayatan penuh yang tak punya A, B, C akan tersingkir dari apa yang dihayatinya.

Untungnya kedua hal itu tak terjadi. Sebuah indikasi bahwa ada masyarakat Indonesia yang menghayati nasionalisme lebih dari pendewaan simbol. Melalui media sosial yang di dalamnya informasi malang melintang, Gloria didukung penuh lewat tagar #GloriaPASKIBRAKA, beberapa pihak juga menuntut bukti akan kewarganegaraan ganda Arcandra (yang memang belum valid buktinya) sebagai bentuk dukungan atas keinginan anak bangsa dalam merawat negaranya. Saya lega. Masyarakat Indonesia punya banyak jiwa dengan penghayatan nasionalisme melampaui paspor dan hormat.

Semoga sampai kapan pun kita tidak akan jatuh dalam nasionalisme sempit.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s