Judul Bombastis, Isi Bikin Meringis


Dua hal menjadi problem saya sejak mulai gemar menulis prosa. Saya kesulitan menciptakan nama tokoh dan membuat judul. Hal kedua jauh lebih sulit dibandingkan yang pertama.

Waktu SMA, saya menerima penugasan membuat novelet. Saya menyelesaikan tugas itu dengan lancar. Ketika bedah novelet—yang lebih terasa seperti sidang—beberapa guru memuji judul yang saya pilih. Saya memberinya judul ‘1994’.

“Kenapa pakai angka? Ini tidak seperti novel umumnya. Menarik. Membuat saya mau tahu isinya.” Kira-kira begitu guru bahasa Jepang saya berkomentar. Padahal waktu itu saya sedang gandrung baca karya Orwell saja sih. Sebelum dan setelah novelet itu, saya merasa bahwa judul-judul puisi dan prosa yang berderet di komputer tidak menarik. Sudah lama berpikir, tidak menarik pula hasilnya.

Lain waktu, saya melihat buku John G. Stackhouse, Jr di etalase. Judulnya ‘Bisakah Tuhan Dipercaya?’. Judul provokatif itu ternyata tak seagresif isinya. Saya sudah terlanjur membeli, dan toh bukunya menarik meski agak ensiklopedik. Saya terkejut buku itu bisa ada di tangan saya hanya gara-gara judul. Saya mau membuat karya seperti itu.

Awalnya saya mengira masalah saya dengan judul hanya akibat dari kreativitas buntu. Ternyata belakangan, saya menyadari bahwa selama ini saya terlalu menganggap enteng pemilihan judul pada karya tulis. Saya tidak mau belajar untuk tidak kesulitan menentukan judul.

Kesadaran tentang pentingnya judul datang dari hobi baru saya menulis di blog publik. Ketika ada banyak orang saling berbagi ide di satu wadah, saya baru ngeh kalau judul itu sangat krusial. Bahkan bagi sebagian orang, judul lebih penting daripada penyampaian ide. Beberapa kali, saya tertarik membaca artikel-artikel dengan judul bombastis, beberapa bahkan sangat cerdas. Namun beberapa kali pula saya kecewa.

Saya menemukan orang-orang yang menulis tanpa argumentasi jelas. Judul pun jadi indah sendiri. Padahal (ternyata), judul dan isi bagai kue klepon dan isinya. Hijau segar dan bulat presisi saja tidak berarti tanpa rasa manis di dalamnya. Beberapa penulis menciptakan judul artikel bombastis sehingga ramai pembaca. Jujur saja, setelah saya baca, beberapa tak manis. Isinya ‘kosong’. ‘Kosong’, sejauh yang saya temukan tidak jauh dari tiga hal ini:

1) penulis mau menyampaikan kritik, tapi emosional, sehingga ide tidak tereksplorasi dengan baik. Beberapa tulisan yang saya baca penuh ungkapan sarkastik (bahkan makian) yang kurang esensial. Bagi saya, lebih baik memberi data daripada mengungkapkan ungkapan emosi berlebih. Data bisa lebih membantu pembaca memahami ide.

2) penulis berusaha ikut serta dalam menanggapi isu yang sedang naik daun, tanpa punya opini yang orisinil. Ketika suatu isu merebak, ‘keren sepertinya menulis juga’. Poin ini sebetulnya tak terlalu bermasalah, hanya saja, saya adalah tipe yang menganggap orisinalitas itu penting. Teori hanya bumbu penyedap, sementara realitas personal adalah bahan pokok.

3) penulis yang memang hanya gemar menulis judul. Bercanda. Tipe penulis terakhir ini mungkin tidak sungguh-sungguh ada. Mana ada orang yang hanya gemar menulis judul? Kenapa pula ia tidak menulis aforisme seperti Nietzsche saja?

Bagi saya, blog publik adalah media yang menarik untuk penyampaian gagasan dan pengembangan diri. Menulis jadi tak asal-asalan karena ada tanggungjawab lebih untuk ‘mempersembahkan diri’ di ruang bersama. Akhirnya, hari ini, saya berani menulis otokritik. Setelah beberapa kali dikecewakan, saya mesti hati-hati dalam menulis di ruang publik supaya tak melakukan hal yang sama. Percuma berpembaca banyak (akibat judul bombastis) tapi di bawah tulisan masih ada komentar,

“Idemu apa?”

Bikin meringis.

Dan, sungguh, ini adalah otokritik!

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s