Menteri Hebat Dari Mana Saja


DSC_0302

Media lokal punya daya pikat tersendiri. Fokusnya kadang berbeda dengan media nasional. Pun begitu dengan isu yang ditebar. Bisa jadi lebih detil, ada pula kemungkinan cenderung close minded dan antroposentris.

Hari ini saya membaca “Pupusnya Representasi Jawa Barat”, sebuah berita terkait perombakan Kabinet Kerja. Sesuai judul dan cakupan persebaran medianya, dua menteri terganti dikaitkelindankan dengan Jawa Barat, tempat asal mereka. Saya pun tergoda untuk merespon dengan jiwa yang naif ini.

Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara-Reformasi Birokrasi dan Menteri Agraria dan Tata Ruang atau kepala Bapennas diganti. Kebetulan mereka berasal dari Jawa Barat, bersuku Sunda. Dalam berita, fakta itu dianggap mengecewakan. Hilang sudah representasi Jawa Barat di pemerintahan pusat. Tentu berita ini terkesan menyayangkan. Apalagi ternyata agenda utama Jawa Barat adalah mengangkat sebanyak mungkin figur lokal ke panggung politik nasional.

Adakah selama masa jabatan kedua menteri secara penuh menjadi jembatan apik antara daerah (asalnya) dengan pusat? Jika ya–bagi saya– jembatan menuju pusat itu baik jika dibangun di daerah yang benar membutuhkan, bukan di daerah yang secara lahir maupun batin dekat dengan sang menteri. Siapapun mesti objektif dalam bekerja menyangkut kesejahteraan banyak pihak.

Hemat saya, asal daerah dan suku bangsa–dalam kasus ini–tak bertalian. Menteri adalah milik bersama. Pekerjaan yang menjadi tanggung jawabnya adalah menyeluruh dan tak pandang daerah. Menteri agraria dan tata ruang tentu takkan hanya memperhatikan atau mengutamakan isu agraria dan keruangan dari daerah muasalnya saja. Tentu ia akan menyulap apa yang perlu disulap. Tentu ia akan menjadi kuping sekaligus mulut yang marjinal.

Atlas Jawa Barat berat jika dipikul, tapi mesti. Jawa Barat perlu dibangun. Pun begitu dengan daerah lain. Prioritas adalah sudut yang pingsan atau mati suri (sehingga mendesak dibangunkan). Untuk itu, perlu pandangan objektif dengan kompetensi mumpuni. Asal daerah bukan nomor wahid. Yang penting tukar-menukar posisi menteri tak berbasis politik transaksional–meski yang ini lain topik.

Semoga representasi Jawa Barat tidak hilang sungguhan, karena menteri terpilih bisa mendengar Jawa Barat, kemudian menyampaikan apa yang didengarnya dengan jujur. Sesungguhnya Jawa Barat butuh menteri hebat, sekalipun dari pelosok Kalimantan.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s