Si Anak Halilintar


IMG_20160721_073448

Puluhan tahun lalu di timur pulau ular-tepat di kaki ile mandiri–anak-anak setinggi satu depa berlarian. Jalan becek setelah hujan semalaman. Langit tak menyisakan retak atau celah bekas liarnya halilintar. Berbekal keranjang rotan, mereka hendak menjemput anak-anak halilintar di kebun. Saban habis halilintar datang, jamur-jamur putih bermunculan. Anak-anak itu tak kuat menahan liur di mulut. Ditelannya berkali, sambil membayangkan gurihnya pepes jamur hangat. Tadinya, saya menganggap kehadiran jamur-jamur selepas halilintar datang hanyalah sebatas cerita–bagian dari peradaban masyarakat dengan alam pikir mitis yang Lévy-Bruhl sebut pra-logis. Tapi tetiba, tadi pagi… Pukul 7 pagi, kabut pekat di halaman rumah orangtua saya, di kaki Gunung Manglayang. Saya membuka pintu, membiarkan udara menelusup di tubuh-tubuh yang masih ingin lelap. Semalam hujan deras turun dengan sekali gelegar halilintar mengejutkan. Satu jam kemudian, saya beranjak ke halaman berbukit rumput gajah. Tepat di bawah pohon belimbing asam, saya bertemu si anak halilintar. Ia yang sendirian itu tak ada di situ kemarin. Ukurannya kecil. Saya mengira, ia akan lebih besar jika petir semalam datang bersahutan, bahkan mungkin ia tak akan sendiri. Tetiba, tadi pagi, saya percaya bahwa jamur-jamur dilahirkan dari ibu yang perkasa. Cerita itu tampak melampaui keruwetan persoalan praktis keseharian. Si anak halilintar dipercayai dulu dan sekarang, di masyarakat ‘kuno’ dan modern. Mitos merupakan bakat manusiawi.

 

 

 

 

 

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s