Kumpulan Fik-Min


Beberapa Fik-Min ini sudah lebih dulu dihadirkan di akun Facebook saya. Enjoy.

Fik-Min: Setan ‪#‎fiksimini‬
Perdebatan mulai jadi hebat,
“Jangan memelototi bapakmu sendiri!” bentak si bapak.
“Aku tidak melotot ke bapak. Ada setan di balik punggungmu, pak…”
Reflek, si bapak melompat maju. Kini, matanya yang hampir lompat keluar.
“Laki-laki badan besar dan merah, bertanduk.” Perempuan itu berlalu. Di luar pengawasan si bapak, ia terkikik pelan.
“Ma, ada setan dekat Eyang? Jadi, bulan puasa setan nggak dikurung ya?” Tanya anak lelaki yang menggoyang telapak tangan perempuan itu.

Fik-Min: Skandal ‪#‎fiksimini‬
Lima belas tahun usia pernikahan mama dan bapak. Aku jadi karunia pertama yang mengejutkan. Mama memberiku nama Joni. Nama itu sama dengan nama seorang pramugara karismatik yang rutin ditemuinya setahun lalu. Sementara bapak masih saja percaya bahwa aku adalah berkat dari batu akik penyembuh yang didapatnya setahun lalu pula.

Fik-Min: Aroma Kentut ‪#‎fiksimini‬
Tamu yang berkunjung lama di apartemen tipe studioku membuat bau berubah. Ketika itu, rumah jadi asing. Ketika itu pula, aku akan mengupayakan berbagai cara untuk banyak kentut. Biasanya dengan makan kacang-kacangan. Aku memesan semangkuk penuh bubur kacang hijau dari kafetaria. Aroma kentut–bahkan yang busuk–lebih nikmat daripada aroma-aroma asing.
Kentut kutangkap dengan menangkupkan telapak tangan di bokong. Aroma gas yang terperangkap kemudian kuhirup dalam-dalam di depan hidung.

Fik-Min:
Pupi Pasti Kecewa ‪#‎fiksimini‬
Sriningsih suka sekali memasak. Ia memasak untuk banyak orang: para tetangga, teman kampus, dan keluarga–termasuk paman dan tantenya yang pemalas dan suka membentak, mama tirinya yang memukul Sri ketika PMS, serta bapaknya yang hanya ada di rumah ketika dini hari.
Siang itu, Sri berharap supaya tak ada seorang pun di meja makan menemukan telinga dan biji mata dalam semur daging. Ia memasak buru-buru. Sri sadar ketika tak menemukan kesukaan Pupi di dalam kantung plastik berisi limbah belulang. Padahal Pupi, si anjing kampung, suka sekali kulit kepala tikus.

Fik-Min: Merajuk
‪#‎fiksimini‬
Ketika aku memerah dan mengejang karena tangis, bapak biasa menimang dan melagukan puja-puji pada rasul Allah tepat di liang telinga. Lebih sering, ibu yang ‘menanganiku’. Ia menyusuiku sambil membuat tanda salib dengan minyak hangat di ubun-ubunku. Mereka senang ketika amukku reda. Mereka bangga dengan caranya. Ah, pak, bu, aku hanya bayi dua minggu yang sedang ingin merajuk.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s