Tentang yang Saya Temukan di Sebuah Siang


Zat itu bernama iman.

Ia hadir di ruang kosong dalam diri manusia. Salah satu makna bekunya adalah kepercayaan (yang berkenaan dengan agama); keyakinan dan kepercayaan kepada Allah, nabi, kitab, dan sebagainya. Lainnya adalah ketetapan hati; keteguhan batin; keseimbangan batin. Semuanya berkait dengan hal-hal gaib karena memang zat itu tidak tampak pula.

Bagi saya, setiap insan mengandung iman. Iman turut bergerak dalam sejarah peradaban manusia.

Suatu siang menjelang sore di kampus, saya merasa penuh. Itu berarti, ruang kosong dalam diri saya terisi. Saya duga, isinya adalah zat bernama iman itu. Kepenuhan itu toh menghasilkan nestapa luar biasa. Jangan heran. Hal itu bukan tak mungkin. Seseorang dapat dengan yakin bahwa keyakinan dan kepercayaannya terarah pada hal-hal keduniaan. Uang dan jabatan, misalnya. Tak punya uang rasanya terbuang. Tak ada jabatan rasanya dikelilingi setan.

Ada pandangan umum yang beredar: keimanan adalah puncak eksistensi seorang manusia. Umum, namun bagi saya, terlalu naïf. Siang itu, perbincangan mengarah ke pandangan itu. Tak berapa lama kami bertukar candaan, seorang dosen kebetulan melintas. Ia bergabung dengan kami, para mahasiswa yang berkumpul namun berkutat dengan pikiran masing-masing.

“Bagaimana manusia bisa tahu bahwa ia mengalami lompatan eksistensi menuju keimanan? Bisa jadi ia yakin sekali bahwa ia sudah beriman, tapi ternyata masih di situ-situ saja….”

Bagaimana?

Bagaimana manusia bisa tahu? Apakah hal itu hanya menyangkut afirmasi subyektif? Seseorang mendekatkan diri pada sosok transenden, kemudian ia merasa mencapai pada kepenuhannya; pada imannya; pada ‘ketetapan hati; keteguhan batin; keseimbangan batin’. Dari mana ia bisa menilai pencapaian diri? Ketika seseorang mengalami pencapaian iman dan mengakuinya, validkah itu?

“Manusia butuh orang lain untuk mengingatkan!” Sang dosen terkekeh khas.

“Saya ini lama jadi pembimbing rohani….” Terkekeh lagi.

Saat itu, saya merasa refleks mengangkat sebelah alis, dan mengangakan mulut. Kata-katanya mungkin hal biasa. Umat manusia mungkin sudah lama bisa menjawab pertanyaan ‘bagaimana?’ itu. Saya tak peduli. Saya merasa kata-katanya adalah jawaban atas keterbukaan saya. Sebatas keterbukaan diri saja, karena saya toh tak pernah benar-benar bertanya dan mencari.

Beberapa kali—seperti kebanyakan orang—ketika terpuruk, saya menerjang awan, menikmati kepenuhan diri; menemui iman saya. Beberapa kali itu pulalah saya tak menemukan apa-apa, karena saya—akhirnya—tahu, saya yang bertubuh ini sendirian. Saya mengeluh pada wajah abstrak. Bersujud di lantai dingin. Bicara pada ruang kosong berisi miliaran telinga (yang terpaksa harus saya bayangkan sebagai telinga manusia).

Jadi, itu jawabannya….

Siang itu, saya merajut semangat kembali. Saya menoleh ke samping kiri. Saya menemukan tubuh. Ya, paling tidak,

“Mungkin, salah satunya tubuh itu.”

Ia, niscaya, akan jadi pengingat akan ‘ketetapan hati; keteguhan batin; keseimbangan batin’ saya. Tapi tentu ia tidak sempurna.

Lalu, di mana yang sempurna? Tentu manusia butuh penyelamat altruis dengan keutamaan yang melampaui segala. Saya mesti menemukan bentuk zat yang bisa diingat dan tertanam dalam diri bahwa miliknyalah telinga yang mendengarkan keluhan saya, niscaya.

Iman, sang pelengkap ruang kosong yang serba transenden ternyata butuh imanensi pula.

Memang ada kemungkinan saya salah tangkap dan gagal paham apa yang sebetulnya dimaksud sang dosen. Tapi entah kenapa, saya tetap merasa telah menemukan jawaban mengapa harus mengakui kebertubuhan sang segala keutamaan?

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s