Menjelang Pasar Rakyat 2016


Setiap tahun–didampingi Ciliwung Merdeka–pasar rakyat warga bantaran sungai Ciliwung Jakarta digelar meriah. Apa sebetulnya makna di balik tiap kemeriahan itu?

Poster Ps Rakyat2

Publikasi Pasar Rakyat 2013. Sumber

Sepengamatan saya, warga bantaran sungai kerap mendapat stigma negatif di dunia maya. Berita-berita dalam harian daring terkait penggusuran yang berada di depan mata banyak dikomentari negatif oleh masyarakat luas. Mengapa bisa begitu? Sudah terlanjur lekatkah kekumuhan di bantaran sungai? Kekumuhan yang digembar-gemborkan tentu bukan saja terkait rupa fisik perumahan, tapi juga terkait tingkah laku dan psikologi masyarakat bantaran yang kumuh dan tidak punya kemampuan intelegensi layaknya masyarakat yang hidup di pusat kota berpenampilan elok.

Pasar rakyat hadir sebagai media melawan isu penggusuran dengan cara yang berbudaya. Sebagai orang baru yang melibatkan diri dalam persiapan kegiatan ini, saya merasa bahwa inilah yang disebut sebagai perjuangan membela hak asasi manusia (a la protest school) melalui gerakan seni budaya. Pasar rakyat menghadirkan bangunan ‘pasar’ yang dibangun sendiri oleh warga bantaran yang sudah mengikuti workshop pembuatan saung bambu. Di tiga hari penyelanggaraan kelak, akan ada rangkaian acara berisi pawai, orasi, teater, musik, dan kegiatan budaya lainnya.

Mengingat penggusuran yang kabarnya sudah sepenggapaian tangan, buat saya inisiatif masyarakat bantaran ini terang saja mengharukan. Senin, 16 Desember 2013, seorang wartawan Suara Pembaruan, Fana Fadila menulis dalam reportasenya,

“Yah, mungkin ini pasar rakyat terakhir di sini. Jelas sedih, tradisi yang sudah bertahun-tahun ini akan hilang ketika warga direlokasi,” kata Cepot (42) salah seorang warga RT 06/12, Kelurahan Bukit Duri, saat ditemui SP di Pasar Rakyat, Minggu (15/12) malam.

Sumber

Miris. Kecemasan itu terulang tahun ini. Masyarakat mungkin gelisah, tapi mungkin justru kecemasan itulah yang membuat optimisme membumbung. Semakin kuat pula kesadaran bahwa meski dimarginalkan, masyarakat bantaran pada faktanya tidaklah pantas dibandingkan, lalu disebut sebagai masyarakat kelas dua di kota. Perkembangan kota secara operasional tidak dapat lepas dari tempat-tempat semacam bantaran sungai. Tentu saja, karena masyarakat bantaran adalah manusia. Masyarakat bantaran bukan ‘separuh manusia’ dengan ‘separuh martabat’ saja.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s