Catatan Pesimistik tentang Tahun Baru


:Hermei

Di tengah planning matang miliaran manusia, apa yang saya dapatkan di momen tahun baru? Banyak. Lalu, adakah beda dengan apa yang saya peroleh di bukan-tahun-baru? Tidak ada beda. Ya, tidak ada beda. Tahun baru adalah hari biasa. Bagi saya, sang pukul 00.00 31 Desember itu adalah si kembar identik dengan pukul 00.00 di hari-hari lain.

Ini mungkin problematik. Banyak orang menganggap bahwa tahun baru adalah sebuah kesempatan besar dalam melakukan perubahan. Saya tidak mau berubah? Bukan itu. Saya mau melakukan perubahan. Tapi masalahnya, melakukan perubahan, adalah berarti memutuskan alias mengambil keputusan. Berdasarkan pengalaman saya, seringkali keputusan yang saya ambil mengalami benturan dengan manusia di sekitar. Tidak selalu. Tapi sering. Keseringan juga bikin makan ati, keles.

Beberapa kali, saya dianggap tak tepat dalam mengambil keputusan. Hidup, bagi saya (silakan jika mau tak setuju) adalah alur subjektif yang dinamis. Ketika ada irisan manusia versus masyarakat, wajar karena homo homini socius. Tapi buat saya, alur yang subjektif itu kok jadinya mesti objektif ketika,

“Idih, yakin itu keputusan lu? Kok aneh? Nggak sengaja, mungkin lu melakukan itu. Salah belok. Kok tidak sesuai nilai-nilai? Tidak bla bla bla…”

Jelas, itu bertentangan dengan “prinsip” saya tentang hidup. Terpaksa saya harus pakai tanda kutip ketika menyatakan prinsip, karena saya belum cukup berani untuk bersikukuh menyatakan “ini memang alur yang saya pilih”. Jadi pada peristiwa tahun baru, ketika orang berbondong-bondong menyatakan resolusi tahun depan, saya malah berdoa: semoga ada pengalaman yang membuat saya yakin bahwa hubungan antar-manusia adalah bukan hubungan “konflik-lalu-kontrak” itu. Ketika ada beberapa pengalaman beruntun yang menyentuh saya secara eksistensiil; yang mempertemukan saya dengan kesempatan melakukan perubahan, saya mau mendulangnya menjadi masa depan apik. Masa depan saya sendiri. Masa depan sang subjek.

Tahun baru, sekarang, belum berarti sama sekali untuk saya. Selamat untuk kalian yang sudah menemukan maknanya. Buat saya, penemuan makna adalah hasil pencarian. Lucky you.

Yaa… Mungkin satu-satunya alasan supaya saya tidak melanjutkan hidup menjadi seorang pesimistik adalah sebuah pengalaman tentang manusia dan manusia lain di sekitar. Tentang masayarakat.

(Untuk Hermei. Terima kasih atas Tulisan di Akhir Tahun 2015 — https://hermeinabu.wordpress.com/2015/12/31/tulisan-di-akhir-tahun-2015/)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s