Ingat Mati (Bukan Catatan Religi)


:R

Rasa dekat dengan kematian justru datang ketika tak ada seorang pun yang mati di sekitarku. Tak ada kehilangan fisik yang sungguh-sungguh; tak ada upacara penguburan.

Perasaan ini adalah perasaan merindu. Merasa jauh dari kenyamanan. Tak ada rasa hangat. Bagaikan hidup tanpa darah dalam tubuh. Beberapa kali saya menumpang mobil di malam hari. Melewati jalan bebas hambatan yang cahaya lampu jalannya tak begitu berarti. Di dalam mobil gelap dan dingin karena pendingin udara. Jalan bebas hambatan lurus dan aku menikmati kelurusannya dengan duduk di bangku bagian tengah. Tak menempel ke pintu kanan atau pun kiri. Aku menatap ke depan, ke arah garis putus-putus putih di tengah jalan.

Di kanan kiri jalan, aku menemukan ladang atau sawah. Ada pula rumah-rumah. Lampunya menyala. Pada posisi itulah aku menginginkan untuk ada dalam naungan cahaya. Terangnya yang identik dengan kehangatan memanggilku. Tapi aku tak bisa. Maka inginku hanya sebatas ingin. Aku menginginkan rumah-rumah di kejauhan itu. Rumah dengan gorden tertutup dan lampu menyala. Terutama bohlam dengan pancaran sinar kuning.

Duduk di mobil itu, hatiku mencelos. Ketika aku jauh dari kehangatan dan kenyamanan, ketika itu pulalah aku merasa sangat dekat dengan kematian.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s