Terbawa Arus, Gerah!


Saya berbaring di kamar. Mengingat-ingat. Saya tiba-tiba merasa gerah. Dibukalah selimut flanel kesayangan. Ternyata bukan gerah akibat selimut. Saya gerah karena mengingat suatu peristiwa.

Saya pernah mengalami sebuah rangkaian masalah yang cukup pelik. Masalah itu (mungkin) hampir selesai. Saya mengulang ingat bagaimana penyelesaiannya, berkaitan dengan kondisi saya sekarang ini. Adakah penyelesaian itu tepat dan sesungguhnya sesuai dengan ide-ide utama dalam prinsip saya? Apa saya jatuh pada emosi sesaat kala itu? Saya semakin gerah.

Sebagai makhluk sosial, masalah kita tentu berkaitan dengan orang lain. Orang lain itu yang seringkali bikin gerah. Namun ada kalanya, ketika emosi menguasai, kita tak sadar pada keberadaan yang lain, yang bersikap tak seharusnya. Misalnya, ketika saya mengenal seseorang yang mengaku kagum pada orang yang beda agama dan hidup damai berdampingan. Atau ia nyaring beropini toleran dan memihak terhadap golongan lain di koran pagi. Ketika berada dalam masalah konkrit, saya temukan ternyata aksi nyatanya justru condong defensif terhadap ide hidup berdampingan antar-golongan, atau bahkan punya ketakutan, lengkap dengan stigma besar dan kasar terhadap golongan lain. Contoh lain adalah ketika saya setuju pada orang tertentu. Kita secara ideal sama-sama menolak menentukan sikap pada manusia berdasarkan jenis kelaminnya. Ternyata ketika masalah nyata melanda, aksi nyatanya bias, semisal, pembebanan tanggungjawab moral dilempar hanya pada laki-laki. Apa itu namanya? Kebohongankah? Atau upaya menghadirkan citra damai nan terbuka di hadapan masyarakat? Apapun, yang pasti, saya pun terlibat di situ. Saya manggut-manggut, atas dasar hormat (bisa juga takut) pada mereka yang bersamanya saya duduk bersama.

Pada beberapa penyelesaian masalah bersama, saya bisa sangat ‘patuh’ terhadap cara yang menyimpang itu. Saya terbawa arus kali. Ya, kita memang pernah membicarakan tentang ide-ide agung, tetapi ketika di hadapan ada masalah, seolah-olah saya diombang-ambing. Mengikuti saja, atau menyangsikan cara penyelesaian masalah yang ganjil itu. Untuk mencapai proses sadar akan keganjilan, tentunya dibutuhkan pikiran yang jernih. Mungkin itu yang sering hilang dari diri saya ketika berhadapan dengan masalah. Pandangan saya buram sehingga tak menyadari ke mana saya dibawa arus. Akibatnya seperti lamunan saya, gerah. Saya jadi menyesal, “Kenapa tak dari saat itu saya kembali pada ide, pada teori, pada prinsip hidup saya?” Masalah sudah berlalu. Saya hanya bisa kipas-kipas karena gerah.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s