FIKSIMINI: Torso


Sudah lama aku curiga pada tetangga kosku. Laki-laki tiga puluhan itu mungkin pencuri. Beberapa kali aku menemukan tas tangan wanita pada kantung plastik hitam di ambang kamarnya. Dia membawanya masuk ketika aku memelototi bungkusan itu. Lalu suatu pagi, ketika aku tak sengaja melirik ke dalam kamarnya, ia sedang mematut sebuah giwang permata di hadapan cermin. Teruntai di tangannya.

Sekarang, aku tak suka menghadapkan wajah ke kiri tiap hendak ke kamar mandi. Takut dikira memata-matai. Pekerjaannya biarlah menjadi urusannya sendiri. Aku masuk kamar mandi tunduk menatap lantai. Ada seseorang di dalam kamar mandi. Keran menyala. Laki-laki itu keluar. Kami berhadapan. Aku tersenyum padanya. Aku masuk. Berbalik menutup pintu. Belum berbalik badan, pintu diketuk. Kubuka pintu lagi.
“Maaf, ada yang ketinggalan.” Laki-laki tetangga menunjuk ke arah gantungan baju. Mataku ikut telunjuknya. Torso menggantung. Laki-laki itu gegas masuk melewatiku. Ia mengambil torso dengan tangan kanan, sementara tangan kirinya meraih sesuatu di tempat sabun yang kosong. Ia mengepalkan tangan kirinya. Menenggelamkan sesuatu yang basah ke dalam kepalan. Ia keluar. Kututup pintu. Melamun sambil buang air kecil.

Sebuah torso milik tetangga kosku. Juga pembalut wanita bekas. Basah seperti baru selesai dicuci.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s