FIKSIMINI: Rumah


Temanku bangga pada rumahnya. Pada kusen dari kayu coklat manis yang semakin tangguh jika tersentuh air. Ia punya kolam ikan di bawah kusen jendela manis itu. Nyamuk tak mau masuk karena di dalam rumah, Papanya meletakkan sebuah mesin berbentuk bola. Mesin itu mengandung sebuah lampu ungu dengan denging dan wangi lavender. Tapi jika aliran listrik mati, mesin itu mati, dan nyamuk-nyamuk yang menyayangi jentiknya di kolam akan masuk ke dalam rumah. Temanku itu sangat bangga hingga sering bercerita tentangnya. Ceritanya mengenai rumah yang asri dan tenang. Keluarganya bahagia dan suka menari bersama di akhir pekan.

Pagi itu, di jidat temanku ada sisa lipstik merah kecoklatan berbentuk bibir. Bibir yang tipis dan lancip. Seperti seseorang habis menciumnya sambil tersenyum, dan bukan memonyongkan bibir.
“Oh. Itu bekas lipstik Mama.” Aku iri padanya. Pada bekas lipstik itu. Sudah lama sejak Mama menciumku. Tanpa lipstik. Dengan suara genangan becek terinjak yang akhirnya menahun di telingaku. Aku melirik temanku. Ceritanya tentang orang tua penuh dengan energi. Tak ada yang lebih indah dari keluarga dan rumahnya. Tentu, karena rumah yang indah, adalan hasil dari keluarga yang bahagia. Aku bersungut-sungut. Sepanjang hari, aku adalah remaja belasan yang suka melamun. Jendela di ruang kelas bentuknya segi empat, tapi hampir tak kukenali apa dibaliknya. Aku terlalu tak sabar. Inginnya aku menggeser pagar rumah temanku. Katanya, ada lonceng biji pala dipasang di pagar. Ketika orang membukanya, ada gemeletuk nyaring yang sangat indah.

Rumahnya, memang indah, bersih, dan wangi. Membuka pintu pagarnya terasa seperti masuk ke dalam hutan pinus yang rapat. Di rumah bergenting rapat, sinar matahari tak sampai menyapa kulitku, tapi kurasakan kehadirannya. Ajaib.

Temanku mengajakku masuk ke dalam kamar.
“Boleh kubuka kaus kakiku?” Tanyaku. Aku tak sabar merasakan pernis kayu entah apa di telapak kaki. Kubuka kaus kaki dan kubayangkan berada dalam perahu. Aku seperti merasakan air di bawah kayu. Keringat di pelipis hilang semenjak datang. Diusir, mungkin, oleh gemericik air dari kolam ikan di bawah jendela. Aku tak mau pulang. Aku tak mau kembali pada kehidupanku. Meski tak mungkin, paling tidak, aku menunggu orang tua temanku datang. Untuk merasakan jadi bagian dari mereka. Keluarga yang jujur, saling mendukung, dan optimistik. Aku menikmati bahkan ketika berada di kamar mandi. Ada pojok tempat batuan sungai mendekam. Ada pula pancuran yang tinggi di atas kepalaku. Pancuran itu tak jauh dari bak rendam warna merah menyala. Kamar mandi itu sangat kering.

Aku hendak kembali ke kamar temanku. Ia menyiapkan sepiring pisang berbentuk kipas yang ditaburi keju. Tapi pintu kamar di samping kamar mandi terbuka sedikit. Sesuatu tertangkap mataku. Membuatku melonjak sedikit. Kepala dan rambut hitam legam. Di atas ranjang besar. Aku terlanjur melewati pjntu itu. Tapi aku berhenti. Aku mundur dua langkah. Seseorang tidur di situ. Kubuka pintu. Tak ada derit. Seorang anak lebih tua dariku tergeletak disangga tulang-tulang yang mengingatkanku pada rerontok ranting. Mulut miring. Menganga. Liurnya keluar, mengalir, lalu diserap handuk kumal yang terselip di kerah baju. Ia tersenyum padaku. Sepertinya. Matanya tak fokus. Tangannya yang bengkok menepis poni di ujung dahi. Tangan itu justru membuat rambutnya bergoyang-goyang. Menutupi mata yang selalu menjelajah. Mata dan alis itu mengingatkanku pada milik temanku di kamar sebelah. Versi tak berpensil, tak pernah dicabuti.

Temanku teriak dari ambang pintu kamarnya.
“Aaah! Kamu ngapain di situ? Kenapa buka pintu itu?” Ia marah. Menyerbu ke arahku.
Ia mendesakku. Menutup pintu dengan hantaman. Memutar kunci yang diombang-ambing gantungan warna perak. Mencabutnya. Ada dentang, mirip piring pecah ketika ia membuang kunci ke dalam guci di depan kamar mandi. Temanku menarik lenganku.
“Kamu nggak pernah lihat dia. Ingat!”
“Siapa itu?”
“Orang gila. Numpang.” Kulihat matanya sedikit berkaca. Ada malu merona di pipinya.

Temanku bangga pada rumahnya. Pada (sebagian besar) isi rumahnya. Aku tak bangga padanya.

Advertisements

One thought on “FIKSIMINI: Rumah

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s