Respon Sahabat: Sebuah Cakap Sebelum Tidur


Pertanyaan yang klise dari Si Manis, Hermei Nabu malam itu sebetulnya melanjutkan kegundahan saya di dua malam sebelumnya.
“Punya sahabat? Sahabat itu harusnya seperti apa?”
Aduh, saya tak tahu harus menjawab apa. Utamanya, karena persahabatan bagi saya, adalah sesuatu yang tak mesti dibicarakan, dijabarkan. Hanya anak kecil yang bilang ‘Mari kita menjadi sahabat’ sebelum melakukan segala sesuatu bersama. Alasan lainnya saya agak lama berpikir adalah, saya mungkin malu. Saya terlalu pesimistik untuk urusan pertemanan. Akhirnya saya jawab pada si penanya,
“Nobody’s perfect, Mei. Saya selalu ragu orang bisa nerima kita apa adanya.” Ya, seperti tulisan saya sebelumnya, saya tak percaya pada kesempurnaan manusia. Saya tak percaya bisa ada orang yang pikiran dan lakunya baik melulu. Dasarnya, saya memang punya banyak pengalaman buruk dalam berteman. Maka berimbas, saya jadi ketakutan menjalin ikatan pertemanan yang pakem. Layaknya grup persahabatan dalam film dengan buku curhat andalan tempat berlabuhnya segala cerita. Namun kemudian, Hermei justru malah menjadikan ketidaksempurnaan manusia itu sebagai semangat untuk menjalin relasi. Dia bilang,
“Kenapa harus ragu? Kan katanya nobody’s perfect. Fleksibel aja. Dia baik, kita akan lebih baik.
Tapi ketika dia ada ‘sesuatu di balik sesuatu’ maaf-maaf saja. Mungkin pembalasan tidak ada, tapi kebaikan…” Dari kalimatnya, jelas ia orang yang sangat optimis. Juga galak. Tapi jadinya, saya justru melihat persahabatan jadi ruwet. Terlalu banyak syarat-syarat tersirat yang harus dipatuhi seorang sahabat. Tindakan jadi serba tertahan dan terjaga. Bagaimana caranya supaya saya menyajikan tingkah terbaik untuk sahabat? Jangan-jangan nantinya, kedirian kita justru kabur… Jangan-jangan kita jadi tenggelam dalam kerumunan masif….

Ditambah lagi, saya harus mengakui bahwa ketidakpercayaan bukan hanya terdapat pada Yang Lain, tapi juga pada kemampuan diri sendiri.
“Saya juga nggak percaya sama diri sendiri, bukan cuma sama orang lain. Kayak ’emangnya saya bisa baik sama dia?’ Gitu lho.” Ujar saya. Memang betul, saya punya pengalaman mengakhiri relasi karena tidak percaya bahwa semuanya akan berjalan sempurna dan konstan. Ketika seseorang bilang ‘saya akan menyayangimu selamanya’, dia sebetulnya telah mengumbar janji yang tak bisa dipegang sungguh-sungguh. Siapa yang tahu ada apa di masa depan sana? Saya mengakui kemampuan diri. Ketika saya menginginkan persahabatan, maka akan diusahakan. Ketika rasa sayang atau percaya sudah hilang, ya hilanglah. Mungkin itu beda saya dengan Mei. Ia terbuka terhadap status sahabat, tapi di sisi lain mempertanyakan dan menentang kejanggalan,
“Terkadang saya juga heran. Orang-orang bilang ini sahabatku, itu sahabatku. Dia baik sekali, sangat baik katanya. Tapi eh, cerita juga dari belakang. Bahkan kadang iri satu sama lain.”
Sedangkan saya, tertutup pada status, tetapi terbuka terhadap dinamika macam itu. Saya bercerita pada orang-orang tertentu tentang rahasia-rahasia dalam hidup, lalu terbuka terhadap respon. Saya tak menentang respon itu karena saya bercerita tanpa intensi muluk.

Malam itu, saya menggenapi refleksi saya tentang persahabatan. Menggenapi berarti memutuskan untuk mengambil sikap tertentu. Mungkin tidak signifikan. Saya mengembalikan kepercayaan pada ide kesempurnaan. Hanya dengan ide itu, saya bisa menghadapi kesempurnaan respon. Sementok-mentoknya imajinasi, mungkin kesempurnaan itu hanya berupa respon ‘Kamu butuh apa? Mau dibantu?’ Atau ‘Saya mendoakanmu’, tapi itulah manusia. Terbatas, namun bisa sangat puas karena kreativitas minimnya. Sikap saya pada segala sesuatu tentang respon sahabat: yang penting diri saya terpuaskan. Dalam versi saya, kesempurnaan respon sahabat hadir dalam sepi. Saya bercerita pada sahabat dengan doa. Setelah saya berdoa, tentulah yang ada sepi. Tuhan tak bicara. Sepi itulah kesempurnaan. Tapi mungkin juga sih, doa dijalin dengan hadirnya teman bercerita yang nyambung. Si manis dari Makassar bilang,
“Sikasik… Tuhan Maha Asyik….”
Memang.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s