Ide Sempurna


image

Saya menemukan kutipan menarik. Setelah membacanya, saya membayangkan betapa sempurnanya ide tentang sahabat; tentang manusia. Di sini, di dunia ini, adakah manusia yang bisa sepenuhnya menerima manusia lainnya, sebagaimana adanya? Saya meragukan itu. Jangankan sahabat, orang yang memiliki ikatan darah dengan kita saja tak terjamin menerima apa adanya. Mari sebut ikatan darah itu sebagai sebuah keluarga. Malah justru, seringkali keluarga menjadi tembok paling tebal dan kokoh sehingga sulit ditembus dalam perkembangan identitas seorang subjek. Keluarga menjadi kekangan, baik di atas tanah, maupun dengan cara yang diam-diam seperti akar dalam tanah. Kita dibuat akrab dengan orang-orang yang hidupnya dianggap gagal di jalanan, karena di rumah ia meradang. Ya, ini tentang kompleksitas manusia, baik secara fisik maupun non-fisik. Contohkan saja, keluarga mana yang berterima dengan legowo ketika tahu anaknya, misalnya, menderita bipolar, hiperseks, atau seorang masokis. ‘Keunikan’ macam itu hanya sebagian dari rumitnya insan manusia. Belum lagi permasalahan ideologis seperti pilihan agama, politik, gaya hidup, atau pasangan hidup. Keluarga, tentunya, adalah lingkaran garis paling depan yang merespon. Dengan keras, atau lembut. Atau lembut di permukaan, tetapi ternyata menyembunyikan caci maki.

Menerima secara lapang dada eksistensi seseorang toh tak hanya terkait kompleksitas diri manusia. Ada juga kepentingan yang memercikkan konflik. Belum lagi nilai yang oleh masyarakat disepakati bersama. Dan keluarga, saya harus bilang, adalah pula konstruksi masyarakat. Siapa keluarga itu? Ibu? Bapak? Bagi saya, sama saja. Daftar pekerjaan dan cara membawa diri kedua orang itu, sudah saya bilang sebelumnya, adalah konstruksi masyarakat. Ketika satu peran tak bisa hadir, sebetulnya yang lain bisa melengkapi. Sebetulnya. Namun dalam masyarakat, seringkali dibuat tak bisa. Bapak, dalam konstruksi yang telah dibangun itu, adalah puncak kegelisahan anak. Bapak menjadi sosok penentu gerak bersama dalam konteks baik ruang maupun waktu. Jujur saja, saya tidak sejalan dengan itu. Bukan karena konsep itu tak bisa saya temukan dalam bapak-bapak yang saya temui, juga bukan karena sudah sedemikian modernnya keluarga kami sehingga siapapun bisa menjadi “bapak” (meskipun dalam pengalaman, yang primordial selalu melekat di tiap perkembangan zaman). Saya tidak sejalan karena sejak dini saya suka berkhayal. Setiap sosok riil dibayangkan memiliki kesempurnaan yang tidak dimiliki manusia. Sama seperti logika Tuhan ciptaan manusia. Ketika manusia menemukan ketaksempurnaan, mereka lalu berpikir, adakah yang lebih sempurna? Adakah yang paling sempurna? Ya, sayangnya, itu khayalan kanak. Khayalan yang tumbuh dengan baik dalam masyarakat. Adakah masyarakat kita berorientasi kanak alias tak kenal kedewasaan? Terlalu ekstrem.

Kutipan dalam gambar di atas membawa kita ke dunia ide tentang kesempurnaan universal. Harusnya, sahabat adalah rekan penjunjung solidaritas nomor wahid. Harusnya, keluarga lebih dari itu, karena mereka punya kemelekatan darah. Tapi senyata-nyatanya tidak bisa. Yang bisa membuatnya terjadi adalah masyarakat. Kesempurnaan hanya bisa terjadi dalam cita-cita masyarakat. Bapak sempurna pergi ke kantor. Ibu sempurna merawat anak dengan baik. Keluarga sempurna pergi bersama di akhir pekan. Terlalu ekstrem.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s